Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Hujan Tak Biasa di Tanah Cijawura 

Hujan Tak Biasa di Tanah Cijawura 
Hujan Tak Biasa di Tanah Cijawura. (Ilustrasi/Nasihin).
Hujan Tak Biasa di Tanah Cijawura. (Ilustrasi/Nasihin).

Waktu merangkak menuju siang, sinar matahari sesekali redup terhalang awan, kadang tenggelam di ubun-ubun dan muncul di sela rimbunnya pohon.


Orang-orang berjalan menembus debu jalan, menyibak siang menjelang adzan, khutbah mengalir merdu menidurkan hati yang lalai.
Hari itu hari Jumat.


Lantunan adzan berkumandang menembus ruang dan tembok, menyelinap di sela bilik-bilik rumah,  kemudian terbang ke langit-langit kubah. 

 

Takbir berkumandang bersahutan, wajah-wajah terlihat gembira, hati larut dalam rupa penghambaan, hari itu takdir sedang merapatkan diri dengan barisan.

 

Di ujung jalan, orang-orang berseragam serdadu mengacungkan maut, debu membubung berbau mesiu terbakar, dentuman bersatu dengan berondongan peluru, menyasar deretan kekhusyukan.

 

Siang itu hujan turun, hujan yang menghancurkan tembok keheningan, hujan yang memutus antara mata terkatup. Hujan yang mengantarkan hamba dan Penciptanya. 

 

Hari itu, turun hujan yang tak biasa, hujan peluru dan rentetan mortir, ratusan moncong senapan memuntahkan besi-besi panas, menembus jiwa yang mencintai tanah airnya. 

 

Sabilillah, gugur satu persatu dalam pangkuan doa-doa para Malaikat, terbang ke gerbang tertinggi dan taman warna-warni.

 

Bumiku berkalang terkapar, bumiku Cijawura. 

 

Matahari menggelinding ke barat, orang-orang berkata:

"Kita meninggal di tanah yang kita cintai, tanah yang penuh doa, tanah para pejuang."

 

Nasihin, Lesbumi PWNU Jawa Barat

 

Mengenang Para Pejuang Kemerdekaan, 
Kisah Jumat, 29 September 1946 di Pesantren Cijawura.

Terkait

Kuluwung Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×