Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Eliza Nurmin, Majukan Fatayat Berbekal Semangat dan Khidmat

Eliza Nurmin, Majukan Fatayat Berbekal Semangat dan Khidmat
Ketua PAC Fatayat NU Patrol Indramayu Eliza Nurmin
Ketua PAC Fatayat NU Patrol Indramayu Eliza Nurmin

Kecamatan Patrol adalah daerah di Indramayu Barat yang memiliki banyak santri, tetapi organisasi Fatayat NU sendiri malah tidak terdengar gaungnya pada sepuluh tahun terahir, baru pada tahun 2019 PAC Fatayat NU Patrol kembali bangkit dan Eliza Nurmin dipercaya untuk menahkodai  organisasi yang berisi ibu-ibu muda Nahdlatul Ulama tersebut.

Eliza Nurmin, ibu muda lulusan Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon ini,  adalah perempuan yang sangat lincah dan cekatan dalam hal apapun di organisasi yang ia pimpin. Dirinya selalu hadir di setiap acara baik desa, kecamatan hingga kabupaten sehingga PAC Fatayat NU Patrol bisa berkembang dengan pesat hingga saat ini.

Semangat dan khidmat itulah bekal yang menjadi modal bagi Eliza dalam membangkitkan Fatayat NU di Patrol. Ia bersama jajaran kepengurusannya  berhasil membentuk pengurus ranting Fatayat sampai bawah se-kecamatan yang sukses dilantik dan baru pertama kalinya di Kabupaten Indramyu. Selain itu PAC Fatayat NU Patrol juga mempunyai Tim Paduan Suara  di bawah kepemimpinan Hj Afifah Aljannah. Paduan Suara ini berhasil menunjukan penampilan terbaik dalam berbagai kegiatan ke-NUan di berbagai tempat sehingga mendapat pujian dari berbagai kalangan. 

“Saya bukanlah siapa-siapa dan saya bukanlah apa-apa,” ujar Eliza. “Pendidikan saya juga tidak tinggi seperti ibu-ibu muda lainnya, tetapi dengan modal semangat dan khidmat kepada Nahdlatul Ulama, saya berusaha menjaga serta menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya,” lanjut ibu dari tiga orang anak ini.

Salah satu kunci keberhasilan Eliza dalam memimpin Fatayat NU Patrol adalah karena dalam struktur kepengurusannya, diisi ibu-ibu muda potensial dengan pendidikan tinggi dan alumni pondok pesantren terkenal di Jawa. Jajaran kepengurusan itu sangat  solid dan kompak juga kritis sehingga organisasi berjalan dengan dinamis.

“Alhamdulillah kepengurusan PAC Fatayat NU Patrol diisi oleh ibu-ibu muda yang sangat hebat, para sarjana dan alumni pondok pesantren. Kami sangat kompak sehingga semua program dapat berjalan dengan baik. Selain itu, pengurus ranting di setiap desa juga saat ini sudah berjalan dan programnya sangat banyak sehingga Fatayat di Kecamatan Patrol saat ini semakin maju dan berkembang,” ungkap isteri dari anggota Banser ini.

Eliza dikenal sebagai sosok yang sangat sabar dan legowo dengan kritikan dan sangat lapang dada menerima masukan apapun. Seluruh pengurus dan anggota Fatayat merasa tidak ada jarak dan sangat dekat dengan dirinya. Apalagi ibu muda yang menggeluti bisnis pakaian dan pernak-pernik ke-NUan ini, juga dikenal dengan omongannya yang ceplas ceplos dengan canda tawa penuh riang gembira.

"Niat saya hanya ingin ngurip-ngurip (menghidupkan) NU. Saya ikhlas dalam melakukan pengabdian ini. Saya memang orangnya begini, seneng guyonan, ngomong apa adanya dan ketawa lepas. Saya tidak ingin membuat jarak dengan pengurus lain maupun anggota. Kami ingin dalam berkhidmat di NU ini dilakukan dengan riang gembira tanpa ada beban, namun dengan target yang terukur sehingga segala program yang dicanangkan dapat terlaksana,” tambahnya.

Ibu muda kelahiran 1980 ini menceritakan awal dirinya merasa terpanggil untuk berkhidmat di Fatayat adalah karena serangan terhadap NU semakin gencar. Banyak keloompok takfiri yang menyalahkan dan menyesatkan amaliyah Nahdliyin. Bahkan kelompok-kelompok menyimpang juga sudah banyak merasuki ibu-ibu muda di kampung-kampung. Maka dia bersama beberapa orang ibu muda lainnya seperti Laely Farkhah dan Hj Afifah Aljannah, mulai merintis dan menghidupkan kembali Fatayat NU.

“Awalnya saya tidak memahami tentang ke-NU-an. Saya pernah diajak oleh suami yang kebetulan juga sebagai anggota Banser untuk mengikuti PKP-NU. Dari situlah saya mulai memahami tentang NU yang sebenarnya. Selain itu saya juga mengikuti MKNU dan dibaiat. Anehnya, sejak mengikuti PKP dan MKNU jiwa saya seakan dituntun dan dipanggil, setiap kali ada kegiatan NU, saya harus hadir,” katanya.

Eliza mengakui, saat pembaiatan MKNU ia menangis dan sangat lama saat mencium bendera merah putih juga bendera NU. Ia berdoa agar diberikan kekuatan dan bimbingan dalam menjalankan amanah organisasi. Ia saya juga berdoa agar NU dijaga demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Eliza menargetkan agat Fatayat bisa maju dan benar-benar menjadi benteng keluarga dari serangan berbagai kelompok dan aliran yang menyimpang.

Ia berharap selalu diberikan kesehatan untuk terus berkarya dan berkhidmah di NU.  “Dengan keaktifan di Fatayat NU ini, semoga saya dapat diakui sebagai santrinya Mbah Hasyim Asy’ari,” pungkasnya.

Penulis: Iing Rohimin
Editor: Iip Yahya

 

Terkait

Profil Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×