Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kisah Yosi dan Bombom, "Pengawal" MKNU Jawa Barat

Kisah Yosi dan Bombom, "Pengawal" MKNU Jawa Barat
Kisah Yosi dan Bombom, "Pengawal" MKNU Jawa Barat (Foto: NU Jabar Online)
Kisah Yosi dan Bombom, "Pengawal" MKNU Jawa Barat (Foto: NU Jabar Online)

Bandung, NU Jabar Online 
Jalan pengabdian di lingkungan Nahdlatul Ulama, berbeda satu sama lain. Ada yang jadi pengurus inti, pengurus harian, atau lembaga dan badan otonom. Selain para pengurus yang tercatat namanya dalam Surat Keputusan, tak sedikit yang menjadi tim pendukung. Mereka yang nyaris setiap hari ada di kantor NU, sekalipun namanya tak ada dalam SK. Di antara mereka adalah tim instruktur Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU). Di PWNU Jawa Barat, tim instruktur MKNU dikawal oleh Yosi dan Bombom.

Keduanya menyiapkan materi MKNU sebelum keberangkatan, juga peralatan. Tiba di lokasi acara, mereka segera menyiapkan soal pre-test dan absensi. Lalu dalam setiap materi yang disampaikan instruktur, keduanya berbagi tugas. Jika yang satu membagikan absen, maka yang lainnya menemani instruktur, mengawal tayangan di layar in-focus agar berjalan baik.

Sepulang kegiatan, mereka tak bisa langsung istirahat, melainkan harus memasukkan data peserta sesuai KTP. Peserta yang merasa telah mengisi absen pada semua sesi, biasanya sering tak sabar menunggu sertifikat. Tanda kelulusan ini dapat diproses jika input data sudah selesai.

Yosi Apriani atau lebih dikenal dengan panggilan Oci, merupakan tim instruktur Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) yang selalu sigap mengawal jalannya MKNU di wilayah Jawa Barat. Pria kelahiran 3 Februari 1995 ini sudah menjadi tim teknis MKNU sejak akhir tahun 2018. 

Di luar itu, ia tercatat sebagai pengurus PW GP Ansor Jawa Barat dari tahun 2014 sampai dengan sekarang. Kemudian, dia diminta oleh Sekretaris PWNU Jabar H Asep Saefudin Abdillah, untuk menjadi tim instruktur MKNU di wilayah Jawa Barat. 

“Waktu itu ada kekurangan tim instruktur untuk membantu para instruktur MKNU. Saya lalu diminta Pak Asep untuk menjadi anggota tim,” jelasnya. Motivasinya bergabung menjadi tim MKNU ini, karena ingin dianggap sebagai santrinya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. 

“Mungkin dengan cara jadi tim teknis MKNU ini, saya dapat diakui sebagai santrinya,” harapnya. 

Yosi mengaku, semenjak bergabung menjadi tim teknis MKNU, ia sudah mengikuti 30-an MKNU yang diselenggarakan di seluruh wilayah Jawa Barat. Diakuinya, banyak kisah berkesan yang dialaminya selama mengikuti MKNU ini. 

Salah satu kisah yang paling menarik adalah ketika ia bisa bertemu dengan jodohnya di MKNU angkatan ketiga PCNU Karawang, di Pondok Pesantren Al-Mahrusiyyah, akhir tahun 2019.

“Rahmawati Dewi, nama istri saya, awalnya ‘jadian’ saat bertemu di MKNU Karawang,” katanya. 

Sebenarnya ia sudah sering melihat calon jodohnya itu di gedung PWNU, karena termasuk pengurus PW IPPNU. Sudah sering bertemu, tapi menurut Yosi, tak berani untuk saling sapa.

“MKNU membuat hati kami bersatu. Dia jodoh terbaik untuk saya,” ungkap Yosi sambil tersipu malu. 

Sementara itu Abda Hamid Al-Aziz atau orang lebih sering memanggilnya Kang Bombom, merupakan anggota tim instruktur yang sejak awal mengikuti MKNU di Jawa Barat. Ia sudah mengikuti 60 kali kegiatan MKNU.

“Saya memang tidak selalu bisa ikut. Ada juga bolosnya karena sakit. Mungkin empat atau lima kali saya tida ikut mengawal MKNU,” katanya. 

Pria kelahiran Bekasi 6 Maret 1985 itu menjadi tim instruktur sejak akhir 2016. Pertama kali bertugas di Pondok Pesantren Al-Mizan, yang diasuh oleh KH Maman Imanul Haq. Ia mengaku saat itu berangkat tanpa alat satu pun dan masih merasa blank, walaupun sudah ikut TOT di PBNU. 

“Saya ikut TOT tim teknis bersama Ahmad Rijal dan Zainuddin,” paparnya.

Menurutnya, salah satu keuntungan menjadi tim teknis MKNU adalah bisa berkeliling Jawa Barat dan bertemu dengan banyak tokoh NU. Salah seorang instruktur yang dikaguminya ialah Kepala Madrasah MKNU KH Endin AJ Soefihara.

”Saya suka dengan beliau. Ketika menyampaikan materi, selalu adem dan kalem, tapi peserta selalu dibuatnya terpukau,” katanya.

“Saat MKNU angkatan pertama di Subang, materi yang disampaikan sampai tengah malam. Saya hitung dari 100 lebih peserta, yang mengantuk itu cuma dua orang,” sambungnya. 

Selain menjadi Tim Instruktur, Bombom juga seorang sopir yang piawai. Selain membawa tim PWNU ke berbagai cabang, ia juga yang bolak-balik ke Kantor PBNU di Jakarta untuk bebagai urusan.

“Dari mulai mengambil buku panduan hingga mencetak sertifikat,” ujarnya.

Pada awalnya tugas ke PBNU ini ia lakukan dengan menaiki kereta api. Tapi karena kian lama semakin banyak barang yang harus dibawa, akhirnya Bombom membawa mobil PWNU. Lebih sering ia menyetir sendirian melintas tol Bandung-Jakarta.

“Karena jumlahnya banyak, jadi sertifikat itu saya yang mencetaknya langsung. Tim PBNU kan mengurusi MKNU se-Indonesia, jadi harus kita bantu dalam soal teknis seperti ini,” pungkasnya.

Pewarta: Agung Gumelar
 

Terkait

Profil Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×