Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Abu Nawas: Gusti Allah SWT Maha Pengampun

Abu Nawas: Gusti Allah SWT Maha Pengampun
Foto: NU Online
Foto: NU Online

Oleh : Munawir Amin. 
Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i rahimahullah pernah berkata: “Aku mengunjungi Abu Nawas. Lalu Aku bertanya padanya : “Apa yang Engkau persiapkan untuk hari ini, wahai saudaraku, Abu Nawas?’. Kemudian Abu Nawas  menjawab dengan sebuah Syair:

تَعَاظَمَنِيْ ذَنْبيْ فَلَمَّا قَرَنْتُهُ # بعَفْوِكَ رَبِّيْ كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا

“Pernah kuanggap dosa-dosa ku besar. Namun, ketika kusandingkan dengan pengampunan-Mu, wahai Tuhanku. Maka, ampunan-Mu ternyata lebih besar’”.

“Abu Nawas itu karibku,” kata Syaikh Muhammad bin Rafi’ memulai kisahnya. “Namun, di akhir umurnya, kami berpisah jarak. Ketika tersiar kabar kewafatannya. Aku sedih luar biasa. Antara tidur dan terjaga, seakan Aku bertemu dengannya. Lalu Aku panggil Dia : “Wahai Abu Nawas!”.“Iya”, jawab Abu Nawas. “Apa yang telah Allah perbuat padamu?”, tanya Syekh Muhammad bin Rafi’. “Dia mengampuni Aku”, kata Abu Nawas, “dan itu disebabkan bait syair yang Aku tulis. Dan syair itu sekarang berada ditumpukan bantal kedua di rumahku”. 

Tidak lama kemudian Syekh Muhammad bin Rafi’ melakukan perjalanan jauh mengunjungi keluarga Abu Nawas. Ketika keluarga Abu Nawas melihat Syekh Muhammad bin Rafi’, kesedihan menyelimuti keluarga Abu Nawas dan mereka pun kembali menangis. Setelah reda, Syekh Muhammad bin Rafi’ bertanya pada mereka : “Apakah saudaraku Abu Nawas punya simpanan syair sebelum beliau wafat?”. “Kami tidak tahu”, jawab keluarga Abu Nawas. “Hanya saja, sebelum kewafatannya. Beliau meminta dibawakan tempat tinta dan kertas. Lalu menulis sesuatu. Apa yang ditulis, kami tidak tahu”, terang keluarga Abu Nawas.

“Bolehkan Aku masuk memeriksa?”, kata Syekh Muhammad bin Rafi’.  

Keluarga Abu Nawas pun mempersilahkannya. Lalu Muhammad bin Rafi’ memasuki kamar Abu Nawas. Memeriksa tempat tidurnya.dan Syekh Muhammad  bin Rafi’ menemukan pakaian yang belum dipindah. Diangkatnya pakaian itu, tidak ditemukan apa-apa. Kemudian, diangkat bantal pertama, juga tidak terlihat apa-apa. Setelah diangkat bantal kedua, ditemukan secarik kertas. Dan disitu tertulis beberapa syair :

يَا رَبِّ إِنْ عَظَمْتُ ذَنْبيْ كَثْرَةً  # فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمَا

"Wahai Tuhanku, Jika dosa-dosaku yang banyak itu membesar. Aku yakin, pengampunan-Mu lebih agung,".

إنِ كَانَ لَا يَرْجُوْكَ إِلّا مُحْسنٌ # فَبِمَنْ يَلُوْذُ وَيَسْتَجِيْرُ الْمُجْرِمُ

"Andai Engkau hanya menerima orang yang baik saja. Lalu bagaimana dengan kami, orang-orang yang penuh noda dan dosa,".

أَدْعُوْكَ رَبِّ، كَمَا أَمَرْتَ، تَضَرُّعاً # فَإِذَا رَدَدْتَ يَدِيْ، فَمَنْ ذَا يَرْحَمُ

"Aku berdoa padamu Gusti, dengan kerendahan hati,  sebagaimana Engkau perintahkan. Jika Engkau tolak kedua tanganku. Siapa lagi yang akan mengasihi Aku?,".

مَا لِيْ إِلَيْكَ وَسِيْلَةٌ إِلَّا الرَّجَا # وَجَمِيْلُ عَفْوِكَ ثُمَّ أِنِّيْ مُسْلِمٌ

"Hanya harapan dan indahnya ampunan-Mu yang jadi perantaraku. Lalu , Aku pasrah pada-Mu,".

Sebelum meninggal dunia, Abu Nawas pernah duduk sendirian, memperhatikan matahari yang berangsur–angsur tenggelam. Suasananya cukup hening. Abu Nawas melihat begitu indahnya warna langit yang dipenuhi dengan mega berwarna kuning jingga. Ia memperhatikannya dengan seksama, hingga akhirnya suasana indah itu hilang seiring dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat. Entah apa penyebabnya, tiba–tiba Abu Nawas tak mampu membendung air matanya. Hatinya terasa pedih. Ia menangis tersedu–sedu. Ia menengadahkan kedua tangannya sambil bersyair :

إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ نَارِ الجَحِيْمِ

"Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi Aku tidak kuat dalam neraka jahim,".

فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ # فَإِنَّكَ غَافِرُ ذَنْبٍ عَظِيْمٍ

"Maka berilah Aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar,".

ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَ الجَلاَلِ

"Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah Aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan,".

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ # وَذَنْبيِ زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ

"Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana Aku menanggungnya,".

إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ

"Wahai Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu,".

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ

"Maka jika Engkau mengampuni, Engkaulah ahli pengampun. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi Aku mengharap selain kepada Engkau,".

Demikianlah semoga bermanfaat.
Indramayu, 13 September 2021 / 06 Shafar 1443 H

Pengasuh Ponpes Sirojuttholibin Tulungagung Kertasmaya Indramayu

Terkait

Risalah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×