• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Rabu, 24 April 2024

Sejarah

Ramadhan, Soekarno Proklamirkan Kemerdekaan dan Nalar Primordial Indonesia

Ramadhan, Soekarno Proklamirkan Kemerdekaan dan Nalar Primordial Indonesia
(Ilusrasi: NU Online).
(Ilusrasi: NU Online).

Ramadhan adalah bulan mulia dalam pandangan seluruh umat Islam, termasuk umat Islam di Indonesia. Ramadhan dianggap mulia karena di dalamnya ada perintah ibadah puasa (QS al-Baqarah [2]: 183).  Dalam Ramadhan setiap laku ibadah dilipat gandakan pahalanya. Dalam Ramadhan pula, ada satu waktu dimana waktu itu lebih mulia dan bernilai dari seribu bulan, yakni malam Lailatul Qadar (QS al-Qadr [97]: 1-5). 


Namun tidak hanya itu, bagi umat Islam Indonesia Ramadhan dianggap mulia dan sakral karena di bulan itu bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. 


Ada satu cerita mengapa Ramadhan, tanggal 17, hari Jum'at oleh Soekarno pada waktu itu dijadikan waktu yang tepat untuk memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. 


"Tujuh belas adalah angka yang suci. Tujuh belas adalah angka keramat. Pertama-tama, kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita berpuasa hingga Lebaran." Demikian jawaban Soekarno atas pertanyaan Sukarni dkk saat didesak  untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. 


Singkat cerita Soekarno akhirnya memilih tanggal 17 Agustus 1945 tepat 9 Ramadhan di hari Jum'at Legi (Manis) memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia.


"Hari Jum'at ini Jum'at Legi. Jum'at yang manis. Jum'at suci. Dan hari Jum'at tanggal 17. Al-Qur'an diturunkan tanggal 17. Umat Islam melakukan sembahyang shalat 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 rakaat, bukan 10 atau 20? Karena kesucian angka 17 bukan buatan manusia," kata Soekarno sebagaimana dikutip buku "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" Cindy Adams. 


Pemilihan tanggal 17 sebagai tanggal yang tepat untuk kemerdekaan Indonesia juga direncanakan Soekarno sesaat setelah dirinya berada di Saigon ketika bertemu Panglima Tertinggi Pasukan Jepang di Asia Tenggara, Jenderal Terauchi. 


"Ketika aku pertama kali mendengar berita penyerahan Jepang, aku berpikir kita harus segera memproklamirkan kemerdekaan. Kemudian aku menyadari, adalah takdir Tuhan bahwa peristiwa ini akan jatuh di hari keramat-Nya. Proklamasi akan berlangsung tanggal 17. Revolusi akan mengikuti setelah itu," pikir Soekarno sebagaimana dikutip buku yang sama. 


Selain itu saya rasa, sang proklamator memilih tanggal 17 sebagai hari yang tepat untuk kemerdekaan juga berdasarkan atas pemahamannya akan nalar primordial masyarakat Indonesia. Nalar primordial masyarakat Indonesia yang saya maksud adalah Papat (Kiblat) Kalimo Pancer orang Jawa. 


Papat Kalimo Pancer merupakan pemikiran orang Jawa yang berasumsi bahwa anasir kehidupan ini terbagi menjadi empat bagian dengan satu pusat sebagai pancernya. Misalnya arah mata angin alam semesta terbagi menjadi empat yaitu utara, selatan, timur, barat, dengan tengah sebagai pusat (pancer). Hitungan hari orang Jawa pun terbagi empat dengan satu pusatnya yaitu legi, pahing, pon, wage, dan kliwon sebagai pusat. Struktur alam pun dibagi empat yaitu air, tanah, angin, api, dan alam. Nafsu dibagi menjadi empat yaitu lauwamah (serakah), amarah, supiah (cinta), mutmainah (jujur), dan budi (kama) sebagai pancernya.


Jika diadaptasikan kepada angka-angka, papat kiblat kalimo pancer itu sebagaimana berikut:  ruang alam semesta dibagi menjadi empat -atau kelipatannya-sudut/arah dengan satu pusatnya (pancer) di tengah-tengah (4+1): timur-barat-(tengah)-utara-selatan. Jika ganda, maka arah ruangnya menjadi 8+1: timur-barat-utara-selatan (tengah)-timur laut-barat daya-tenggara-barat laut. Dengan demikian, dari kelipatan 4+1, menjadi 8+1, 16+1, 32+1, dst.  Inilah kiranya, bilangan  5, 9, 17 menjadi angka sakral bagi masyarakat Indonesia. 5 adalah Pancasila, 9 adalah Wali Songo. Adapun 17, maknanya sama dengan 5 dan 9 yakni papat kalimo pancer


Adapun untuk konsep Wali Songo sebagaimana diungkap dalam penelitian Simuh (1986), dan penelitian R. Pitono dalam buku Warna Sari Sedjarah Indonesia Lama II (1969), disebutkan bahwa konsep Wali Songo itu sebenarnya merujuk pada proses pengambil-alihan konsep Nawa Dewata yang bersifat Hinduistik menjadi konsep sembilan wali yang bersifat sufistik Islam.


Menurut Simuh, bahwa kosmologi budaya Hindu-Jawa pada saat itu adalah adanya keyakinan akan alam semesta ini yang diatur dan dilindungi oleh delapan dewa-dewa penjaga arah mata angin yaitu: Kuwera (Utara), Isyana (Timur Laut), Indra (Timur), Agni (Tenggara), Kama (Selatan), Surya (Barat Daya), Baruna (Barat), Bayu (Barat Laut), dan satu penjaga titik pusatnya yaitu Syiwa sehingga jumlah keseluruhannya menjadi sembilan.


Selanjutnya, konsep kosmologi Nawa Dewata alam semesta yang dikuasai dan diatur oleh anasir-anasir Ilahi, yang disebut dewa-dewa penjaga arah mata angin di atas diubah menjadi konsep Wali Songo yang dimana kedudukan dewa-dewa penjaga arah mata angin itu digantikan oleh ‘manusia-manusia yang dicintai Tuhan’, yaitu auliya (bentuk jamak dari kata tunggal ‘wali’) yang berjumlah sembilan (songo) yakni Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, Sunan Drajat, Sunan Muria, dan Sunan Kudus. 


Alhasil, pemilihan Ramadhan (sejarah mencatat tanggal 9 Ramadhan), 17 Agustus 1945, dan juga hari Jum'at untuk kemerdekaan bangsa Indonesia bukan hanya hitungan-hitungan biasa semata. Jika dibedah kembali, Ramadhan adalah bulan ke-9 dalam hitungan Hijriah. Agustus adalah bulan ke-8 dalam hitungan masehi. Jum'at sendiri hari istimewa dalam Islam (Rajanya Hari). Angka 9 (8+1), 17 angka sakral bagi masyarakat Indonesia. 


Dari hal itu, tampaknya Allah SWT meridai bangsa Indonesia merdeka sesuai dengan alam pikirannya. Wallahualam.


Rudi Sirojudin Abas, Penulis adalah peneliti kelahiran Garut. Penemu konsep Wali Songo (sembilan wali) di Kabupaten Garut. Konsep tersebut dapat dilihat pada tesis “Religiusitas Masyarakat Cinunuk Garut dalam Struktur Ritual Mulud” (Pascasarjana ISBI Bandung: 2019)


Sejarah Terbaru