Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Hj. Emma Siti Maryamah Imron: Darah Seni Putri Kiai

Hj. Emma Siti Maryamah Imron: Darah Seni Putri Kiai
Hj. Emma Siti Maryamah Imron (Foto: NU Online Jabar)
Hj. Emma Siti Maryamah Imron (Foto: NU Online Jabar)

Para kiai turun dari panggung utama peringatan Hari Santri 2020 yang diselenggarakan Santri Ngariung (Sarung) Kecamatan Pacet yang berlangsung di Pondok Pesantren Al-Istiqomah, Maruyung, Ahad (25/10). Acara sudah usai. Namun, pembawa acara mengatakan, selanjutnya ada penampilan kreasi seni dari para santri beberapa pondok pesantren. 

Suasana mendung, tapi belum ada tanda-tanda hujan. Para santri masih bertahan menanti kreasi teman-temannya sendiri yang disebut pembawa acara, dari mulai pencak silat sampai seni terbangan. 

Pembawa acara di panggung mengumumkan bahwa kreasi santri akan didahului pentas paduan suara Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Kecamatan Pacet. Kemudian ibu-ibu muda berbaju dan berrok hijau serta kerudung putih menaiki pentas. Mereka bernyanyi...

Kami siap di Fatayat 
Kami sigap untuk masyarakat 
Sebagai banom Nahdlatul Ulama 
Bela agama

Kami siap di Fatayat 
Bekerja sama jiwa dan raga 
Sebagai banom Nahdlatul Ulama
Bela Indonesia 

Kami Fatayat pemudi NU 
Berserah diri mengabdi 
Kepada Ilahi Rabbi 
Kami di sini pemudi NU 
Selalu siap berjuang 
Demi agama dan negara 

Para santri putra dari berbagai pondok pesantren, mengibar-ngibarkan bendera merah putih, NU, dan GP Ansor. Ada juga bendera Palestina. Mereka, dengan bersarung dan berpeci itu, berjingkrak sebisanya. Sementara santri putri duduk saja.

Jika menyimak lagu yang dinyanyikan paduan suara PAC Fatayat NU Pacet itu, Nahdliyin di mana pun, pasti tak pernah mendengarnya. Pasti tak pernah! Memang.

Lagu itu baru berumur beberapa hari saja. Tim paduan suara PAC Fatayat NU Pacet pun baru pertama kali menyanyikannya di muka umum. Lagu yang bernuansa mars itu merupakan persembahan dari Ketua Litbang PAC Fatayat NU Kecamatan Pacet, Hj. Emma Siti Maryamah Imron.

Neng Emma, sapaan akrabnya, menciptakan lagu berjudul Fatayat Siap itu pada 13 Oktober tahun ini. Lalu, keesokan harinya, ia mengaransemennya menjadi sebentuk nyanyian. Kemudian, pada 25 Oktober dipentaskan untuk pertama kalinya di acara Sarung Pacet. 

“Lagu ini tanpa diminta siapa pun. Inisiatif sendiri,” kata jebolan Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung ini. “Kontribusi dari pribadi yang bisa diberikan lagu dulu,” lanjutnya. 

Ketika ditanya lebih lanjut terkait lagunya itu, Neng Emma mengaku karena ingin diakui sebagai santri pendiri NU. 

Abdi rumaos sanes (saya merasa bukan) santri, oge teu nyantri (juga tak nyantri)" katanya merendah, "tapi hoyong kaangken (ingin diakui sebagai, red.) santri ku (oleh) Hadratussyekh ku  (dengan perantara, red.) aktif di NU,” lanjut istri dari Rudi Sulaiman dan ibu dari Siti Hafsah Alifa Muthmainnah ini. 

Sementara ketika ditanya isi lagunya, Neng Emma menjelaskan bahwa mereka yang aktif di Fatayat, mengikuti kegiatan-kegiatan di NU atau berkiprah di badan otonomnya, adalah bagian dari perjuangan. 

“Tidak mudah para IRT (ibu rumah tangga) membagi waktu apalagi pikiran. Tapi terbukti mereka lillahi Ta'ala siap kapan pun dibutuhkan,” tegasnya. 

Neng Emma bersama tim paduan suara Fatayat NU Kecamatan Pacet 

Darah Seni Keluarga Kiai
Neng Emma lahir pada tahun 1990 dari pasangan almaghfurlah KH Ali Imron dan Hj. Hamidah. KH Ali Imron adalah ajengan kharismatik dari Bandung selatan, tokoh NU Jawa Barat, pengasuh Pondok Pesantren Baitul Arqom Lemburawi semasa hidupnya. Sementara Hj. Hamidah merupakan putri KH Ruhiat, tokoh NU Tasikmalaya yang pernah jadi A'wan PBNU, pendiri Pondok Pesantren Cipasung. 

Pernikahan keduanya dikaruniai keturunan, yaitu H. Ahmad Faisal Imron, H. Ahmad Fauzi Imron, H. Ahmad Luthfi Imron, H. Ahmad Fahmi Mubarok Imron, Hj. N Eli Alawiyyah Imron, Ahmad Makky Imron (alm.), H. Ahmad Fuad Ruhiat, Hj. N Nur Aisyah Imron, Hj. N Zia Mahmudah Imron, Hj. N Emma Maryamah Imron, dan Ahmad Win Khotimy Imron (alm.)

