• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 18 Juni 2024

Hikmah

KOLOM BUYA HUSEIN

Apakah Kita Masih Ikut Nabi atau Tidak Ya?

Apakah Kita Masih Ikut Nabi atau Tidak Ya?
(Ilustrasi: NU Online).
(Ilustrasi: NU Online).

Hari-hari kita belakangan ini ramai ajakan yang mendesak dari sejumlah orang atau kelompok untuk kembali kepada al Qur'an dan Hadits Nabi. Tidak boleh ke yang lain. Yang tidak mengikutinya disebut bid'ah, sesat dan konsekuensinya masuk neraka. Ini kata mereka didasarkan pada hadits Nabi :


"Siapa saja yang membuat-buat hal baru dalam urusan agama kita, maka tertolak". Ini kemudian dikenal sebagai " Bid'ah", Bid'at. Lalu kata Nabi lagi : "Setiap bid'ah adalah sesat. Setiap kesesatan niscaya masuk neraka".


Jadi, jika demikian, maka setiap inovasi atau kreativitas itu terlarang dalam Islam dan berbahaya ya?. Duuh. Celaka nih.


Nah. Saat aku mengaji kitab "Akhlaq al Nabi wa Adabuhu", seorang santri bertanya:


Rumah Nabi amat sederhana, sangat bersahaja. Kecil. Lantainya pakai tikar, tidak permadani. Rumah kita banyak yang bertingkat, megah, mewah. Luas, lantainya bagus, pakai permadani.


Kendaraan Nabi unta, kuda atau keledai. Kita sepeda motor, mobil, kereta api atau pesawat, dan lain-lain.


Nabi makannya kurma, roti gandum, buah anggur. Kita makan nasi, sate ayam, lele bakar atau bebek goreng.


Saat masuk shalat Nabi minta Bilal Azan dengan suaranya yang keras. Kita azan pakai speaker.


Sebagai muballigh, Nabi bicara lembut dan santun. Banyak di antara muballigh kita bicara keras, kasar dan marah-marah.


Saat Allah menurunkan al Qur'an, nabi tidak membaca "Mushaf", lembaran-lembaran kertas yang bertuliskan huruf-huruf. Kita membacanya melalui Mushaf yang sudah bertanda, ada yang berwarna.


Nabi berpakaian jubah, gamis, Tob. Kita pakai celana panjang atau sarung. Dan masih sangat banyak, bahkan tak bisa dihitung macamnya yang tidak ada pada masa Nabi.


Jadi bagaimana ya?. Kita ini masuk neraka ga ya?. Apa kita harus kembali hidup sebagaimana dalam kebudayaan dan tradisi Nabi ya?.


Aku mendengarkan saja. Sambil tersenyum-senyum.


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU


Hikmah Terbaru