• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 18 Juni 2024

Ngalogat

Orang Istimewa dari Cipasung

Orang Istimewa dari Cipasung
Buku Ajengan Cipasung (Foto: Faiz Manshur)
Buku Ajengan Cipasung (Foto: Faiz Manshur)

Oleh Faiz Manshur
Saya sedang mempersiapkan investasi naskah-naskah lokal untuk program 15 tahun mendatang. Sebab kelak dunia pendidikan di jalur internet akan membutuhkan karya-karya lokal yang secara spesifik berbicara tentang nilai lebih atawa “keistimewaan”. 

Kita tahu, google adalah istimewa, begitu juga facebook. Dan mereka berpeluang hidup 40 tahun tanpa inovasi radikal. Inovasi yang penting dilakukan kedua perusahaan itu paling hanya butuh tambal sulam. Dan keduanya akan serius berbicara dengan program kebaikan. Google akan terus mengembangkan sikap “don’t be evil” dan Facebook akan fokus mendekatkan pertemanan dan persaudaraan ke arah yang produktif dan humanis. 

Apa hubungannya dengan buku Ajengan Cipasung ini? Jelas banyak, selagi kita berpikir google dan facebook akan mengendalikan arus kebaikan. Dan buku ini merupakan salahsatu kebaikan terpenting dari Wilayah Indonesia bagian selatan yang berpeluang menjadi bagian pendidikan kemasyarakatan terpenting dunia. (dengan catatan kalau kita, baik penulisnya, pihak pesantren maupun siapa saja yang berkepentingan) untuk menampilkan nilai-nilai istimewa dari sosok istimewa seperti KH. Ilyas Ruhiyat. 

Kang Iip beruntung karena bisa memproduksi kebaikan. Menuangkan dalam bentuk buku yang serius, penuh ketelatenan dan isinya memberi manfaat. Dengan kata lain, buku ini menjadi istimewa bagi banyak manusia yang ingin hidup melalui dunia pendidikan berbasis lokalitas. Kiai Ilyas adalah monumen manusia. Ia aktor langka karena kekokohannya menjalankan tradisi pendidikan tradisional yang goalnya telah banyak terbukti menghasilkan perbaikan, bukan saja perbaikan dalam lapangan pendidikan itu sendiri, melainkan meluas pada usaha pencapaian kapasitas sumberdaya manusia di sekitarnya. Lagi-lagi, berbasis tradisi. 

Dan (untuk) apa itu tradisi? Ialah aset karena untuk menjadi efektif, efisien, kompetitif dan sejumlah nilai-nilai positif lainnya, tradisi harus dibentuk. Kita tak mungkin menjadi manusia maju tanpa kebiasaan menjalankan rutinitas hidup yang produktif. Tak mungkin menjadi penulis yang baik kalau tak memiliki kebiasaan belajar saban hari. Mustahil menjadi politisi yang baik (dan itu terjadi pada jutaan politisi) kalau tidak memiliki kebiasaan baik mengorganisir gerakan sosial. Amat mustahil menjadi orang sukses dalam wirausaha kalau hidupnya boros, tidak disiplin dan tak gigih dalam urusan lapangan.

Pendidikan kita membaik karena kekuatan tradisi, bukan karena masuknya teknologi. Sebab apa artinya teknologi kalau tidak memiliki modal dasar dari kekuatan manusia itu sendiri? Apa artinya modern kalau hanya mengubah gaya lalu berbeda dengan mereka yang tradisional? Manfaatnya apa?

Pada pengantarnya Mas Yahya Yahya Cholil Staquf tepat karena mengggunakan istilah turats untuk memasuki perjalanan hidup Kiai Ilyas ini. 

Buku ini akan menjadi bagian penting bagi rujukan kepemimpinan. Saya bilang penting karena berangkat dari kacamata usaha masyarakat dunia yang terus mencari sumber-sumber energi hidup positif. Dan Kiai Ilyas merupakan kategori manusia inspirasional karena kegigihan hidupnya.


Ngalogat Terbaru