Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Islam Hanif; Agama Nenek Moyang Masyarakat Nusantara 

Islam Hanif; Agama Nenek Moyang Masyarakat Nusantara 
(Ilustrasi: NUO).
(Ilustrasi: NUO).

Pada suatu hari, saya pernah kepikiran tentang "mengapa?" Masyarakat Nusantara pada saat awal-awal penyebaran Islam begitu gampang menerima Islam. Padahal mereka sudah memiliki keyakinan, baik itu keyakinan nenek moyang ataupun keyakinan Hindu dan Budha. Bahkan agama Hindu dan Budha ini sudah sangat kuat hingga memiliki kerajaan dengan agama resminya yaitu Hindu atau Budha.

 

Barang tentu itu merupakan نصر الله والفتح dan para da'i nya juga dai terbaik.

 

Sebenarnya apa yang para dai itu tarawarkan kepada masyarakat Nusantara? Apakah sistem sosial, sistem ekonomi?  sistem politik? Atau monoteisme atau apa kira-kira?

 

Jika sistem ekonomi, politik dan sosial yang ditawarkan itu pasti tertolak, karena pada saat Islam disebarkan ke Wilayah Nusantara sekitar Abad ke 7 M atau abad 1 Hijriyah, di Jazirah Arab sendiri sedang terjadi kemelut sosial, ekonomi dan politik. 

 

Sehingga Saya berpandangan pasti bukan itu.

 

Lalu apa? Mari pelan-pelan kita lanjutkan cerita nya.

 

Secara tidak sengaja ketika saya baca-baca Hayatul Hayawanil Kubro karya Imam Kamaludddin Muhammad Ad-Darimi (w. 808 H) pada saat beliau menjelaskan hewan الفيل (gajah). Dalam kitab itu Imam Ad-Darimi menuturkan perjumpaan antara Iskandar Dzul Qornain dengan raja Shin jauh (ملكة الصين الاقصى). 

 

Dan disini akan saya persingkat saja ceritanya:

 

Suatu hari penguasa Shin Aqsho mendengar tentang kabar Iskandar Dzul Qornain yang menaklukan beberapa wilayah, hal itu membuat beliau takut sehingga beliau mengumpulkan orang-orang yang pernah melihat Iskandar lalu beliau meminta dibuatkan lukisan Iskandar agar beliau (sang raja) bisa tahu bagaimana rupa Iskandar, bahkan seluruh barang yang ada di kerajaan itu dipasang gambar Iskandar.

 

Lalu pada saat Iskandar memasuki wilayah Shin akhirnya raja Shin tahu bahwa itu adalah Iskandar. 

 

Singkat ceritanya dalam perjumpaan itu tidak ada peperangan,  raja Shin menyerahkan diri tanpa syarat. Dan akhirnya memberikan banyak sekali hadiah diantara hadiah itu beruapa 300 gajah dan barang-barang mewah.

 

Kisah ini tercantum dalam kitab itu pada Juz 2, hlm 310-312.

 

Saya sangat tertarik membaca cerita ini, hingga akhirnya ada beberapa kata kunci yang perlu diperjelas. Pertama siapa Iskandar Dzul Qornai? Kedua Apa agama nya Iskandar Dzul Qornain?
Dan yang Ketiga dimana letak wilayah Shin terjauh itu?

 

Mari kita urai satu-persatu pertanyaan itu. 

 

Yang pertama mengenai siapakah Iskandar Dzul Qornain? 

 

Banyak sekali kitab sejarah yang bercerita tentang Iskandar Dzul Qornain, tetapi saya mencukupkan diri pada penjelasan Syaikh Nawawi Banten (w. 1314 H) dalam tafsir nya.

 

Pada saat beliau menafsirkan surat Al-Kahfi ayat 83:

 

يسألونك عن ذي القرنين  الآية
اي يسألك يا أشرف الخلق أهل مكة عن خبر ذي القرنين اسمه إسكندر بن فيلفوس اليوناني كان عبدا صالحا ملكه الله الأرض وأعطاه العلم والحكمة وألبسه الهيبة وكان وزيره الخضر والصحيح أنه  لم يكن نبيا وانما كان ملكا صالحا عادلا ملك الأقاليم وقهر أهلها من الملوك وغيرهم ودانت له البلاد وكان دانيا إلى الله

 

Artinya: Wahai mahkluq paling Mulia (Maksudnya Nabi Muhammad SAW). Orang Mekah bertanya kepada mu tentang informasi Dzul Qornain. Beliau bernama Iskandar putera Pilupus berkebangsaan Yunani, beliau adalah hamba Allah yang Saleh, Allah memberinya kekuasaan di Bumi, dan memberikannya ilmu serta hikmah yang dibalut dengan kemuliaan. Adapun yang menjadi Wazir (pendamping/menteri) nya ialah Nabi Khidir AS. 

