• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Kamis, 23 Mei 2024

Risalah

Jika Ingin Bati, Bikin Perang

Jika Ingin Bati, Bikin Perang
(Ilustrasi: NUO).
(Ilustrasi: NUO).

Perang tidak lagi hanya dalam bentuknya yang paling archaic : adu fisik, adu senjata. Perang tidak lagi seperti pribahasa Latin sebagai prasyarat damai. Damai yang tercipta dari tumpas kelor yang kalah sehingga tidak ada lagi yang melawan.


Perang tidak lagi simetris, vis a vis tetapi berubah menjadi asimetris: tak tampak wajah, tak tampak senjata, tak tampak pemegang kuasa.


Yang terpantau dari Ukrania hanyalah kelebatan misil, jet tempur, konvoi tank dan serdadu. Yang tidak terpantau kasat mata dan menjadi spekulasi para ahli (beneran) juga ahli dadakan, adalah apa yang sedang ditawar-menawarkan Putin, Zelensky, Rusia, AS, Eropa.


Itu jugalah yang terjadi di Timur Tengah dengan perang yang tak kunjung berujung.


Perang, sekali lagi, bukan lagi fisik. dan itulah yang terjadi di Indonesia : perang baceo, perang urat leher dan lidah, yang sering disebut okeh ahli beneran juga ahli dadakan sebagai perang proxy 


Dalam perang proxy, serdadunya bersenjatakan jempol, lidah, dan urat leher. Serdadu saling sembur argumentasi, saling sembur caci. 


Tentu saja ada yang memang bertempur karena alasan ideologis. Tetapi tidak sedikit juga yang bertarung demi bati. Berapa bati yang didapat? ya tergantung kepangkatan.


Perang adalah bisnis, komoditasnya adalah senjata. Senjata bisa berbentuk bedil, nuklir, sampai pada yang paling murah : bacot. Batinya pun bisa lahir dari efek berganda.


Pertempuran bisa saja terjadi di palagan toa, tetapi yang menangguk bati meraka yang bermain-main dengan kedelai, dengan minyak goreng, dengan sawit, yang bermain-main dengan masa jabatan presiden, dengan pemilu yang harus diundur atau tidak.


Sebuah pertempuran yang seakan-akan ideologis akan menarik banyak serdadu relawan masuk palagan hingga lupa kalau paginya belum sarapan.


Dalam perang asimetris, yang di tengah akan terhimpit oleh kanan kiri yang menyerang atau sekedar numpang menangguk bati.


Jika ingin bati, bikinlah perang. Ingin bati berkelanjutan, bikinlah perang tak berkesudahan, tumbuhkan sebanyak mungkin keciwis.


salam sugih.


Muhyidin, Wakil Ketua PW GP Ansor Jawa Barat


Risalah Terbaru