Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Memaafkan Ketika Berkuasa

Memaafkan Ketika Berkuasa
(Ilustrasi: NUO).
(Ilustrasi: NUO).

Pada ngaji kitab Al Tibr al Masbuk, tadi malam, 07.04.22, Imam al Ghazali, mengutip sebuah hadits Nabi yang sangat indah:


"ثلاث من كانت فيه فقد كمل ايمانه. من كظم غيظه. وانصف فى حال رضاه وغضبه وعفا عند المقدرة"


Ada tiga hal (perilaku utama). Jika seorang beriman mempunyai ketiganya, maka sempurnalah imannya. Yaitu : bisa mengendalikan emosi marah, bertindak adil dalam keadaan senang maupun marah, dan memaafkan mereka yang menyakiti, saat ia berkuasa".


Sampai pada kata terakhir itu: "memaafkan mereka yang menyakiti hatinya, justeru pada saat berkuasa", aku bercerita tentang peristiwa "Fathu Makkah", pembukaan kota Makkah yang bersejarah. Ini sebuah peristiwa politik mengagumkan yang sulit untuk bisa dimengerti oleh banyak pikiran orang. 


Nabi SAW, rindu akan kampung halaman tempat kelahirannya di Makkah yang sudah 6 tahun ditinggalkannya. Beliau ingin pulang sekaligus umrah. Bersama para sahabatnya, antara lain Abu Bakat, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib serta 1500 para pengikutnya yang lain, berangkat. Tiba di Hudaibiyah, sekitar 12 km, dari Makkah, beliau dicegat kaum Quraisy dan dilarang masuk. Terjadi perundingan antar rombongan Nabi dan kaum musyrik Quraisy.  Nabi menyetujuinya meski sangat merugikan Nabi. Beliau bersama rombongan itu harus kembali ke Madinah. 


Dua tahun kemudian Nabi kembali ke Makkah bersama 10 ribu pengikutnya. Di perbatasan kota suci itu Nabi dicegat lagi. Kaum musyrik kaget luar biasa. Mereka ketakutan melihat banyaknya rombongan Nabi. 


Nabi duduk di atas ontanya, tampak begitu berwibawa. Bibirnya tak berhenti merekah senyuman manis. Kepada mereka, musuh lamanya itu, beliau dengan suaranya yang tenang dan sikap yang  anggun penuh pesona,  mengatakan : 


ما تظنون انی فاعل بكم


“Menurut kalian , apakah kira-kira yang akan aku lakukan terhadap kalian?”. 


Mereka saling menatap. Sebagian yang lain menundukkkan kepalanya dalam diam, tak berkutik. Pikiran mereka melayang-layang, kembali ke masa lalu, ketika Nabi masih bersama mereka di Makkah beberapa tahun lalu. Terbayang di mata mereka, kata-kata kasar, sumpah serapah, provokasi, dan stigmatisasi, berhamburan dari mulut mereka sendiri. Terbayang pula rencana aksi jahat, isolasi, dan upaya pembunuhan terhadap orang yang kini di hadapan mereka.


Sesekali mata  mereka melihat Nabi, sang “musuh”. Wajahnya masih bening, bercahaya dan tampan, senyumnya masih tetap selalu mengembang manis seperti dulu. Ia begitu anggun, penuh kharisma. Dalam keadaan ketakutan yang mendalam, mereka serentak menjawab:


“Engkau orang yang mulia, saudara kami yang mulia, putera saudara kami yang mulia”. 


Nabi lalu mengatakan sebagaimana dikatakan Nabi Yusuf (kepada sauara-saudaranya) :


اليوم يوم المرحمة لا يوم الملحمة


"Hari ini adalah hari kasih sayang, bukan hari perang"


 Hari ini tak ada balas dendam atas kalian.


اذهبوا فانتم طلقاء من دخل دار ابی سفيان فهو امن. ومن دخل داره فهو امن . ومن دخل المسجد فهو امن.


Pergilah kalian ke mana saja. Kalian bebas!. Siapa saja yang ingin masuk ke rumah Abu Sufyan, dijamin aman. Siapa saja yang ingin pulang ke rumah, dijamin aman dan siapa saja yang ingin ke masjid, dijamin aman”.


Aduhai!. Betapa mengagumkan. Betapa indah sikap utusan Tuhan itu. Ketika dalam keadaan kuat di hadapan musuh politik dan kemanusiaan yang rapuh dan tak berdaya, beliau justru memaafkan mereka. Nabi telah mengumumkan amnesti umum dan menyeluruh. Dialah manusia yang tak pernah menyimpan dendam kepada siapapun, bahkan tidak kepada musuh-musuhnya sekalipun.


Cukup sudah penderitaan dan kesakitan hanya dialami dirinya, dan tak perlu bagi orang lain. Hebatnya lagi, beliau tak hendak memaksa mereka mengikuti agamanya.


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×