Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Misi Para Nabi dan Rasul

Misi Para Nabi dan Rasul
Ilustrasi: NUO
Ilustrasi: NUO

Salah satu misi yang diperjuangkan para Nabi dan Rasul ialah mengarahkan umat manusia agar memiliki gairah yang kuat untuk berlomba dalam kebaikan secara umum dan mengusahakan kebajikan bagi sesamanya. Pengertian kebaikan yang digunakan al-Qur’an dengan al-Khairu atau al-Birru, sering dipahami hanya terbatas pada ibadah khusus atau kegiatan yang nampak sangat religius, yang biasa dilakukan oleh para ustadz atau para tokoh agama saja.


Sesungguhnya kebaikan atau al-khairu mencakup pemahaman yang lebih luas dan lebih dalam dari pengertian itu. Segala sikap, tindakan dan usaha yang bermanfaat serta mendatangkan kebaikan terhadap sesama, termasuk dalam kategori al-khairu atau al-birru.


Mengenai keharusan berlomba dalam kebaikan dan kebajikan secara umum, disebutkan dalam al-Qur’an:


وَلِكُلّٖ وِجۡهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَاۖ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ أَيۡنَ مَا تَكُونُواْ يَأۡتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ  


“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkanmu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Q.S. Al-Baqarah,2:148).


Ayat ini mengarahkan umat manusia agar selalu melakukan kompetisi atau berlomba dalam mewujudkan kebaikan di tengah-tengah masyarakat. Kebajikan sebagaimana disebutkan di atas, jenisnya sangat banyak dan jangkauannya sangat luas. Sebagai contoh yang sangat sederhana dapat dikemukakan bahwa membuang duri atau pecahan kaca dari jalan, menunjuki orang lain dan berkata baik terhadap sesama adalah suatu kebajikan.


Misi Nabi dan Rasul, seperti yang disebutkan di atas dijelaskan dalam al-Qur’an:


وَجَعَلۡنَٰهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ وَكَانُواْ لَنَا عَٰبِدِينَ  


“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah”. (Q.S. Al-Anbiya’, 21: 73).


Para Nabi dan Rasul telah menghabiskan umur mereka dan mengorbankan kehidupannya untuk membimbing umat manusia menuju kebaikan, kesejahteraan serta ketentraman lahir dan batin.


Dalam mengemban tugas yang sangat mulia itu, para Nabi dan Rasul menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan ketekunan. Mereka saling mengorbankan kepentingan diri dan keluarganya demi kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia. Mereka sering menghadapi resiko yang sangat berat dan berbahaya, menghadapi berbagai tantangan dan rintangan.


Kesulitan demi kesulitan terus dijalani dengan tabah dan sabar sehingga mencapai keberhasilan yang agung dan penuh kemuliaan. Meskipun menghadapi berbagai kesulitan itu, para Nabi dan Rasul tidak pernah merasa kecewa atau berputus asa, sebaliknya merasa puas dan berbahagia, karena telah berhasil mengantarkan umatnya menuju jalan yang lurus yang diridhai oleh Allah SWT.


Kesungguhan para Nabi dan Rasul dalam perjuangan dan ketabahan mereka dalam menghadapi tantangan dan rintangan dilukiskan dalam al-Qur’an:


إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ  


 “...Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami”. (Q.S. Al-Anbiya’, 21: 90).


Selanjutnya Rasulullah SAW menjelaskan:


إِنَّ هَذَا الْخَيْرَ خَزَائِنُ وَلِتِلْكَ الْخَزَائِنِ مَفَاتِيحُ فَطُوبَى لِعَبْدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ مِغْلَاقًا لِلشَّرِّ وَوَيْلٌ لِعَبْدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ مِفْتَاحًا لَلشَّرِّ مِغْلَاقًا لِلْخَيْرِ (رواه ابن ماجة)


“Sesungguhnya kebajikan itu ialah suatu perbendaharaan, setiap perbendaharaan itu pasti ada kuncinya. Berbahagialah manusia yang dikaruniai Allah kunci untuk membuka segala kebaikan dan menutup rapat segala keburukan. Dan celakalah orang yang memegang kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan”. (HR. Ibn Majah, No: 234).


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×