• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 5 Maret 2024

Kuluwung

Membaca

Membaca
Membaca. (Ilustrasi: NUO).
Membaca. (Ilustrasi: NUO).

Di atas kusen jendela, berjejer kitab-kitab. Di beberapa jendela lainnya tersimpan di pucuk tumpukan kertas-kertas itu kitab suci yang sampulnya sudah lepas. Di madrasah ini, sebagaimana kalimat masyhur ‘buku adalah jendela dunia’, jendela menjadi rak buku. Ketika kau menatap jendela, secara literal, kau bisa melihat dunia di luar madrasah, lalu lalang santri, asrama-asrama, sekolah juga pohon palem. Kau pun bisa melihat tumpukan kertas-kertas itu, jendela secara kiasan, di mana pikiran-pikiran manusia, tafsir-tafsir mereka atas ayat-ayat kauniyah dan kauliyah, pandangan-pandangan mereka atas realitas, dipadatkan pada huruf-huruf yang diguratkan pada kertas-kertas itu, yang melukis sebuah lanskap lain.


Kita memiliki tradisi panjang dan lama dengan kertas-kertas itu, jauh dari itu dengan huruf-huruf, dengan kalimat-kalimat, dengan pikiran. Roberto Bolaño sastrawan masyhur Amerika Latin pernah berkata dalam salah-satu interview-nya, bahwa dalam beberapa cara, akhirnya kita terikat pada buku. Perpustakaan adalah bentuk lain dari sebuah kemurahan hati. Informasi, pengetahuan, dan kebijaksanaan di-diseminasi-kan melalui buku-buku, pun juga kemudian melalui medium-medium lain.


Bahkan dalam tradisi pesantren, buku-buku itu kita baca, kita maknai per-kata. Dari satu kata atau kalimat, dibedah secara detail ditambah dengan cerita-cerita yang terkait, ditafsir dari asal kata, gramatika, morfologi, dan juga kondisi historis ketika kata itu muncul. Tradisi pesantren mempunyai metode membaca yang cukup detail. 


Demikian pula dunia, kita bisa membacanya melalui jendela atau buku yang bertumpuk di jendela itu. Kita bisa membaca ayat-ayat kauliyah, yang berjejer di rak buku. Atau pun kita bisa membaca ayat-ayat kauniyah yang tersebar seperti belantara, di antara benih cabai atau benih bawang, di antara senyuman dan kemarahan, di antara kerumunan orang-orang atau pun gerak awan atau planet, tentunya ilmu itu terhampar nyaris di mana-mana. Ada beribu-ribu pintu masuk yang menawarkan ruangan-ruangan penuh dengan gerak dan pola yang bisa kita baca, yang bisa kita hirup untuk menjadi pengalaman dan makna. Bukankah pengalaman dan makna, pada kondisi tertentu, jauh lebih berharga dari banyak hal.


Tentunya kita sudah mengerti betapa pentingnya peran membaca di sini. Roberto Bolaño bahkan mengatakan bahwa membaca selalu lebih berarti daripada menulis. Bahkan, kita pun mengerti bahwa ayat pertama yang turun dalam kitab suci umat Islam adalah perintah untuk membaca. 


Namun sejarah telah membawa kita pada satu era di mana informasi mengalir begitu deras, menjadi banjir, yang menggenangi kesadaran kita dengan penuh informasi. Menuntut kita untuk membaca dan mengkonsumsi lebih banyak informasi. Setelah penemuan mesin cetak oleh Guttenberg di abad ke 15 kita mengalami revolusi lain dalam teknologi informasi, ya internet, dan internet telah membawa kita lebih jauh pada sebuah sejarah yang kita kenal dengan nama era informasi.


Era informasi ini telah membawa kita pada cara membaca yang lain. Kita perlahan-lahan mulai meninggalkan kertas dan beralih pada layar digital. Nicholas Carr penulis buku The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains mengatakan bahwa arus utama informasi internet mendorong pengumpulan informasi yang sangat cepat dan yang mana itu membentuk kebiasaan baru kita dalam membaca. Secara umum kita hanya membaca sekilas dan memindai informasi hanya untuk mendapatkan poin intinya dengan cepat. Internet memiliki sistem hypertext, yang berarti menempatkan banyak link dalam sebuah teks. Tautan-tautan itu memudahkan para penggunanya untuk berpindah dengan sangat cepat antara satu informasi ke informasi lainnya. Selain itu internet adalah teknologi multimedia termutakhir yang begitu kuat. Para penggunanya bisa mendapatkan informasi tidak hanya dalam satu bentuk tetapi dalam berbagai macam bentuk sekaligus, seperti teks, suara, animasi atau video.


