Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Haji itu Wukuf di Arafah (9)

Haji itu Wukuf di Arafah (9)
Haji itu Wukuf di Arafah (9). (Foto ilustrasi: NUO).
Haji itu Wukuf di Arafah (9). (Foto ilustrasi: NUO).

Nabi Ibrahim semakin tua, begitu pula isterinya, Sarah, kecil kemungkinan untuk punya anak karena telah tua juga. Karena Siti Sarah tidak bisa memberikan keturunan, akhirnya dengan legawa beliau menawarkan solusi kepada suaminya untuk menikahi Hajar. 


"...Suamiku, nikahilah Hajar karena dia wanita baik!". Kemudian Hajar dinikahinya, tak lama kemudian mengandung dan lahirlah seorang putera, Ismail.


Skenario Allah sangat luar biasa, seolah-olah Sarah akan cemburu terhadap Hajar dikarenakan dia sudah lama berumah tangga tidak dikaruniai anak, sementara Hajar yang baru dinikahinya telah mampu memberikan keturunan. Akhirnya Allah memerintahkan Nabi Ibrahim as. untuk mengasingkan isteri dan puteranya ke sebuah lembah yang tidak ada tetumbuhan sama sekali, jaraknya dari Syam ribuan KM, Kota Mekah yang sekarang, tertuang dalam do'anya sebagaiman firman Allah dalam surat Ibrahiim :


"ربنا اني اسكنت من ذريتي بواد غير ذي زرع عند بيتك المحرم ربنا ليقيمواالصلاة فاجعل افءدة من الناس تهوي اليهم وارزقهم من الثمران لعلهم يشكرون".


"Ya Allaah sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullaah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur".


Dengan bekal secukupnya, Nabi Ibrahim berangkat dari Syam menuju Mekah, dan sesampainya di sana, Siti Sarah dan Ismail disimpannya di antara bebatuan di lembah tersebut, tidak banyak bicara, beliau kembali lagi ke Syam. Alangkah terkejutnya St.Sarah ditinggal begitu saja di tempat asing tak berpenghuni, lalu dia bertanya kepada suaminya, "Suamiku, apakah kami disimpan di tempat ini adalah perintah Allah?". "Ya perintah Allah", jawab Nabi Ibrahim. "Ya kalau itu perintah-Nya, Allah pasti akan memperhatikan kami", jawab Hajar.


Baru beberapa hari perbekalan mulai berkurang, air pun mulai habis, sementara Ismail mulai kekurangan air susu ibu, nangis terus menerus. Melihat kondisi tersebut, sebagai seorang ibu yang penuh kasih sayang, segeralah mencari air, beliau pergi naik ke bukit Shafa sambil berteriak minta bantuan, ternyata tak seorang pun mendengar beliau, kemudian berjalan menuju bukit Marwah yang jaraknya lebih kurang 450 meter, ternyata tidak ada jawaban, balik lagi ke Shafa.


Empat kali berjalan dari Shafa menuju Marwah, tiga kali dari Marwah ke Shafa, berarti tujuh kali bejalan antara Shafa dan Marwah, lebih kurang 3.150 Meter, atau 3 KM lebih. Setengah putus asa, beliau kembali menemui puteranya yang lagi nangis. Namun sungguh tak terduga, di bawah hentakan kaki Ismail yang lagi menangis, keluarlah mata air, di sana tanpa terlihat Hajar, Malaikat Jibril berkata-kata :"Zam zam, Zamzam...! Kumpulah, kumpulah, jadilah air bersatu, sampai saat ini air tersebut dinamai Zam Zam. 


Betapa hebat khasiat air zamzam, berapa waktu Siti Hajar bersama Ismail tidak makan sebelum ada orang luar datang di sana, yang diminum hanyalah air Zamzam, mereka mampu bertahan hidup sampai beberapa waktu. (Bersambung)


H Awan Sanusi, salah seorang A'wan PWNU Jawa Barat

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×