Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Haji itu Wukuf di Arafah (13)

Haji itu Wukuf di Arafah (13)
Haji itu Wukuf di Arafah (13) (Foto: umrahnews.com)
Haji itu Wukuf di Arafah (13) (Foto: umrahnews.com)

Manasik Haji


Manasik Haji terdiri dari 3(tiga) bagian, yaitu : Rukun Haji, Wajib Haji, dan Sunnat Haji.


Rukun haji terdiri atas : Ihram/Niat, Wukuf di Arafah, Thawaf Ifadhah, Sai antara Shafa dan Marwah, dan Tahallul.


Ihram/Niat adalah gambaran bahwa kekuasaan, keagungan, kemuliaan hanyalah milik Allaah. Manusia lahir dari rahim tidak bawa apa-apa, dan saat kembali ke alam baka hanya kain kafan yang dibawa, dan ini gambaran betapa fakirnya manusia. Jika tidak membawa amal shalih sungguh nestapa. Tidak ada perbedaan status sosial di hadapan Allaah, warna kulit, gen, dan sebagainya, hanya ketaqwaan yang membedakan manusia menjadi mulia di hadapan-Nya.

Kain putih gambaran dari ketulusan hati dan bersih jiwa. Bersih dari sifat-sifat : kekufuran, kemusyrikan, kemunafikan dan fasik, angkuh (takabbur), riya, bebas, bersih dari pengaruh nafsu angkara murka, usahakan yang tersisa hanya nafsu muthma'innah. Cinta tulus nan suci terhadap Sang Pembuat cinta akan menjadi motivasi bersuci di tanah suci lewat haji dalam langkah menuju maqam suci (sorga).

Niat yang tulus semata-mata penghambaan diri terhadap Sang Pencipta (lillaahi ta'aalaa), karena memang kita butuh rahmat-Nya. Niat akan menjadi pendorong bagi suksesnya suatu amal.


Wukuf di Arafah adalah inti Ibadah haji. Tanpa wukuf di Arafah maka hajinya tidak sah, "Al hajju al'arafah". Seluruh ujian yang dijalani Nabi Ibrahim as, puncak ekskusinya adalah penyembelihan Ismail, namun keputusan yang pasti tentang kebenaran perintah pengorbanan adalah taqarruban ilallaahi di Padang Arafah, sehingga beliau "'arafa", tahu, kenal dan membenarkan bahwa impiannya itu adalah perintah Allaah swt setelah beberapa jam beliau berserah diri; jiwa dan raga, serta segenap pikiran dan rasa, akhirnya mengenal lebih dekat terhadap Dzat, sifat, dan af'al-Nya (ma'rifat).


Thawaf Ifadhah, ini gambaran dari sebuah cinta suci dan rasa syukur atas suatu nikmat sebagai anugerah dari Sang Pemilik yang telah dirasakan.


Putaran arah jarum jam bertumpu pada pundak tangan sebelah kanan, sementara putaran thawaf bertumpu pada tangan sebelah kiri. Arah jarum menandakan waktu yang terukur, ada batasnya yang akhirnya akan berhenti pada suatu titik. Ini menunjukkan bahwa umur (waktu) manusia hidup semakin lama semakin banyak jumlah hitungan, namun sesungguhnya jatah usia semakin habis. Sementara putaran thawaf, semakin lama berputar semakin banyak pula ikatan yang pudar, terbuka hingga sampai awal terciptanya ikatan, setelah itu pudar menuju alam bebas yang berumur tak terbatas, dan inilah kehidupan akhirat. 


Betapa banyak dosa yang manusia lakukan semenjak akil balig;  besar, kecil; disengaja atau tidak. Dengan ibadah haji yang mabruur, dosa-dosa tersebut akan terhapuskan, dan kembali pada titik suci, titik nol seperti bayi yang baru dilahirkan. Sebagaimana Rasuulullaah saw bersabda:


"...من حج فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته امه"


"Barang siapa melaksanakan ibadah haji dan ia tidak berbicara kotor dan tidak berbuat fasik (melakukan tindakan-tindakan buruk yang bersifat dosa) maka ia pulang dalam keadaan seperti ketika dilahirkan oleh ibunya".


Thawaf juga menggambarkan rasa syukur yang mendalam atas nikmat,  karunia/rahmat yang diberikan Allaah, dan syukur nikmat itu harus digelar dalam kebahagiaan dan girang, tidak disembunyikan, sebagaimana firman Allaah :


"...فاما بنعمة ربك فحدث"


"Dan terhadap nikmat dari Tuhanmu maka hendaklah kamu siarkanlah!"


Rukun Haji yang selanjutnya adalah Sa'i dari Shafa ke Marwah, 7 (tujuh) hitungan dan berakhir di Marwah. Ini menggambarkan bahwa untuk mencapai cita-cita yang tinggi (marwah), maka harus berangkat dari kesucian (shafa), dan untuk mengejar cita-cita tersebut maka manusia harus berusaha sekuat tenaga dengan cara-cara yang baik, berdasarkan hukum yang berlaku, dilandasi dengan cinta dan kasih sayang terhadap sesama bersumber pada cinta terhadap Sang Khaliq. (Bersambung)

  H Awan Sanusi, salah seorang A'wan PWNU Jawa Barat

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×