Menurut pendapat yang sohih beliau bukanlah seorang Nabi tetapi beliau merupakan seorang raja yang saleh, yang adil, yang menguasai banyak wilayah dan menaklukan raja-raja. Negeri-negeri seperti dekat di hadapan beliau. Dan beliau selalu mengajak orang ke jalan Allah.

 

Itulah sekelumit tentang siapa itu Dzul Qornain.

 

Dalam keterangan di atas, diutarakan bahwa Dzulqornain selain menaklukan para raja juga beliau menyebarkan ajaran dan mengajak orang agar menyembah Allah (da'iyan ilallah) berarti raja dan masyarakat Shin pun beliau ajak untuk mengikuti ajaran Allah.

 

Kemudia pertanyaan selanjut mengenai ajaran apa yang disebarkan oleh Dzul Qornain? 

 

Untuk menjawab itu, saya coba buka penjelasan Syaikh Ahmad bin Muhammad As-Showi (w. 864 H) dalam tafsir Showi Hasiyah tafsir Jalalain (Juz 3, hlm. 29) ketika menafsirkan surat Al-Kahfi ayat 83:

 

وكان على شريعة إبراهيم الخليل، فإنه أسلم على يديه ودعا له، وأوصاه بوصايا، وكان يطوف معه 

 

Iskandar Dzul Qornain itu mengikuti syariat nya Nabi Ibrahim AS, bahkan beliau Islam langsung di tangan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ibrahim berdoa untuk nya, serta Nabi Ibrahim memberikan beberapa Nasihat kepadanya, bahkan Nabi Ibrahim ikut bersama nya berkeliling (dunia)

 

Keterangan ini menunjukan bahwa ajaran yang di ajarkan oleh Iskandar Dzul Qornain ketika berkeliling dan berdakwah kepada para raja dan penduduk bumi, ialah syariatnya Nabi Ibrahim, bahkan Nabi Ibrahim pun Ikut bersama nya berkeliling untuk menyebarkan Islam. Jangan2 Nabi Ibrahim juga ikut pas waktu ke wilayah Shin?

 

Pertanyaan ketiga ialah dimanakah letak wilayah Shin  itu? Agar kita tahu dalam peta modern letaknya dimana? Dan raja serta masyarakat mana yang di Islamkan oleh Iskandar Dzul Qornain itu? 

 

Pada saat saya mencari dimanakah letak Shin itu?. Saya mencoba buka karya Syaikhul Imam Yaqut bin Abdillah Al-Hamuwi  (w. 626 H) dalam karyanya Mu'jamul Buldan pada Juz ke 3, hlm. 440. Beliau menerangkan:

 

فإن هذه بلاد شائعة ما راينا من مضى إليها فأوغل فيها وانما يقصد التجار أطرافها  ... وهي بلاد تعرف بالجاوة على سواحل البحر شبيهة ببلاد الهند يجلب منها العود والكافور والسنبل والقرنفل والبساسة والعقاقير والغضائر الصينية

 

Negeri ini ialah negeri yang luas, aku tidak menemukan orang yang bisa sampai menembusnya. Adapun para saudagar itu hanya sampai di ujungnya saja, yakni sebuah daerah yang disebut dengan "Jawa" yang merupakan wilayah pantai yang menyerupai wilayah Hindia dan wilayah ini menghasilkan kayu gaharu, kamper, pohon yang berbuah,kemenyan, pala, tanaman obat-obatan, dan lain sebagainya.

 

Penyebutan Jawa juga masih berlaku pada masa Ibnu Batutah, yakni tahun 753 H. Ketika beliau melakukan perjalanan ke wilayah Nusantara, beliau menyebutnya dengan nama Jazirah Jawa   (جزيرة الجاوة). Ibnu Batutah menjelaskan:

 

وصلنا إلى جزيرة الجاوة، وهي التي ينسب إليها اللبان الجاوي، رأيناها على مسيرة نصف يوم، وهي خضرة نضرة، وأكثر أشجارها
 النارجيل والفول والقرنفل والعود الهندي والشمس والبركي والعميل والجنون والنرنج الحلو وقصب الكافور

 

Kata Ibnu Batutah: "Sampailah aku di suatu wilayah yang dinisbatkan kepada wilayah ini kemenyan Jawa, wilayah ini sangat enak di pandang, kebanyakan pohon yang tumbuh di wilayah ini adalah pohon kelapa, lada, kayu gaharu, kapur dan lain sebagainya"

 

Perlawatan ke tanah Jawa ini beliau abadikan dalam karya nya yang diberi judul Tuhfatu Nudhor wa Ghoroibul Asfar wa ajaibul Ansor (hlm. 514)

 

