Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kekayaan Spiritual

Kekayaan Spiritual
Kekayaan Spiritual. (Ilustrasi: NUO).
Kekayaan Spiritual. (Ilustrasi: NUO).

Manusia yang berakal sehat dan melakukan pemikiran serta penalaran terhadap berbagai peristiwa alam, memperhatikan bintang-bintang di langit, matahari dan rembulannya yang berjalan pada garis edarnya masing-masing, bumi yang menyenangkan sebagai tempat tinggal, pasti akan memperkaya dirinya dengan banyak bersyukur kehadirat penciptanya.


هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولٗا فَٱمۡشُواْ فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ


“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (Q.S. Al-Mulk, 67: 15).


Bumi yang kita tempati, yang terpelihara dengan kokoh dan perseimbangan yang maksimal, gunung-gunung, air dengan berbagai rasanya, ada air tawar yang menyejukkan, air yang payau dan air yang asin. Semua benda-benda alam disekeliling kita berjalan dengan keseimbangan yang mantap. Keseimbangannya begitu sempurna, semuanya berjalan dengan sunnatullah.


Sekiranya peredaraan itu mengalami sedikit saja kegoncangan, kepincangan atau ketimpangan pasti akan memporakporandakan benda-benda alam dan mengakibatkan kehancuran yang amat dahsyat. Bila manusia memperhatikan segala peristiwa alam yang sangat harmonis itu pastilah iman dan keyakinannya akan bertambah kuat kepada Allah SWT.


Suasana peredaran dan perubahan alam semesta yang sangat seimbang dan harmonis, digambarkan dalam al-Qur’an:


أَمَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَنۢبَتۡنَا بِهِۦ حَدَآئِقَ ذَاتَ بَهۡجَةٖ مَّا كَانَ لَكُمۡ أَن تُنۢبِتُواْ شَجَرَهَآۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ يَعۡدِلُونَ


“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran)”. (Q.S. Al-Naml, 27: 60).


Setiap makhluk yang berakal, bila memikirkan berbagai keadaan sebagaimana disebutkan di atas, pasti akan meyakini kekuasaan Allah SWT yang Maha Esa dan Maha Pencipta. Dengan demikian ia akan memperoleh petunjuk ke jalan yang benar, imannya semakin kokoh dengan penuh kesungguhan. Allah s.w.t. menjadikan bumi sebagai tempat yang paling cocok bagi kehidupan manusia dan makhluk lain, menjadikan sungai-sungai yang mengalir yang airnya sangat bermanfaat. Menciptakan gunung-gunung dan hutan yang menjaga keseimbangan alam semesta, demikian juga berbagai peristiwa alam yang sangat menakjubkan.


Lanjutan dari ayat di atas, memberikan gambaran betapa indah dan sempurna ciptaan Allah SWT yang bisa kita lihat pada kehidupan dan fenomena alam semesta dengan segala isinya.


أَمَّن جَعَلَ ٱلۡأَرۡضَ قَرَارٗا وَجَعَلَ خِلَٰلَهَآ أَنۡهَٰرٗا وَجَعَلَ لَهَا رَوَٰسِيَ وَجَعَلَ بَيۡنَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ حَاجِزًاۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ


“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui”. (Q.S. Al-Naml, 27: 61).


Bila manusia telah memperoleh petunjuk ke jalan yang lurus, beriman dengan keyakinan yang kokoh serta beribadah secara sungguh-sungguh, baik ibadah khusus maupun ibadah yang bersifat umum, maka ia akan bersyukur terhadap segala karunia dan nikmat Allah yang diberikan kepada semua makhluk-Nya. Pemberi nikmat yang agung itu, telah menunjuki manusia pada dua jalan yang bersifat antogonis, jalan yang baik yang diridhai dan jalan buruk yang dimurkai. Insan yang beriman diberi tugas oleh-Nya agar mengarahkan umat manusia meniti jalan yang baik yang diridhai itu serta menghindari jalan yang buruk.


وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ


“...dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (Q.S. Al-Taghabun, 64: 11).


Mereka yang beriman dan beramal saleh, memiliki kekayaan moral dan spritual juga kekayaan lahir dan batin. Kekayaan moral dan spritual jauh lebih berharga dari kekayaan duniawi yang bersifat fana dan nisbi. Sebaliknya kekayaan moral dan spritual akan bersifat kekal dan abadi. Sesungguhnya kekayaan spritual yang paling tinggi adalah beriman kepada Allah dengan keyakinan yang teguh dan beramal saleh dalam segala aspek kehidupan.


مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ


“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S. Al-Nahl, 16: 97).


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×