Neng Emma dibesarkan dalam suasana religius di Pondok Pesantren Baitul Arqom. Sebagaimana umumnya di keluarga kiai, ia diajarkan beragam ilmu keagamaan sedari kecil oleh keluarganya serta bergaul dan memahami kehidupan santri. Di tengah suasana itu, ia dapat menyerap satu sisi kehidupan keluarga dan pesantrennya, yaitu kesenian. 

Ayah Neng Emma, KH Ali Imron, pada masa mudanya adalah mayoret drum band GP Ansor yang menyukai puisi. Lebih dari itu, sang ayah juga menciptakan puisi. Kelihaiannya dalam berpuisi, turun kepada anak-anaknya, di antaranya kepada KH Faisal Imron, salah seorang penyair di Jawa Barat. 

Paman Neng Emma, KH Madani Sulaiman adalah pencipta lagu-lagu kasidah Bintang 9 di Pesantren Baitul Arqom. Kakak Neng Emma, KH Ahmad Fawzi Imron mengaku pernah menggubah dan penikmat puisi. Kakaknya yang lain, KH Ahmad Fuad Ruhiat juga menyukai puisi, terampil bermain gitar ala Timur Tengahan serta senang melukis. Penulis pernah menyaksikan langsung dia memetik gitar pada pentas drama siswa-siswi SMA Manggala, sekolah yang berada di kompleks Pondok Pesantren Al-Istiqomah. 

Tak heran kemudian, Neng Emma pun memiliki apresiasi besar terhadap seni, lebih khusus seni musik. Menurut dia, jika dirujuk pada masa kecilnya, dirinya sudah menyukai alat musik yang lazim di pesantren, yakni tagoni. Ia sering iseng memainkannya pada usia 5 tahun. 

Ketika ia menyukai musik khas pesantren itu, sang ayah membiarkannya, bahkan mendukungnya.

“Bahkan nuju alit sok dicontoan maen (sewaktu kecil sering diberi contoh bagaimana memainkan) tagoni. Papah (KH Ali Imron) pan sok ameng (sering bermain), humoris ka anak-anak,” kata mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung ini. 

Apresiasi terhadap musik, ia pun melebarkan kesukaannya kepada genre lain. Ia kemudian menikmati lagu-lagu Barat seperti Scorpions dan Queen. Ia juga sangat menggandrungi lagu-lagu Iwan Fals.

Neng Emma saat memainkan alat musik karinding

Pesantren Al-Istiqomah Fasilitasi Seni Santri 
KH Ali Imron selain mengasuh Pondok Pesantren Baitul Arqom, ia mendirikan Pesantren Al-Istiqomah. Jarak keduanya tidak jauh, sekira 2-3 km. Pesantren Al-Istiqomah ini dikelola dan dikembangkan anak dan menantunya. Di pesantren ini memadukan sistem salaf dan khalaf, yaitu mempertahankan sistem tradisional pesantren serta mengadopsi pendidikan formal melalui SMA Manggala. Bahkan saat ini mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI). 

Di pondok pesantren ini, Neng Emma berkhidmah mengamalkan ilmunya. Bakat seninya pun terus ia kembangkan, di antaranya belajar memainkan alat musik tradisional Sunda, karinding, secara otodidak, belajar dari YouTube. 

Neng Emma kemudian mengajarkan keterampilannya itu dengan mendirikan Galur di Kecamatan Pacet. Lalu, membentuknya di SMA Manggala. Di samping itu, ia membina paduan suara dan marawis untuk santri putri di Baitul Arqom. Di Al-Istiqomah sendiri dibentuk grup marawis dan marching band

Upayanya tidak sia-sia. Galur Manggala pernah tampil di Karinding's Day Out 2020 di gedung BPNB Jawa Barat sebagai representasi band karinding yang lahir dari lembaga pendidikan formal. Kecintaan terhadap Galur ia pun menggubah lagu untuk komunitas itu. Lalu ia juga menggubah lagu Let Us Say Hello yang dipersembahkan untuk lembaga bahasa Inggris di SMA Manggala. 

“Marawis Manggala tos gaduh (sudah memiliki) album shalawat. Nu nyanyi (yang bernyanyi), main musik semua santri,” katanya. “Aya (ada) kebanggaan tersendiri ketika anak-anak dibekali seni musik lalu masih mereka mainkan sampai sekarang,” lanjutnya. 

Sebagai seorang neng di pesantren ia berharap ke depan bisa lebih produktif lagi dengan yang dapat memotivasi generasi milenial, khususnya santri. Ia juga ingin santri memanfaatkan kelonggaran dari pesantren untuk pengembangan diri semisal berkreasi di bidang seni.

Seueur (banyak) KPD (Kelompok Pengembangan Diri) di Manggala anu (yang) terbukti difasilitasi dan didukung sepenuhnya. Salah satunya Galur. Tos (sudah) dua kali aya (ada) pagelaran musik dan teater,” pungkasnya. 

Sementara, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Istiqomah, KH Ahmad Fawzi Imron mengatakan sangat mendukung kreativitas adik bungsunya itu. Menurut dia, apa pun boleh asal tidak bertentangan dengan norma agama.

“Asal harus sesuai hukum. Kan ada hukum asal, ketika tidak ada nas (dalil) yang melarang, boleh-boleh saja. Kantenan (tentu) kalau ada kemanfaatannya, malah langkung sae,” katanya. “Keluarga sangat mendukung,” lanjutnya. 

Penulis: Nelly Nurul Azizah
Editor: Abdullah Alawi

Terkait

Profil Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×