Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Haji Itu Wukuf di 'Arafah (12)

Haji Itu Wukuf di 'Arafah (12)
Haji Itu Wukuf di 'Arafah (12) (Foto: NU Online)
Haji Itu Wukuf di 'Arafah (12) (Foto: NU Online)

Sebagai bukti dari firman Allah tersebut, pertama, Siti Hajar mendapat air zamzam setelah beliau rela menerima tugas 
suaminya walau ditempatkan di tempat gersang tak berpenghuni, di samping beliau berusaha untuk menyayangi putranya, 
bulak-balik antara Shafa dan Marwah mencari air, akhirnya beliau dapat zamzam.

 

Kedua, Nabi Ibrahim merasakan kebahagiaan yang tak terhingga dengan selamatnya Ismail bahkan dapat domba besar 
sebagai rizki yang tak diduga.

 

Ketiga, Ismail sendiri selamat dari ancaman maut, bahkan dia bisa berkumpul bersama keluarga, dan kelak diangkat 
sebagai Rasul Allah.

 

Keempat, Siti Sarah dengan merelakan suaminya (Nabi Ibrahim) untuk menikahi Hajar dengan tulus, maka di usia senja 
beliau dikasih putra yaitu Ishak, dan diangkat menjadi Rasul Allah yang menurunkan nabi dan rasul dari kalangan Bani 
Israil (Bani Ya'qub) hingga Nabiyullah Isa Almaasih, as.

 

Membangun Ka'bah

Setelah peristiwa pengorbanan Ismail, Nabi bersama istri dan putranya kembali ke Makkah dan kumpul di sana hingga 
beberapa waktu sebelum beliau kembali ke Syam (Palestina). Di sana beliau mendapat tugas dari Allah Swt untuk 
membangun Ka'bah.

 

Ka'bah adalah rumah ibadah yang pertama kali dibangun, karena itu Ka'bah disebut juga Baitul 'atiiq (Rumah Tua). 
Nabi Ibrahim as diperintah Allah untuk membangun Ka'bah yang menjadi Kiblat bagi kaum muslimin dalam melaksanakan 
shalat. Menurut para ulama, Ka'bah adalah pusatnya dunia yang langsung menuju Baitul 'Izzah. 

 

Setelah pembangunan Ka'bah selesai, Nabi Ibrahim menaksir bangunan buatannya itu lebih kurang 20 meter di depan 
pintu Ka'bah. Beliau berdiri di atas batu di sana, dan Allah membuatkan tanda kekuasaan-Nya dengan mengambelaskan 
dua telapak kaki Nabi Ibrahim di batu itu dengan kedalaman 3-5 cm, dan sampai sekarang tapak kedua kakinya dinamakan 
Maqam Ibrahim.

 

"...والتخذوا من مقام ابرهيم مصلى..."

 

Di salah satu sudut Ka'bah, diletakkan batu hitam dari sorga (hajar aswad), sehingga sudut tersebut dinamakan Rukun 
Hajar Aswad sebagai star awal melaksanakan thawaf.

 

Nabi Ibrahim Mengelilingi Ka'bah

Menurut kabar yang datanya tersimpan di Museum Makkah, bahwa Nabiyyullaah Ibrahim menghiasi Hajar Aswad dengan 7
(tujuh) batu mulia/permata di sekelilingnya sehingga nampak indah. Namun suatu saat datang badai gurun yang 
memporakporandakan bangunan di sekitarnya, termasuk 7 batu mulia tadi hilang disapu badai. Beliau nampak sedih 
kehilangan barang yang sangat disenangi, dicintai, dan disayanginya, beliau berusaha mencarinya di sekitar Masjidil 
Haram, namun tidak ditemukan juga.

 

Dalam keadaan sedih yang sangat mendalam tersebut, beliau melihat puteranya Ismail sedang main- main di atas batu 
pasir, dan terlihat juga 7 batu yang dicari sedang dipakai mainan oleh puteranya. Saking bahagia dan gembiranya 
beliau menemukan kembali yang dicari-cari, secepat kilat beliau mengambilnya dari hadapan putranya, dicium dan 
dipeluknya batu tersebut penuh rindu dan gembira. Rasa bahagia dan gembira tersebut beliau wujudkan dalam tingkah 
yang kegirangan, selebrasi sambil lari-lari kecil mengelilingi Ka'bah hingga 7 (tujuh) putaran.

 

Tingkah laku hamba yang kegirangan atas kembalinya cinta yang hilang akibat hilangnya sesuatu yang sangat dicintai, 
kini kembali ditemukan barang dan diwujudkan dalam bentuk syukur dengan mengelilingi Ka'bah, maka Allaah abadikan 
perbuatan hamba yang dicintainya itu dalam salah satu manasik haji, yaitu Thawaf Ifadhah. (Bersambung)

 

H Awan Sanusi, salah seorang A'wan PWNU Jawa Barat

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×