Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Membentuk Manusia Seutuhnya 

Membentuk Manusia Seutuhnya 
Membentuk Manusia Seutuhnya 
Membentuk Manusia Seutuhnya 

Pembangunan yang kita laksanakan tidaklah hanya bertumpu pada pembangunan fisik materil, tetapi juga pembangunan mental spritual. Pembangunan yang mengutamakan keseimbangan tersebut merupakan cara yang paling tepat untuk membentuk suatu masyarakat yang adil dan makmur, masyarakat yang memperoleh kemajuan-kemajuan yang tinggi disertai ketenangan dan ketentraman lahir serta batin.


Agar dapat membentuk masyarakat yang dicita-citakan itu, maka pembangunan manusia seutuhnya merupakan suatu keharusan yang tidak dapat diabaikan atau ditunda-tunda.


Manusia, sebagaimana kita ketahui, terdiri dari dua unsur yaitu jasmani da rohani, keduanya harus mendapatkan penjagaan dan perawatan yang sama. Rohani dan jasmani manusia merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dicerai-pisahkan. Keduanya saling terkait dan berkelindan, bila rusak salah satunya, maka rusak pula yang lain.


Manusia dalam kehidupannya di dunia ini tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan jasmani dan rohaninya. Kebutuhan jasmani atau fisik manusia berupa sandang, pangan dan perumahan, juga kebutuhan lain. Seperti kesehatan, olah raga dan sebagainya. Kebutuhan rohani dan mentalnya terdiri dari ilmu pengetahuan, pengalama kejiwaan dan agama.


Kedua kebutuhan itu sangat diperlukan setiap diri manusia, karena itu bila ia tidak memperolehnya atau kebutuhannya tidak terpenuhi maka hidupnya akan merana, megalami kegoncangan-kegoncangan dan kerusakan. Manusia yang bertakwa kepada Allah SWT selalu menjalani kehidupan yang seimbang, baik dalam kehidupan duniawi ataupun kehidupan ukhrawi. Manusia muslim selalu diarahkan agar selalu berusaha untuk memperoleh kebahagiaan di dunia, namun tidak melupakan akhirat. Keseimbangan seperti itu tergambar dalam doa yang selalu diucapkan:


رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ 


"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Q.S. Al-Baqarah, 2: 201).


Agar dapat memperoleh kehidupan yang seimbang dan serasi kita diperintahkan agar menghargai waktu. Sesungguhnya amat merugi dan tercela manusia yang kosong dari aktivitas kehidupan dunia dan akhirat.


Manusia yang menyia-nyiakan waktu akan mengalami kerugian yang sangat besar dalam segala kehidupannya. Kerugian itu tidak akan dapat ditebus atau dihapuskan untuk selama-lamanya. Pembangunan bidang fisik atau lahiriah terdiri dari pembangunan ekonomi, industri, pertanian, perhubungan dan berbagai sarana lain yang dibutuhkan. Pembangunan bidang mental mencakup pendidikan, pendalaman ajaran agama, pengembangan kemampuan akal dan fikiran, penajaman kalbu dan berbagai kegiatan lain yang serupa dengan itu. 


Pembangunan rohaniah atau mental harus diawali dengan kebersihan dan kesucian jiwa. Jiwa yang suci dan bersih akan memancarkan berbagai aktifitas yang jernih dan terpuji yang mengarah kepada ketentraman masyarakat. Apabila rohani atau jiwa telah mengalami kerusakan atau menjadi kotor, maka akan menimbulkan aktivitas dan perilaku yang tercela, yang mendatangkan kerusakan dan kehauncuran dalam masyarakat. Allah SWT berfirman:


قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا 


“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.(Q.S. Al-Syams, 91: 9-10)


Kita harus menyadari bahwa berhasil atau tidaknya pembangunan yang dicanangkan sangat bergantung pada manusiannya. Bila manusianya baik dan berkualitas maka pembangunan akan berhasil, sebaliknya bila manusianya buruk dan tidak memiliki kemampuan yang dapat diandalkan maka pembangunan akan mengalami kegagalan. Agama yang mengajarkan manusia agar selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaannya, memiliki peran yang sangat dominan dalam membentuk manusia seutuhnya yang menjadi pelaku pembangunan yang direncanakan.
Iman dan takwa merupakan pondasi yang kokoh bagi landasan suatu pembangunan, sebagaimana dijelaskan firman Allah:


أَفَمَنۡ أَسَّسَ بُنۡيَٰنَهُۥ عَلَىٰ تَقۡوَىٰ مِنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٍ خَيۡرٌ أَم مَّنۡ أَسَّسَ بُنۡيَٰنَهُۥ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٖ فَٱنۡهَارَ بِهِۦ فِي نَارِ جَهَنَّمَۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ 


“Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim”. (Q.S. Al-Taubah, 9:109).


Betapa banyaknya pembangunan yang dilakukan oleh suatu umat dengan segala daya, dana dan tenaga, kemudian mengalami kegagalan bahkan kehancuran yang mengerikan, karena manusia-manusianya tidak baik, pelaku pembangunannya berbuat kejahatan dan kedzaliman.


Hal ini cukup menjadi pelajaran bagi setiap orang yang memiliki akal dan fikiran, agar tidak terjadi pada diri dan masyarakatnya. Allah SWT memperingatkan.


فَكَأَيِّن مِّن قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَٰهَا وَهِيَ ظَالِمَةٞ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَبِئۡرٖ مُّعَطَّلَةٖ وَقَصۡرٖ مَّشِيدٍ 


“Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi”.(Q.S. Al-Hajj, 22:45).


Berhasil atau gagalnya pembangunan yang dicita-citakan sangat bergantung pada manusianya. Bila manusianya baik dan berkualitas, pembangunan itu akan sukses. Bila manusianya buruk dan tidak berkualitas, niscaya akan menemui kegagalan yang sangat fatal.


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×