Internet dan sistem ekonomi yang melingkupinya merubah cara membaca kita. Banyaknya tautan dalam satu layar dan berbagai aplikasi yang berjalan secara berbarengan, notifikasi yang berdering-dering, papan-papan iklan yang tiba-tiba muncul, menghadirkan distraksi-distraksi yang memecah belah konsentrasi dan atensi kita. Sedang membaca mensyaratkan perlunya atensi dan konsentrasi yang besar, dari pemaknaan kata, refleksi, kontemplasi hingga pembacaan mendalam. Ada riset yang menunjukan bahwa rata-rata kemampuan manusia untuk fokus semakin tahun semakin menurun. Rentang fokus rata-rata manusia di tahun 2000 ada di sekitar angka 12 detik sedang di tahun 2015 tinggal hanya menjadi 8.25 detik.


Internet telah mendorong adanya pembelahan atensi dan konsentrasi, internet pun menggoyang keseimbangan berpikir kita lewat bombardir informasi yang secara konstan. Segala keuntungan dan kemudahan yang dihadirkan internet tentunya mempunyai ongkos yang harus dibayar. Ada riset yang menunjukan bahwa kita berperilaku dengan cara yang kacau secara mental saat kita dalam-jaringan. Ketika kita menelusuri halaman web, kebanyakan orang melihat halaman selama 10 detik atau kurang, lalu klik ke halaman berikutnya. Pun ada tes pelacakan mata tentang bagaimana orang membaca dalam-jaringan, dan kecenderungannya adalah membaca sepintas. Ya, itulah ongkos yang harus dibayar, ketika kita mendapatkan berondongan interupsi dan gangguan yang konstan itu, ada ongkos kognitif yang harus dibayar ketika perhatian kita terbagi secara konstan dalam multi-tasking terus menerus. Ketika kita tidak memiliki atensi yang penuh, kita kehilangan manfaat kognitif yang menyertainya, seperti kemampuan untuk membentuk ingatan jangka panjang atau untuk menenun informasi ke dalam pemikiran konseptual tingkat tinggi, refleksi, kontemplasi dan juga pembacaan mendalam. Kita pun kehilangan kemampuan untuk membedakan mana informasi penting dan mana yang hanya sepele atau kurang penting. Kita hanya tertarik pada informasi baru, entah itu penting atau tidak penting.


Keseruan untuk mulai membayangkan utopia masa depan dengan internet mungkin akan membutakan kita untuk tanggung jawab terhadap apa yang telah kita lakukan, apa yang telah kita bangun, apa yang telah kita capai. Kita lebih sering bertanya ke mana kita akan melangkah, namun luput untuk menanyakan di mana kah sekarang kita berada. Implikasi internet terhadap penurunan kemampuan kita untuk mengolah dan mencerna informasi mengantarkan kita pada satu pulau besar bernama kebingungan. Kita hampir selalu bingung di hadapan berbagai macam pilihan, di hadapan banjir informasi.


Kondisi tersebut mengangkat kaki kita melayang dari bumi yang kita pijak, bahkan dari tubuh yang melekat pada kita. Membawa jauh bagaimana kita melihat dunia dan bagaimana kita menjalaninya. Kekayaan informasi yang kita punya mengingatkan kita bahwa setiap kali teknologi baru datang, dan teknologi itu begitu kuat dan tersebar, itu akan mengubah cara orang berperilaku. Tapi kita pun tahu bahwa teknologi selalu netral, namun kita mungkin sering lupa untuk melihat bahwa teknologi itu dapat dikendalikan dan dibentuk kembali, mungkin oleh pemerintah atau oleh perusahaan, dan kita sering absen untuk mencoba membentuk-ulangnya, setidaknya yang dapat melayani kepentingan terbaik kita dalam jangka panjang.


Makin hari orang-orang akan membentuknya sesuai dengan kepentingan mereka sendiri, bisa demi memaksimalkan keuntungan ataupun tujuan politik. Pun bila kita ingin teknologi ini cocok dan memberikan pelayanan terbaik untuk kita, maka kita pun tentunya perlu aktif melawan dan mencoba membentuknya seperti apa yang kita butuhkan.


Di madrasah-madrasah, santri-santri masih duduk sila, menunduk membaca perlahan-lahan kitab di hadapannya. Memaknainya kata per-kata, mengolah dan mencernanya pelan-pelan, dengan penjelasan-penjelasan dan cerita-cerita. Aktivitas tersebut mungkin juga adalah sebuah statement, bahwa tubuh kita tidak ingin candu pada dopamin receh, yang meminta untuk terus menerus di berikan umpan, disumpal dan dijejali. Mungkin juga sebuah statement bahwa menyerap informasi tidak perlu sebanyak mungkin sebisa kita, sehingga kita hanya berhenti ketika selesai membaca judul headline, lalu beralih pada judul-judul lainnya, lalu beralih pada halaman dan tab berikutnya, tanpa sempat menyelami kedalamannya, merasakan intensitas ekspresi dan pemikiran yang tertuang dalam teks-teks tersebut. Mungkin juga sebuah statement bahwa kita bisa berupaya untuk membentuk-ulang teknologi dan menyesuaikannya dengan kepentingan terbaik kita untuk jangka yang lebih panjang. 


Diwan Masnawi, Pengurus Lesbumi PWNU, peminat studi filsafat


Kuluwung Terbaru