• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 27 Mei 2024

Sejarah

Jejak Kota Tua di Garut (3): Cirenda, Kampung Primordial di Leles

Jejak Kota Tua di Garut (3): Cirenda, Kampung Primordial di Leles
(Foto:: NU Online Jabar/Rudi Sirojudin A).
(Foto:: NU Online Jabar/Rudi Sirojudin A).

Pada tulisan-tulisan sebelumnya, saya pernah mengungkap bahwa wilayah Kecamatan Leles termasuk kategori kota tua yang ada di  wilayah priangan timur khususnya di Kabupaten Garut. Asumsi itu didasarkan pada pola dan struktur yang membangun kota Leles itu sendiri. Pengaturan struktur kota yang terdiri dari alun-alun yang dikelilingi oleh lembaga pemerintahan, sosial, agama, hukum, ekonomi dan pendidikan, serta keberadaan kota yang diapit oleh 6 gunung/bukit menjadikan Leles sebagai wilayah primordial. Primordial dalam artian mengandung jejak-jejak nalar tradisi yang dibangun berdasarkan pikiran utama masyarakatnya. 


Begitupun keberadaan Kampung Adat Cangkuang lengkap dengan candinya, pulo (situ/leuwi), sera makam keramat Eyang Embah Dalem Arif Muhammad seolah menambah keyakinan kuat bahwa Leles merupakan sebagai bagian kota tua di Garut. 


Ada lagi satu wilayah (perkampungan) di Leles yang memiliki jejak-jejak primordial, yakni Kampung Corenda di Desa Margaluyu yang terletak di bagian tenggara Leles. Namun saya lebih cocok menyebutnya dengan 'Cirenda'. Untuk alasannya akan saya jawab di akhir tulisan ini. 


Untuk masuk ke Kampung Cirenda, dari arah  jalan raya Garut-Bandung atau sebaliknya, pengunjung tingal belok ke arah Pasar Leles kemudian belok kanan masuk ke Desa Margaluyu terus menuju Kampung Cirenda sejauh kisaran 5 atau 6 KM di ujung desa. 


Jika dari arah timur melalui wilayah  Malangbong, Limbangan, Leuwigoong, dan Banyuresmi, pengunjung tinggal belok kiri menuju Desa Sukarame (dulu bagian dari Desa Margaluyu) menyusuri jalan melewati situ dan situs purbakala Makam (juga keramat) Eyang Jibjamanggala Sukarame. 


Akses ke Kampung Cirenda melalui Desa Sukarame juga dapat dipakai oleh pengunjung dari arah Bandung melalui jalan baru Soekarno-Hatta dari arah Cihuni. Jika saja tidak terkendala dengan amblasnya kendaraan berat di situ Cipondok saat pembangunan projek jalan, akses jalannya akan langsung tiba di Kampung Cirenda. 


Jika pengunjung masuk ke Kampung Cirenda  baik melalui jalur timur atau barat, pengunjung akan menemukan suasana kampung seperti Kampung Larangan dalam istilah Sunda karena harus melewati atau menyusuri bukit.  Kampung atau hutan/leuweung larangan dalam istilah Sunda yakni semacam kampung atau wilayah yang terisolir dan berdiri sendiri. Pada jaman dulu-sekarang juga masih ada seperti di kampung-kampung adat-jika hendak masuk ke kampung larangan, pengunjung harus memiliki izin dari kuncen setempat. Di kampung larangan, untuk menjaga keasrian tempat, biasanya pengunjung tidak boleh sembarangan berucap, bersikap dan berulah termasuk pada hewan dan tumbuhan sekalipun. 


Dan kenyataannya meski sekarang bukan masuk kategori kampung Larangan, secara geografis Kampung Cirenda sendiri termasuk kategori kampung Larangan. Saya menduga Kampung Cirenda jaman dulu masuk kategori kampung Larangan karena terisolir dari kampung yang lain. 


