Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Karakteristik Moral Islam

Karakteristik Moral Islam
Karakteristik Moral Islam. (Foto: NU Online).
Karakteristik Moral Islam. (Foto: NU Online).

Salah satu karakteristik dalam Islam adalah persesuaian denga fitrah manusia yang bersifat alami. Moral yang diajarkan Islam sesuai dengan tabiat manusia serta penyempurnaannya. Tidak bertentangan dengan kecenderungan fitrah insani yang diberikan Allah pada manusia, yaitu semua merupakan suatu kenyataan yang harus diterima apa adanya, karena itu tidak mungkin dihilangkan atau dimatikan.


Dalam kaitan ini, Islam mengakui eksistensi manusia sesuai dengan kodrat dan irodatnya yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT, dengan segala potensi yang dimilikinya. Ajaran Islam mengarahkan umat manusia untuk menghaluskan budi pekertinya dan memuliakan akhlaknya.


Berdasarkan karakteristik di atas, syariat Islam memperbolehkan kepada manusia untuk menikmati kemewahan dan kenikmatan rezki, baik berupa makanan, perhiasaan, kedudukan, pemilikan pribadi dan sebagainya. Namun demikian syariat yang sempurna itu mengarahkan kecenderungan manusia kepada kenikmatan dan karunia yang diridlai Allah SWT. Karenanya Islam tidak lagi memandang suatu instink atau naluri jika kecenderungan-kecenderungan itu merusak bagi dirinya maupun bagi masyarakat. Berbagai macam hal yang diperbolehkan dalam kehidupan ini diatur secara lengkap dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Siapa saja yang mengikuti moral Islam, akan meraih kesuksesan. Sebaliknya siapa saja yang menentang kebenaran, berarti telah melenceng dari tuntunan ajaran Islam.


Mengenai diperbolehkannya manusia memakai pakaian dan perhiasan yang indah serta perlengkapan lain yang menyenangkan, disebutkan dalam al-Qur’an:


۞يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ 


“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (Q.S. Al-A’raf, 7:31).


Al-Qur’an selanjutnya melarang keras terhadap mereka yang mengharamkan perhiasan dan barang-barang yang baik sebagai rezki bagi manusia.


قُلۡ مَنۡ حَرَّمَ زِينَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِيٓ أَخۡرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّيِّبَٰتِ مِنَ ٱلرِّزۡقِۚ قُلۡ هِيَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا خَالِصَةٗ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ 


“Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat." Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui”. (Q.S. Al-A’raf, 7:32).


Sebagai salah satu contoh bahwa moral Islam sangat bersifat fitri dan alami dapat kita lihat dari tuntunan berikut ini. Islam mengajarkan umatnya agar memakan makanan yang halal dan baik, memerintahkan agar orang berkeluarga dengan jalan pernikahan dan mencela orang yang membujang atau tidak berkeluarga. Kehidupan dunia merupakan bagian dari perhiasan dan kesenangan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang salehah. Untuk memenuhi hal itu, maka usaha mencari nafkah untuk menghidupi keluarga dan sebagai bekal untuk beribadah merupakan bentuk dan manisfestasi dari jihad fi sabilillah.


Segala yang diperbolehkan Islam pada dasarnya adalah demi menjaga tabiat dan martabat manusia. Semuanya diletakkan dalam konsep aturan serta balasan yang bersikap netral dan moderat. Karena sikap berlebih-lebihan dan ekstrim akan menjurus pada perangai dan perbuatan yang tercela.


Ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh moral Islami yang sesuai dengan fitrah manusia dan bersifat alami akan mengarahkan para pelakunya menuju kebahagiaan lahir batin, dan kesuksesan yang sangat gemilang pada masa kini dan masa yang akan mendatang.


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×