• logo nu online
Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 5 Desember 2023

Hikmah

KOLOM BUYA HUSEIN

Bersama Penyair Celurit Emas

Bersama Penyair Celurit Emas
Bersama Penyair Celurit Emas
Bersama Penyair Celurit Emas

Siang (31/01/23) kemarin saat makan siang aku bersama Penyair Celurit Emas, sekaligus seorang Kiai Zawawi Imran, berbincang soal puisi. Namanya sangat terkenal di dunia sastra Indonesia.


Beliau menyampaikan sejumlah puisi sufistiknya di luar kepala. Luar biasa. Mengagumkan. Bagaimana bisa?. "Aku membaca filsafat". Beliau menyebut nama filsuf klasik, antara lain Plato.


Aku bertanya lagi : "sekarang sudah menginjak angka berapa?". "81". Satu tahun lebih dulu dari Gus Mus. Tapi aku bukan Kiai. Orang lain saja yang memanggil begitu". "Masya Allah. Masih gagah dan produktif". Lalu katanya : Ada kumpulan puisi saya diterjemahkan dalam bahasa Belanda".


Aku mendengarkan dengan serius pengalamannya menulis puisi-puisi dan penghargaan yang diterimanya. "Sampeyan seorang kiai aneh. Langka".


Sesekali aku menyela membaca puisi Rumi, Al Hallaj atau Ibn Arabi yang aku hafal. Beliau mengangguk-aguk.


Lalu aku bercerita tentang pertemuan Al Jilli dengan Platon dalam mimpi, sebagaimana dialog dalam mimpi antara al Makmun dan Aristoteles.


لقد اجتمعت بأفلاطون الذي يعده اهل الظاهر كافرا، فرأيته قد ملأ العالم الغيبي نورا وبهجة، ورأيت له مكانة لم ارها الا لآحاد من الاولياء، فقلت له: من انت؟ قال: قطب الزمان وواحد الأوان). الانسان الكامل (2 / 53ـ52).


“Aku bertemu Platon, seorang yang oleh kaum literalis dianggap kafir. Aku melihat dia berada di sebuah tempat, di ruang metafisika dalam sorotan gemerlap cahaya dan dalam ceria. Aku melihat dia dalam posisi yang tidak pernah aku lihat pada siapapun kecuali di antara para kekasih Tuhan. Lalu aku bertanya kepadanya: “Siapakah anda?”. Dia menjawab : “Aku Platon, aku kutub zaman dan satu yang terbesar sepanjang waktu”.


Dan Kiai Zawawi mengacungkan ibu jarinya.


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU


Hikmah Terbaru