Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Haji itu Wukuf di Arafah (6)

Haji itu Wukuf di Arafah (6)
Al Hajju Al 'Arafah, Haji itu Wukuf di Arafah (6)
Al Hajju Al 'Arafah, Haji itu Wukuf di Arafah (6)

Hujaj Tamu Allaah

Para Hujaj (jemaah haji) adalah tamu spesial undangan Allaah swt. Seyogianya kewajiban tamu adalah menghormati, menaati, dan patuh terhadap ketentuan yang telah ditetapkan oleh pihak pengundang (pribumi). "Al dhaif kalmayyit", tamu laksana mayyit, artinya bahwa tamu harus pasrah diri kepada pribumi.


Dalam budaya Sunda ada ungkapan sebagai ketentuan yang harus dijalani oleh tamu, yaitu "Tata Titi Duduga Peryoga,” Tata berasal dari kata 'Tataman' atau semut. Karakter semut biasanya jika bertemu dengan temannya saling menyapa, kadang seolah bersalaman. Demikian pula kewajiban seorang tamu harus ramah, someah (Sunda), tidak menunjukkan sikap angkuh, acuh, atau tak beretika, sebab bagaimanapun tingginya kedudukan seseorang di kampungnya belum tentu sama kedudukannya jika berada di tempat orang. Tegur sapa dengan sesama, saling mendo'akan, baca salam, bersalaman, dan sebagainya.


Titi berasal dari kata "Titinggi", hewan kaki seribu, yang memiliki karakter jika berjalan semua kakinya tidak pernah ada yang diangkat, walaupun seribu kaki, kondisi jalan bagaimanapun tetap akan diinjak oleh semua kakinya. Ini berarti bahwa seorang tamu tidak pilih kasih, tidak memilah-milah; mana yang derajatnya tinggi dan mana yang rendah.


Semua dia ayomi, semua dihormati tanpa membeda-bedakan status sosial.


"Duduga" adalah Haphap, sejenis hewan yang hidupnya menumpang di pohon-pohon besar; badannya lebih besar dari cecak, lebih kecil dari toke, kadal, namun memiliki kulit yang bisa melebar ketika terbang seolah sayap. Tabiat dari hewan ini adalah walaupun tempat atau pohon yang mau ia tinggalkan atau yang akan disinggahi berupa pohon besar, tapi tetap menghentak-hentakkan, menggoyang-goyangkan pohon tadi dengan kakinya. Ini berarti bahwa seseorang jika mau meninggalkan suatu tempat pindah ke tempat lain, maka perlu menduga, mengestimasi, memperkirakan; apakah tempat yang akan ditinggalkan atau didatangi tidak akan dirugikan dengan kepergian atau kedatangannya, sehingga ia merasa nyaman, terbebas dari tudingan negatif dan lainnya.

"Peryoga" adalah kerbau, hewan besar yang bertabiat tunduk pada siapa pun yang menuntunnya sekalipun anak kecil. Kemana mau yang menuntun dia akan mengikuti. Ini berarti bahwa seorang tamu harus taat, tunduk, setia pada siapa pun yang menjadi pribumi.


Insya allaah jika keempat tabiat atau karakter tersebut dimiliki oleh tamu, dia akan menjadi tamu terhormat, beretika.


Jemaah haji adalah undangan Allaah, dan Allaah telah menetapkan sejumlah ketentuan ibadah haji; baik rukun, wajib, maupun sunnatnya. Sejumlah kewajiban harus ditaati dan dilaksanakan, serta sejumlah larangan harus dijauhi dan dihindarkan agar Allaah senang melihat hamba-Nya yang taat dengan tulus ikhlas menjalankan ketentuannya atas dasar iman (taqwa), sehingga rahmat-Nya yang kita butuhkan akan dilimpahkan-Nya; haji mabrur, umrah mabrurah, sorga akan jadi tempat peristirahatannya yang terindah jika kelak mati dalam husnul khaatimah.


(Bersambung)

H Awan Sanusi, salah seorang A'wan PWNU Jawa Barat

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×