Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Akui Saja Kalau Puasa Kita Hanya Sekedar Menggugurkan Kewajiban

Akui Saja Kalau Puasa Kita Hanya Sekedar Menggugurkan Kewajiban
NU Online Jabar/Ilustrai: Nu Online
NU Online Jabar/Ilustrai: Nu Online

Oleh: Muhyiddin
Imam Ghazali, sebagaimana banyak dikutip dalam tausiyah, kultum selama bulan Ramadhan, membedakan tingkatan puasa menjadi tiga tingkatan. Pertama adalah puasa orang awam, yakni puasa hanya sekedar memenuhi syarat rukun sahnya puasa seperti sekedar menahan makan dan minum serta berhubungan badan.

Kedua, adalah puasa khusus. Tingkatan puasa ini dilaksanakan dengan tidak hanya menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh tetapi juga menahan diri dari mengerjakan hal-hal yang makruh. Tidak hanya menahan mulut agar tidak makan minum tetapi juga menjaga mata, menjaga lisan, menjaga prilaku.

Ketiga, puasa khawasul khowas atau khususul khusus. Ini adalah puasanya para pecinta yang menjalankan puasa bukan sekedar memenuhi syarat rukun atau ditambah menghindari hal-hal makruh tetapi juga menghindari hal-hal syubhat sekecil apapun.

Bagaimana dengan puasa kita? Akui saja kalau puasa kita adalah puasanya orang awam. Puasa kita hanya sekedar mengikuti perintah kewajiban puasa di bulan Ramadhan.

Puasa kita adalah puasa kerumunan. Orang dalam kerumunan mengikuti apa yang dilakukan semua dalam kerumunan. Dan itulah kita yang puasa hanya sekedar menahan makan dan minum serta menahan setubuh.

Kebiasaan secara tidak sadar membentuk tingkatan puasa. Kita terbiasa berpuasa tetapi juga terbiasa dengan kalimat “jangan bohong, sedang puasa,” “jangan berkata kasar, ini puasa,” “jangan bicara jorok, ini puasa,” dan kalimat-kalimat semacamnya. Daftarnya bisa kita bikin lebih panjang.

Bahasa memang semena-mena. Terasa netral tetapi tanpa sadar membentuk prilaku, mengarahkan tindakan. Pada awalnya adalah bahasa, begitu linguis menyebutnya. 

Satu lagi kalimat yang terdengar biasa saja tapi terasa absurd: “duh haus tapi sudah ashar sayang kalo batal,” “duh lapar sekali tapi udah jam 5 sayang kalau batal.”

Begitulah puasa kita, puasa orang-orang awam. Seakan-akan kita boleh bohong, boleh berkata kasar, boleh bicara jorok, boleh melanggar syubhat kalau tidak sedang puasa. Padahal semua itu juga dilarang dalam keadaan apapun baik saat puasa ataupun tidak.

Begitupun prilaku kita masih jauh dari ikhlas ketika jam menentukan keberlangsungan puasa kita apakah lanjut atau tidak.

Jadi akui saja kalau puasa kita adalah puasa awam, sekedar tidak makan dan minum selama sekian jam, mungkin hanya satu atau tiga jam karena sehabis subuh kita langsung tidur sampai siang dengan dalih tidurnya orang puasa adalah ibadah.

Akui saja kalau puasa kita adalah puasa awam yang jauh dari ikhlas karena masih sibuk menghitung jam, masih suka menghitung berapa hari lagi lebaran.

Akui saja kalau puasa kita hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Kita ambil saja analogi dari Gus Baha bahwa kita tidak usah berpikir kekhusyuan sholat kita, karena kemauan kita sholat itu saja adalah bentuk kekhusyuan.

Pun demikian dengan puasa awam kita. Kemauan kita untuk melaksanakan kewajiban puasa adalah bentuk keikhlasan puasa kita. Soal diterima atau tidak, sebagaimana dalam hadits Qudsi Allah SWT berfirman: Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalas pahalanya.

Muhyiddin, man on the street, Sekretaris Redaksi jabar.nu.or.id

Terkait

Risalah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×