• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Minggu, 23 Juni 2024

Taushiyah

KOLOM KH ZAKKY MUBARAK

Halal Bihalal Sebagai Perwujudan Silaturahim

Halal Bihalal Sebagai Perwujudan Silaturahim
(Ilustrasi: NU Online).
(Ilustrasi: NU Online).

Tradisi yang sudah melembaga pada masyarakat Nusantara adalah Halal bi Halal yang merupakan pengejawantahan dari silaturrahim. Halal bi Halal meskipun teksnya berbahasa Arab yang berarti al-Afwu bil Afwi atau saling bermaafan antara sesama umat manusia. Ia merupakan tradisi khas di kalangan masyarakat muslim di Indonesia yang tidak dijumpai di negara-negara muslim yang lain, termasuk di Timur Tengah.


Setelah melaksanakan puasa Ramadhan sebulan penuh, umat Islam meyakini bahwa dosa-dosa masa lalu telah dihapuskan, sesuai dengan bimbingan dari Nabi SAW: “Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan iman dan keikhlasan, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari, 2014).


Hadits serupa itu disebutkan juga mengenai kaum muslimin yang melaksanakan qiyam Ramadhan atau shalat taraweh: “Barang siapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan (shalat taraweh) dengan iman dan ikhlas, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Muslim, 760).


Berdasarkan dua hadits di atas dan hadits-hadits lain mengenai shiyam Ramadhan, demikian juga yang ditegaskan al-Qur’an, maka ibadah puasa itu terdiri dari dua bagian. Bagian yang pertama adalah puasa lahiriyah yang terdiri dari meninggalkan makan, minum dan bercampur dengan istri dari subuh sampai maghrib, dan yang kedua puasa ruhaniyah. Puasa ini terdiri dari menjaga lisan, pendengaran, pandangan mata, dan anggota badan lain dari aktivitas yang tercela.


Puasa ruhaniah yang lebih tinggi lagi adalah memerangi hawa nafsu, karena itu nabi menyampaikan: “Orang yang berjihad adalah orang yang memerangi hawa nafsunya dalam rangka mentaati perintah Allah”. (HR. Tirmidzi, 1621).


Demikian agungnya kedudukan shiyam Ramadhan dan ibadah-ibadah lain, sehingga momentum itu merupakan saat-saat yang membahagiakan umat Islam. Setelah mereka selesai melaksanakan kegiatan Ramadhan, maka di waktu lebaran dan hari-hari berikutnya, dilanjutkan dengan aktivitas yang sangat terpuji. Sebagian dari aktivitas itu adalah merajut silaturrahim dengan kedua orang tua, kerabat dekat, para tetangga, baik yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, dan seluruh umat Islam.


Aktivitas silaturrahim ini dilakukan dengan menjumpai banyak orang, bisa berjumlah ratusan. Bayangkan apabila hal itu dilakukan untuk mengunjungi orang demi orang, misalnya mengunjungi tiga ratus orang, pasti memerlukan waktu berbulan-bulan. Inilah salah satu kecerdasan ulama-ulama Nusantara para pendahulu kita untuk mewujudkan silaturrahim yang efektif dan efisien dengan mengadakan Halal bi Halal.


Dalam acara Halal bi Halal yang kita lakukan, hanya memerlukan waktu sekitar dua jam untuk menjalin silaturrahim dengan ratusan orang. Dalam acara tersebut, kita saling bertemu, saling menebarkan salam kedamaian, dan merajut cinta kasih. Dengan acara seperti ini, maka umat Islam akan terus menjalin persatuan dan persahabatan serta mewujudkan rencana-rencana besar yang digagas untuk kemajuan masa depan. Gagasan itu terletak pada usaha mewujudkan karya-karya besar yang spektakuler yang mendatangkan kemaslahatan bagi semua manusia dan makhluk lain.


Dr. KH. Zakky Mubarak, MAsalah seorang Mustasyar PBNU


Taushiyah Terbaru