Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Karakter Ulama Menurut Al-Quran dan Sunnah 

Karakter Ulama Menurut Al-Quran dan Sunnah 
Rais Syuriah PWNU Jawa Barat, KH Abun Bunyamin. (Foto: M Rizqy F).
Rais Syuriah PWNU Jawa Barat, KH Abun Bunyamin. (Foto: M Rizqy F).

Oleh: KH. Abun Bunyamin

 

 وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ​​​​​​ غَفُوْرٌ ٢٨ ﴾ ( فاطر/35: 28)

 

"(Demikian pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun," (Fatir/35:28) Terjemah Kemenag 2019.

 

Siapakah Ulama Itu?
Secara bahasa, ulama merupakan bentuk jama’ (plural) dari kata al ‘alim, artinya orang yang berilmu atau orang yang mengetahui, yang terambil dari akar kata yang berarti “mengetahui secara jelas”.

 

Adapun menurut istilah, banyak ulama mendefinisikan tentang hakikat dari ulama, diantaranya Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Ibnu katsir Ketika menafsiri ayat:

 

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ ٢٨ ﴾ ( فاطر/35: 28)

 

"Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun," (Fatir/35:28)

 

Menurut ibnu katsir, Yang takut (khosyah) kepada Allah dengan sebenar-benarnya khosyah hanyalah para ulama yang mengenal Allah (Al-‘arif Billah). Karena, setiap kali pengetahuan tentang Allah yang mahaagung lagi mahamengetahui serta memiliki sifat-sifat yang sempurna yang disifati dengan al asma`ul husna, maka setiap kali itu pula ma`rifat dan keyakinan kepada Allah semakin sempurna, dan rasa takut itu semakin besar dan semakin banyak.

 

Sehingga dapat ditarik simpulan dari perkataan beliau, bahwa ulama itu adalah hanyalah yang ‘arif billah yang memiliki khosyah kepada Allah. Semakin ia mengenal Allah, semakin besar pula khosyahnya kepada Allah.

 

قال علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس في قوله تعالى : ( إنما يخشى الله من عباده العلماء ) قال : الذين يعلمون أن الله على كل شيء قدير

‘Ali bin Abi Thalhah berkata, beliau meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah Qs. Fathir: 28, beliau berkata: Ulama itu adalah orang-orang yang mengetahui dan meyakini bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu.

 

قال ابن لهيعة ، عن ابن أبي عمرة ، عن عكرمة ، عن ابن عباس قال : العالم بالرحمن من لم يشرك به شيئا ، وأحل حلاله ، وحرم حرامه ، وحفظ وصيته ، وأيقن أنه ملاقيه ومحاسب بعمله

 

"Ibnu Luhai’ah berkata, beliau meriwayatkan dari Ibnu Abi ‘Amroh, dari Ikrimah dan dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Orang yang mengenal Allah adalah orang yang sedikitpun tidak menyekutukan Allah, mengalalkan apa yang dihalkanNya, mengharamkan apa yang diharamkanNya, menjaga wasiatNya dan ia meyakini bahwa ia akan berjumapa denganNya dan amalnya akan dihisab Allah,".

 

Apa itu khosyah? 

 

وقال سعيد بن جبير : الخشية هي التي تحول بينك وبين معصية الله عز وجل

 

Menurut Said bin Jubair, khosyah itu adalah sesuatu yang menghalangi antara dirimu dan maksiat kepada Allah Swt.

 

وقال الحسن البصري : العالم من خشي الرحمن بالغيب ، ورغب فيما رغب الله فيه ، وزهد فيما سخط الله فيه ، ثم تلا الحسن : ( إنما يخشى الله من عباده العلماء إن الله عزيز غفور)

 

Hasan Al Bashri berkara: Ulama adalah orang yang takut kepada Allah dalam keadaan sendirian, senang denga napa yang disenangi dan dicintai Allah, zuhud terhadap apa yang dibenci Allah.

 

وعن ابن مسعود ، رضي الله عنه ، أنه قال : ليس العلم عن كثرة الحديث ، ولكن العلم عن كثرة الخشية

 

Ibnu Mas’ud berkata: ilmu itu bukan dengan memperbanyak bicara, akan tetapi ilmu itu adalah dari banyaknya takut kepada Allah.

 

وقال أحمد بن صالح المصري ، عن ابن وهب ، عن مالك قال : إن العلم ليس بكثرة الرواية ، وإنما العلم نور يجعله الله في القلب .