Bahkan penyebutan Jawa ini bertahan sampai ke 14 Hijriyah, orang Arab masih menyebut wilayah Indonesia ini sebagai Jawa. Sayyid Abdurrahman Ba’lawi (1250 H-1320 H) dalam kitab Bughiyyatul Musytarsyidin (hlm.  254). Beliau seorang Mufti di Hadhral Maut Yaman menyebut wilayah Jajahan belanda sebagai Jawa. Inilah keterangan beliau:

 

(مسئلة ي) كل محل قدر عليه مسلم ساكن به على الامتناع من الحربيين في زمن من الأزمان يصير دار إسلام تجري عليه أحكامه في ذلك الزمان وما بعده وإن انقطع امتناع المسلمين باستيلاء الكفار عليهم ومنعهم من دخوله وإخراجهم منه وحينئد فتسميته 
دار حرب صورة لا حكما فعلم أن أرض بتاوي وغالب أرض جاوة دار إسلام لاستيلاء المسلمين عليها سابقا قبل الكفار.

 

Maka dari itu penyebutan istilah Jawa ini bukan hanya merujuk pada pulau Jawa yang sekarang saja, tetapi benar-benar wilayah Asia Tenggara sekarang, karena dalam pernyataan Al-Hamuwi di atas menyebutkan bahwa Jawa ini adalah ujung selatan dari wilayah Shin, artinya Jawa ini masih di wilayah Shin, namun berada di ujungnya yang berbatasan dengan laut, kemudian dalam pandangan Ba’lawi Jawa ini adalah wilayah yang dijajah oleh Belanda. Dan Indonesia merupakan wilayah yang dijajah oleh Belanda.

 

Dari penjelasan-penjelasan  para ahli di atas, akhirnya untuk sementara saya berpandangan bahwa Masyarakat Nusantara yang dulu wilayahnya disebut dengan nama "Jazirah Jawa" yang merupakan bagian dari ujung wilayah Shin atau bisa dikaitkan dengan keterangan Ad-Darimi di atas sebagai الصين الاقصى (Shin Jauh) telah mendapatkan pencerahan agama oleh Iskandar Dzul Qornain yang mengajarkan agama berdasarkan syariatnya Nabi Ibrahim, sedangkan Nabi Muhammad SAW dalam beberapa ayat Al-Qur'an diperintahkan untuk mengikuti ajarannya Nabi Ibrahim yang Hanif:

 

Sebagaimana dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 123:

 

ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

 

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.” 

 

Saya berpendapat bahwa Ayat ini menjadi bukti nyata, bahwa ajaran Islam Nabi Muhammad SAW tidak terlalu berbeda dengan ajarannya Nabi Ibrahim, bahkan secara jelas Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengikuti ajarannya Nabi Ibrahim. Dalam beberapa keterangan juga disebutkan bahwa Nabi Muhammad sebelum di utus menjadi Nabi beliau adalah pengikutnya ajaran Hanif Ibrahim. Dan banyak sekali keterangan tentang keterhubungan ajaran Nabi Muhammad SAW dengan ajarannya Nabi Ibrahim AS.

 

Jika kisah di atas benar adanya, berarti jauh sebelum agama Hindu, agama Budha masuk ke Nusantara, ajaran nya Nabi Ibrahim telah di sebarkan di bumi Nusantara ini, kenapa begitu?

 

Karena dalam beberapa buku-buku sejarah disebutkan bahwa Agama Hindu dilahirkan di India pada tahun 1500 SM, dan masuk ke Nusantara sekitar tahun 78 M. Dengan bukti prasasti yang ditemukan di Kalimantan Timur (Kutai), dan di Bogor (kerajaan Tarumanegara).

 

Sedangkan dalam kitab Badai'u Dzuhur disebutkan bahwa Nabi Ibrahim hidup sekitar 2200 tahun SM. Bahkan dalam kitab Hayatul Anbiya disebutkan bahwa Nabi Ibrahim sedup sekitar 3300 SM. 

 

Catatan ini menunjukan sangat tua nya ajaran agama yang telah disebarkan di bumi Nusantara, sebum lahirnya Hindu, Budha apalagi Kristen.

 

Hingga akhirnya, ketika Ajaran Islam di dakwah kan di wilayah Nusantara oleh para da'i, maka masyarakat Nusantara secara antusias memeluk Islam, dan hingga sekarang Islam menjadi agama yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat Indonesia, hal itu disebabkan mereka merasa bahwa ajaran inilah sebenarnya yang diajarkan dulu oleh nenek moyang mereka.

 

Itulah sekelumit kisah agama nenek moyang masyarakat Nusantara.

 

Ade Opa Mustofa, Kiai Muda asal Waluran Jampang Kabupaten Sukabumi

Terkait

Sejarah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×