Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Nuzulul Qur’an: Dari Kegelapan Menuju Cahaya Cemerlang

Nuzulul Qur’an: Dari Kegelapan Menuju Cahaya Cemerlang
Nuzulul Qur’an: Dari Kegelapan Menuju Cahaya Cemerlang (foto: Freepik.com)
Nuzulul Qur’an: Dari Kegelapan Menuju Cahaya Cemerlang (foto: Freepik.com)

Peristiwa turun atau nuzul Al-Qur’an, mengenai kapan waktunya, masih banyak diperdebatkan oleh para ahli sejarah. Ada yang menyebutkan pada awal Ramadhan, 17 Ramadhan, 27 Ramadhan dan beberapa pendapat lainnya. Perbedaan ini terjadi merupakan sesuatu yang wajar, karena memang tidak ada keterangan yang tegas dari Al-Qur’an maupun as-Sunnah. Yang jelas al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan firman Allah: (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS. Al-Baqarah, 2: 185)


Sungguhpun terdapat perbedaan tentang tanggal pastinya di bulan Ramadhan, menurut riwayat yang kuat, ditetapkan pada tanggal 17 Ramadhan. Demikian menurut al-Thabari seorang mufasir yang memiliki kompetensi yang tinggi dalam bidangnya, demikian juga para ahli tafsir terkenal lainnya. Al-Qur’an turun kepada Nabi Muhammad (wahyu pertama), ketika beliau berada di Gua Hira’, waktu beliau bertahanuts di tempat itu untuk melakukan ibadah, perenungan dan dzikir. Gua Hira’ sekarang  masih di kunjungi para penziarah, yang berada di puncak bukit (Jabal) Nur. Nabi s.a.w. menenerima wahyu tersebut ketika berumur 40 tahun, wahyu itu berisi perintah untuk membaca, melakukan penelitian, menganalisa dan menyimpulkan, sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. 


Secara lengkap wahyu pertama berisi: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.  (QS. al-Alaq: 1-5). Ayat ini menekankan tentang signifikansi dari aktifitas yang dilakukan manusia, agar meraih ilmu pengetahuan, baik sains, tekhnologi, ilmu-ilmu sosial maupun ilmu pengetahuan agama. 


Dengan mengamalkan lima ayat tersebut, manusia dapat melakukan riset dan penelitian terhadap ayat-ayat Allah yang tertulis dalam al-Qur’an, dan ayat-ayat Allah yang ada dalam kehidupan alam semesta. Setelah orang itu meriset, kemudian menganalisa hasil riset tersebut, kemudian menulis dan menyimpulkan, maka akan menghasilkan karya tulis ilmiah, berupa: (1) laporan ilmiah, (2) risalah, (3) skripsi, (4) thesis dan (5) disertasi dalam berbagai disiplin ilmu.


Pengembangan berbagai disiplin ilmu hasil penelitian, sebagaimana disebutkan di atas, akan menghantarkan umat manusia seluruh dunia menuju cahaya yang cemerlang dan meninggalkan alam Jahiliyyah yang gelap gulita. Dengan kemampuan sains dan tekhnologi manusia dapat meraih penemuan-penemuan baru yang spektakuler bagi kemajuan peradaban dan kebudayaan. Ilmu-ilmu itu mengantarkan umat manusia pada kemajuan bidang sains, tekhnologi, kemajuan di bidang ekonomi, bidang trasportasi, akomodasi sehingga memasuki era tekhnologi informasi (IT). 


Pengembangan ilmu hasil penelitian terhadap ayat-ayat Allah yang tertulis (kitab-kitab suci), melahirkan ilmu pengetahuan yang mendalam, yang menyangkut ilmu agama dan ilmu-ilmu yang mengantarkan umat manusia pada kehidupan spritual, yang membimbing mereka pada kebahagiaan jasmani dan rohani.


Akan halnya penetapan tanggal 17 Ramadhan sebagai hari Nuzulul Qur’an didasarkan atas beberapa argumen, diantaranya keterangan dari ayat al-Qur’an: “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka Sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil,  jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al-Anfal, 8: 41).


Yang dimaksud dengan yauma iltaqaa al-jam’an (pada hari bertemunya dua pasukan) adalah terjadinya perang Badar, yaitu pasukan kaum muslimin yang menegakkan kalimat tauhid dan pasukan kaum musyrikin yang mempertahankan ajaran paganisme dan kemusyrikan. Peristiwanya  terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Dengan beristinbath pada ayat tersebut, banyak ahli tafsir yang mengambil kesimpulan bahwa nuzul Qur’an jatuh pada tanggal terjadinya perang Badar, yaitu pada tanggal 17 Ramadhan.


Kita semua menyadari yang paling penting dari peringatan Nuzulul Qur’an, bukanlah semata-mata terletak pada ketetapan tanggal itu,  akan tetapi pada keharusan dari kita semua agar menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan jalan hidup kita. Ia merupakan Way of Life bagi setiap pribadi manusia yang ingin meraih kesuksesan yang abadi, baik di dunia maupun di akhirat. Selamat memperingati Nuzulul Qur’an.


Dr. K.H. Zakky Mubarak, MA., Salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×