 

Ahmad bin Shalih Al Mishri, dari Wahab, dari Malik, beliau berkata: Sesungguhnya ilmu itu bukanlah banyaknya riwayat, akan tetapi ilmu itu hanyalah cahaya yang dijadikan oleh Allah di dalam hati. 

 

وقال سفيان الثوري ، عن أبي حيان [ التميمي ] ، عن رجل قال : كان يقال : العلماء ثلاثة : عالم بالله عالم بأمر الله ، وعالم بالله ليس بعالم بأمر الله ، وعالم بأمر الله ليس بعالم بالله . فالعالم بالله وبأمر الله : الذي يخشى الله ويعلم الحدود والفرائض . والعالم بالله ليس بعالم بأمر الله : الذي يخشى الله ولا يعلم الحدود ولا الفرائض . والعالم بأمر الله ليس بعالم بالله : الذي يعلم الحدود والفرائض ، ولا يخشى الله عز وجل .

 

Sufyan Ats Tsauri berkata, beliau meriwayatkan dari Abi Hayyan At Tamimi, dari seorang laki-laki, beliau berkata: Ulama itu ada tiga: Pertama, ulama yang mengenal Allah dan mengetahui perintahNya. Kedua, ulama yang mengenal Allah akan tetapi tidak mengetahui perintah-Nya, dan ketiga yaitu ulama yang mengetahui perintah Allah akan tetapi tidak mengenal-Nya.

 

Ulama yang pertama adalah ulama yang takut kepada Allah dan mengetahui batasan-batasan (hudud) dan kewajiban-kewajiban dari Allah. Ulama yang kedua adalah ulama yang takut kepada Allah akan tetapi ia tidak mengetahui batasan-batasan (hudud) dan kewajiban-kewajiban dari-Nya. Dan ketiga adalah ulama yang mengetahui batasan-batasan (hudud) dan kewajiban-kewajiban dari Allah akan tetapi ia tidak memiliki rasa takut kepada Allah Swt.

 

Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Ulama

 

اَلْعُلَمَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ عَلَى عِبَادِ اللّٰهِ مَالَمْ يُخَالِطُوا السُّلْطَانَ وَيُدَاخِلُوْا الدُّنْيَا فَإِنْ خَالَطُوْا السُّلْطَانَ وَدَخَلُوْا فِي الدُّنْيَا فَقَدْ خَانُوْا الرُّسُلَ فَاحْذَرُوْهُمْ وَاعْتَزِلُوْهُمْ  (أخرجه الديلمي والرافعي)

 

Ulama itu adalah pemegang amanah para utusan (rasul) atas hamba-hamba Allah Swt., selama mereka tidak bergaul dengan penguasa (sulthan), dan memasuki urusan dunia. Namun apabila mereka telah bergaul dengan penguasa dan telah memasuki urusan dunia maka sungguh mereka telah mengkhianati para rasul, maka berhati-hatilah kepada mereka dan jauhilah mereka. (HR. Ad Dailami dan Ar Rafi’i). 

 

لاَ تَجْلِسُوْا عِنْدَ كُلِّ عَالِمٍ إِلاَّ عَالِمٍ يَدْعُوْكُمْ مِنَ اْلخَمْسِ إِلَى اْلخَمْسِ، مِنَ الشَّكِّ إِلَى اْليَقِيْنِ، وَمِنَ اْلكِبْرِ إِلَى التَّوَاضُعِ، وَمِنَ اْلعَدَاوَةِ إِلىَ النَّصِيْحَةِ، وَمِنَ الِّريَاءِ إِلَى اْلِإخْلَاصِ، وَمِنَ الَّرغْبَةِ إِلَى الزُّهْدِ.

 

Janganlah kalian duduk (belajar) kepada setiap orang alim, kecuali orang alim yang mengajak kalian dari lima hal menuju lima hal yang lain: Pertama, dari keragu-raguan menuju keyakinan. Kedua, dari kesombongan menuju ketawadhu’an. Ketiga, dari permusuhan menuju perdamaian. Keempat, dari riya menuju ikhlas, dan kelima, dari ketamakan menuju zuhud. (HR. Ibnu ‘Asyakir dari Jabir ra.)

 

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

 

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak (HR. Abu Dawud).

 

Datang kepada sulthan bahkan menjadi sulthan sekalipun, bagi ulama tidak dilarang asal tujuannya untuk mauidzoh hasanah dan amar ma’ruf nahyi munkar. Intinya untuk kemaslahatan bangsa adalah boleh bahkan bisa wajib demikian pula menjadi ulama jadi pengusaha.

 

Penulis merupakan Rais Syuriah PWNU Jawa Barat

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×