Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Antara Ikhlas dan Riya

Antara Ikhlas dan Riya
Antara Ikhlas dan Riya.
Antara Ikhlas dan Riya.

Ada dua sifat yang menempel pada manusia, yang saling bertentangan satu dengan yang lainnya dan bersifat antagonis, tidak bisa dikompromikan yaitu sikap ikhlas dan riya. Ikhlas merupakan sifat yang sangat terpuji yang dapat mengarahkan manusia pada kemuliaan dan keluhuran akhlak. Sikap riya merupakan sifat yang sangat tercela, yang dapat mencampakkan manusia pada lembah kehinaan dan kenistaan. Riya dapat menghilangkan pahala dari ibadah dan amal seseorang sehingga menjadi sirna, bagaikan api membakar jerami.


Setiap diri orang muslim diarahkan ajaran agamanya agar meningkatkan kualitas ibadat dan mu’amalat dengan sikap ikhlas, semata-mata mencari ridha Ilahi.


Ikhlas menurut pengertian ringkasnya adalah melakukan sesuatu dengan hati yang bersih dan jujur. Seorang muslim ketika melaksanakan suatu kegiatan harus didasari dengan keikhlasan. Segala kegiatan, baik ibadah maupun muamalah, hendaknya dilakukan karena Allah saja, bukan karena yang lain. Allah SWT. berfirman:


وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ 


“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus” (Q.S. Al-Bayyinah, 98:5).


Ayat yang lain, menjelaskan bahwa sesungguhnya al-Qur’an diturunkan dengan membawa kebenaran dan mengarahkan umat manusia agar memurnikan ketaatan mereka kepada Allah SWT. Tuhan yang Maha Perkasa dan Bijaksana serta Maha Pemberi Petunjuk.


إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ 


“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran, sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya”. (Q.S. Al-Zumar, 39: 2).


Dalam lanjutan ayat berikutnya, ditegaskan bahwa agama yang bersih adalah milik-Nya. Dengan demikian agama atau keyakinan yang telah tercampur di dalamnya kebatilan tidak diridhai oleh-Nya.


أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ 


“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih....”. (Q.S. Al-Zumar, 39: 2).


Dalam surat Al-Kahfi disebutkan bahwa siapa yang ingin memperoleh kebahagiaan yang paling tinggi dan mulia, hendaklah mereka melakukan amal shalih dan tidak menyekutukan Allah. Melakukan amal shalih berarti melakukan berbagai kegiatan yang mendatangkan menfaat bagi sesama makhluk. Dengan demikian mereka mengerjakannya dengan penuh keikhlasan dan menghindarkan diri dari kemusyrikan dan kemunafikan. Firman Allah s.w.t.


قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا 


“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa sepertimu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (Q.S. Al-Kahfi, 18: 110).


Rasulullah Muhammad SAW. pernah ditanya seorang sahabatnya mengenai mereka yang berperang karena ingin dipuji, berperang karena riya, berperang disertai dengan kebearian atau berperang karena fanatisme. Nabi ditanya manakah diantaranya yang termasuk perang di jalan Allah? Nabi menjawab: 


مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ أَعْلَى، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ (رواه مسلم)


“Barangsiapa yang berperang untuk menjunjung agama Allah, ialah yang termasuk fi sabililah (perang di jalan Allah)”. (HR. Muslim, No: 1904).


Sikap ikhlas dalam beribadah, berbuat dan beramal selalu diutamakan dalam ajaran Islam. Ia juga merupakan tolak ukur diterima atau ditolaknya ibadah yang dikerjakan seseorang.


Riya, pengetiannya secara singkat adalah melakukan suatu ibadah atau perbuatan agar dilihat dan dipuji orang lain, tidak dikerjakan karena Allah saja, atau tidak mencari keridhaan-Nya. Riya tergolong sifat yang sangat tercela, karena setiap orang yang melakukannya akan digolongkan menjadi pendusta agama, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:


أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ 


“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”. (Q.S. Al-Ma’un, 107:1-7).


Manusia yang tergolong bersikap riya, bisa diidentifikasikan dalam kriteria berikut ini: (1) Mereka yang tidak ikhlas dan tidak mengikuti sunnah Rasul, (2) Orang yang beramal dilakukan secara ikhlas tetapi tidak mengikuti ajaran Rasulullah, misalnya mereka yang merasa melakukan ibadah dan beramal tetapi tidak berdasarkan pada syari’at Islam. (3) Mereka yang mengikuti syari’at Islam tetapi tidak dilakukan secara ikhlas. Mereka melakukan kegiatan agama dengan tujuan agar memperoleh pujian orang lain, kedudukan atau kemewahan duniawi.


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×