• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Kamis, 30 Mei 2024

Ngalogat

Haji itu Wukuf di Arafah (10)

Haji itu Wukuf di Arafah (10)
Haji itu Wukuf di Arafah (10)
Haji itu Wukuf di Arafah (10)

Allah swt memberikan penghargaan kepada hamba-Nya yang taqwa, tulus ikhlas mencari air untuk puteranya, Ismail hingga bolak-balik dari Shafa ke Marwah, dan bekas pijakan kakinya (tapak) perjalanan seorang Ibu itu Allah abadikan dalam 'manasik haji', Sa'i antara Shafa dan Marwah, rukun haji yang ketiga.


Berdirinya Kota Mekah


Mekkah biasa disebut juga dengan Lembah Bekka, yang dalam Alquran, "ببكة مباركا،" Mekah atau bakka berarti menangis, tangisan seorang bayi yang butuh makanan, minuman, dan air susu ibu, tangisan Ismail bayi. Saat itu Mekah hanya dihuni oleh St.Hajar dan Ismail puteranya. Mekkah sering dilewati para pedagang dari Yaman menuju Palestina (Syam) atau sebaliknya. Karena telah ada sumber air, maka para pedagang tersebut sering istirahat di sana sambil minta ijin kepada pemilik air zamzam, St. Sarah dan Ismail untuk keperluan mereka. Setiap yang lewat saling memberi kabar tentang adanya air dimaksud, yang akhirnya sambil istirahat, mereka menjajakkan dagangannya. Jadilah kampung yang ramai dikunjungi, yang akhirnya Mekkah menjadi kota perdagangan.


Nabi Ibrahim as. sering menanyakan kondisi isteri dan puteranya kepada para pedagang yang lewat di kota Mekah, dan kabar keberadaan Ismail dan Hajar, serta kondisi kota Mekah sampailah kepada beliau. St.Hajar dan Ismail menghabiskan hari-harinya di Padang Arafah sambil menggembalakan ternaknya. Dan kabar ini pula telah sampai kepada nabi Ibrahim as. Saat itu usia Ismail menginjak antara 6-7 tahun, sementara beliau belum pernah menemuinya, karena mungkin belum ada tugas dari Allaah swt.


Berangkatlah Nabi Ibrahim as ke Mekah untuk menemui putera dan isterinya. Dari Mekah menuju Mina  dan dari Mina lewat Muzdalifah menuju Arafah, namun beliau kemalaman di Muzdalifah. Di sana beliau tidur sampai bermimpi "Menyembelih" putera kesayangannya. Dalam tidur itu beliau mimpi yang sama sampai 3(tiga) kali. Beliau merasa tidak yakin bahwa mimpi itu adalah wahyu dari Allah, khawatir kalau itu datang dari syetan, maka untuk memastikan kebenaran impiannya up, sebelum menemui putera dan isterinya, beliau munajat, taqarrub (mendekatkan diri) kepada Sang Pencipta, mohon petunjuk tentang mimpinya, berdiam diri (Wukuf) dengan penuh khusyu dan tawadlu, dari mulai tergelincir matahari (waktu dzhuhur hingga terbenam matahari). Akhirnya beliau mengenal, mengetahui ('arafa) bahwa impian itu adalah wahyu dari Allah, dan  di Arafah tersebut beliau ma'rifat kepada Allah.


Antara impian dan kejadian yang sesungguhnya itulah hal yang sangat mengganggu pikiran dan perasaan, menanti sebuah keputusan yang sesungguhnya terkadang membuat resah dan gundah. Bagi seorang Rasul tugas seberat apapun asalkan datang dari Sang Rabb pasti dilaksanakan karena Rasul tahu bahwa Allaah swt tidak semata-mata memberi tugas kecuali besar sekali manfaatnya, dan tidak mungkin memberikan tugas yang akan merugikan. Maka WUKUF di 'ARAFAH menghasilkan sebuah kepastian yang mesti dilaksanakan. Di sanalah beliau berkomunikasi dengan Sang Penguasa melibatkan segala daya, tenaga, pikiran dan perasaan guna mendapatkan rahmat-Nya sebagai petunjuk yang pasti.


Impian beliau tersebut sebagaimana Allaah firmankan :


"فلما بلع معه السعي قال يا بني اني ارى فى المنام اني اذبحك فانظر ما ذا ترى. قال يا ابت افعل ما تؤمر ستجدني ان شاء الله من الصا برين"


"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya (Ibrahim) berkata :'Wahai anakku sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?'. Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku lakukanlah apa yang diperintahkan (Allaah) kepadamu, insya Allaah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar". (Bersambung).


H Awan Sanusi, salah seorang A'wan PWNU Jawa Barat


Ngalogat Terbaru