Sesudah menyusuri bukit, pengunjung akan tiba di Kampung Cirenda, sebuah kampung yang diapit oleh 4 bukit. Otomatis jika diapit oleh 4 bukit pintu masuknya juga dari empat sudut. Secara administratif Kampung Cirenda terbagi 3 wilayah (kaler/utara-tengah/pusat-kidul/pojok/selatan), dan terdiri dari 3 RW (14, 15, dan 16). Ketiga RW itu masing-masing dipisah dengan kali/sungai meskipun ukuran kalinya tidak terlalu besar. 


Salah satu hal yang menarik dari Kampung Cirenda yaitu keberadaan mata/hulu air Cai (Ci) Sirahna yang airnya mengalir ke wilayah Malangbong, Limbangan, Cibatu, Leuwigoong dan sekitarnya dan juga mengalir ke Sungai Cimanuk. Karena mengalir ke sungai Cimanuk, tentu air dari Cisirahna akan terus mengalir sampai ke hilir hingga ke laut pantai utara (Pantura) Jawa melalui Indramayu dan sekitarnya. 


Air Cisirahna dikenal masyarakat sebagai air yang memiliki kandungan mineral yang tinggi dan sangat baik yang mampu bertahan dan terus mengalir dengan deras selama ratusan tahun. Karena kandungan mineral baik itulah banyak (terutama pengembang dan pihak pengusaha) yang ingin menjadikannya sebagai komoditi perusahaan air minum. Namun masyarakat setempat tidak mengizinkannya.


Selain dipakai untuk memenuhi kehidupan sehari-hari masyarakat seperti misalnya  mencuci, minum, dan mengairi sawah di sekitarnya, ada juga masyarakat yang menjadikan air Cisirahna sebagai obat. Sebagian mereka menganggap air Cisirahna tidak saja sebagai air yang suci, namun juga air memiliki nilai keberkahan tersendiri. Oleh karenanya, banyak orang yang menjadikan air Cisirahna sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh medis, maka air Cisirahna menjadi alternatifnya. 


Keberkahan air Cisirahna juga dipengaruhi oleh asal-usulnya. Konon, menurut cerita yang berkembang di masyarakat,  air Cisirahna dibuat oleh tokoh setempat yang memiliki ilmu kanuragan dan kebatinan yang tinggi yaitu Eyang Haji Ghani, yang makamnya kini terletak di tempat pemakaman Pasir Leutik, ditembok sedikit tinggi menyerupai bangunan, terpisah dari makam-makam yang lain tepat di pertemuan dua sungai (selokan) kecil. Menurut cerita, semburan air Cisirahna dihasilkan dari bekas tancapan keris pusaka Eyang Haji Ghani.


Selanjutnya mari kita bedah keberadaan Kampung Cirenda beserta struktur-struktur pendukungnya melalui pemikiran primordial masyarakat Indonesia. Pemikiran primordial  yang saya maksud adalah trias politika Sunda, dan opat kalima pancernya, yaitu semacam pembagian kekuasaan dalam pandangan masyarakat Sunda lama. Trias politika Sunda juga kadang disebut Tritangtu atau Pola Tiga. 


Pembagian kekuasaan masyarakat Sunda lama diambil dari pola pembagian kekuasaan pada masyarakat di perkampungan adat Baduy yang membagi kekuasaan kepada tiga kampung, yakni Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo.


Kampung Cikeusik merupakan kampung sakral, kampung pemegang kekuasaan, kampung adat tempat pelaksanaan perayaan ritual.  Kampung Cikertawana merupakan kampung tengah sebagai pelaksana mandat kekuasaan dari Kampung Cikeusik. Sedangkan Kampung Cibeo merupakan kampung terluar sebagai kampung yang bertugas menjaga keamanan dua kampung terdahulunya (Cikeusik dan Cikertawana). Dengan demikian tiga kekuasaan kampung meliputi Cikeusik-Cikertawana-Cibeo dengan fungsinya masing-masing sebagai pemilik kekuasaan (Cikeusik), pelaksana kekuasaan (Cikertawana), dan penjaga kekuasaan (Cibeo).


