• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Ngalogat

KOLOM KH IMAM NAKHA'I

Mau'idzah dan Hikmah

Mau'idzah dan Hikmah
Mau'idzah dan Hikmah
Mau'idzah dan Hikmah

Mau'idah, nasehat, atau taushiyah, tidak selalu baik. Sedangkan "Hikmah" atau bijak selalu baik. Itulah mengapa Al Qur'an memberikan "sifat Al Hasanah" pada kata " Al mau'idzah", sedangkan kata Al hikmah tidak. Itu berarti ada Al mau'idah yang tidak hasanah (tidak baik). Allah berfirman :


ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِیلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَـٰدِلۡهُم بِٱلَّتِی هِیَ أَحۡسَنُۚ


"Ajaklah menuju jalan Tuhanmu dengan cara yang hikmah dan dengan nasehat yang baik. Dan berdebatlah dengan cara yang terbaik"


Kata mau'idzah berbeda maknanya dengan perintah (menyuruh). Jika perintah (amar) bermakna menyuruh melakukan , maka mau'idzah adalah menyuruh melakukan sesuatu disertai dengan alasan logis mengapa ia harus melakukan sesuatu itu, serta menjelaskan apa dampak atau tujuan dari melakukan sesuatu itu. Seperti dikisahkan dalam surat Al Lukman:


وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَـٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ یَعِظُهُۥ یَـٰبُنَیَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِیمࣱ ۝١٣


Ketika Lukman memerintahkan kepada anaknya agar tidak menyekutukan Allah, Lukman menggunakan cara mau'idzah, yaitu memerintahkannya dengan disertai alasan logis mengapa sang putra harus melakukannya. Olehnya Lukman berkata "janganlah sekutukan Allah, karena itu adalah kedaliman yang besar".


Nasehat ayat ini, jika menyuruh anak (juga ummat), gunakanlah cara mau'idzah, artinya sertakan alasan serta tujuan (maqhasid) mengapa ia harus melakukan itu. Cara mau'idzah ini akan menyebabkan anak cerdas berpikir atas segala sesuatu, apa itu, mengapa, dan apa tujuan serta dampak dari mengerjakan perintah itu. Berbeda dengan cara "asal perintah" yang penting "pokoknya". Cara asal atau pokoknya merupakan pembodohan bahkan lebih jauh bisa membunuh pelan pelan nalar kritis anak.


Sekalipun mau'idzah lebih tinggi nilainya dari perintah, namun tidak semua cara mau'idzah itu baik. Banyak mau'idzah-mau'idzah disampaikan tapi justru menyakiti seseorang, konteksnya tidak tepat, membuat kegaduhan atau justru memprofokasi massa untuk melakukan kekerasan dan kerusuhan.


Mengajak orang lain ke jalan Tuhan, tidak cukup dengan mau'idzah hasanah, melainkan juga dengan cara "hikmah".


Hikmah sering diartikan dengan kebijaksanaan. Menurut para ulama syarat untuk menjadi bijak (hakiim) ada tiga; 1. Berilmu (Al ilmu), 2. Kasih (Al Hilmi), dan 3. Tenang dan tidak grusa grusu (Al ana'atu). Seorang yang hanya paham satu pendapat, satu madzhab, hafal satu ayat atau satu-dua hadist, ia tidak bisa bersikap hikmah. Hikmah mengharuskan kedalaman dan keluasan ilmu.


Orang yang memiliki kedalaman dan keluasan ilmu juga tidak bisa bijak jika ia tidak punya sifat welas asih (Al Hilmu). Al ilmu dan Al Hilmu akan sempurna jika disertai sikap tenang dan tidak grusa grusu.


Itulah yang dimaksud "moderasi" dalam dakwah; mau'idzah hasanah, hikmah dan mujadalah al husna (debat dengan cara terbaik). Wallahu A'lam.


KH Imam Nakha'i, salah seorang Wakil Ketua LBM PBNU


Ngalogat Terbaru