Jika mengikuti paham di atas, ketiga bagian kampung di Cirenda (kaler/utara-tengah/pusat-kidul/pojok/selatan) itu sama halnya seperti pembagian kampung di Baduy, meskipun tidak jelas mana yang sakral, profan-sakral, dan profannya. Terlebih dengan adanya tambahan yakni tiga corak ajaran Islam yang berkembang di Cirenda yaitu Persis, Muhammadiyah, dan NU seolah menambah keyakinan bahwa Kampung Cirenda memang distuktur sebagai trias politika. 


Adapun angka 16 yang menjadi wilayah terakhir (digunakan untuk identitas RW) mengingatkan saya akan pola papat kalima pancer. Papat kalima pancer merupakan pemikiran orang Jawa (juga Sunda) yang berasumsi bahwa anasir kehidupan ini terbagi menjadi empat bagian dengan satu pusat sebagai pancernya. Misalnya arah mata angin alam semesta terbagi menjadi empat yaitu utara, selatan, timur, barat, dengan tengah sebagai pusat (pancer), berikut kelipatannya timur laut-barat daya-tenggara-barat laut. Untuk hitungannya 4 menjadi 8 menjadi 16. 


Pola papat kalima pancer juga ada dalam jumlah 4 bukit dan 4 arah akses jalan masuk ke Kampung Cirenda. 


Pola papat kalima pancer juga mengingatkan saya pada Kampung Cirenda melalui kisah yang menyelimutinya. Memang, kalau wilayah sakral biasanya dipenuhi dengan cerita atau dongeng yang didalammya tersirat banyak makna. 


Dikisahkan di Kampung Cirenda ada satu sosok manusia linuwih (sakti mandraguna) yang konon tidak bisa meninggal kecuali bagian tubuhnya dipisahkan, semacam ilmu pancasona dan rawarontek. Akhirnya ia meninggal sesuai dengan syaratnya, tubuhnya dipisahkan. Konon, di Cisirahna dan bukit Nangkod  di sebelah timur itulah bagian tubuh manusia linuwih itu dimakamkan. Di Cisirahna tempat bagian tubuh kepala manusia liwunih itu dimakamkan, di bukit Nangkod bagian tubuh punggungnya (Nangkod sendiri dalam bahasa Sunda sebutan untuk sesuatu yang hinggap di bagian belakang tubuh), sementara dua pasang kaki dan tangannya dimakamkan di bukit-bukit yang tersisa.


Terlepas dari benar atau salah kisah tersebut, paling tidak pikiran primordial sudah ada di Kampung Cirenda. Cerita manusia linuwih dengan kesaktian pancasona dan rawarontek adalah bagian pola papat kalima pancer. Secara bahasa, pancasona itu artinya lima yang berakhir. Panca adalah lima, Sona adalah akhir. Panca sendiri bagian dari kalimo pancer. 


Bagi saya Pancasona tidak berarti ilmu hitam, melainkan lima ilmu kesempurnaan. Saya lebih condong pancasona itu sebagai lima syariat dalam Islam: syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Namun yang jelas pancasona adalah papat kalima pancer sebagai kesempurnaan ilmu dalam kehidupan. 


Terakhir, menyoal saya lebih condong menyebut Cirenda dari pada Corenda karena bagi saya masyarakat di Kampung Cirenda sama seperti masyarakat Sunda yang lainnya yang menganggap air sebagai karunia Tuhan yang sakral. Air, bagi masyarakat Sunda, begitu pula bagi manusia dimana pun berada merupakan sebagai inti kehidupan. Oleh karena itulah maka di Sunda banyak daerah, wilayah atau perkampungan yang diawali dengan kata Ci atau Cai. Atas dasar itulah saya lebih cocok menyebut kampung yang sedang dibicarakan dengan memakai awalan Ci, terlebih dengan adanya Cisirahna.


Alhasil, masih banyak kiranya pikiran-pikiran primordial yang belum terungkap terkait dengan Kampung Cirenda. Semoga dilain kesempatan saya dapat menemukannya. Aamiin


Rudi Sirojudin Abas, salah seorang peneliti kelahiran Garut. (Lahir di Ciburial, besar di Cirenda, sekarang tinggal di Cangkuang Kecamatan Leles)


Sejarah Terbaru