• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Jumat, 19 April 2024

Opini

KOLOM KH IMAM NAKHA'I

Setiap Manusia Ada 'Babi' dalam Dirinya

Setiap Manusia Ada 'Babi' dalam Dirinya
Setiap Manusia Ada 'Babi' dalam Dirinya
Setiap Manusia Ada 'Babi' dalam Dirinya

Diskusi soal kenajisan Babi, masih berlanjut. Kalau ia Najis, apakah najisnya najis berat (mughalladah) atau sama dengan dengan najis-najis pada umumnya. Lagi-lagi Ulama khilaf. Saya sendiri tidak sepakat dengan pembagian najis menjadi najis mukhaffafah, mutawassithah dan mughalladhah. Kita coba tinggalkan perdebatan itu, kita terima sebagai fakta sejarah. Karena ikhtilaf tidak akan hilang dengan didiskusikan. Perdebatan soal khilafiyah bukan untuk menghapuskannya, melainkan untuk mengingatkan bahwa di dalam kkhilafiyah itu ada "Kasih Sayang Tuhan" di situ.


Kita beralih pada pendekatan Tasawwuf yang lebih melihat substansi dari segala sesuatu. Dalam pendekatan tasawwuf, setiap diri manusia terdapat empat sifat, yaitu; rabbaniyah (sifat ketuhanan), syaithaniyyah (sifat setan), sabu'iyyah (sifat kebuasan) dan bahimiyyah (sifat kehewanan). Lebih tegas imam al-Ghazali menyebutkan, bahwa di dalam kulit setiap manusia ada empat unsur, yaitu [1] babi, [2] anjing, [3]  syetan, dan [4] hakiim. Ke empat unsur itu, seluruhnya bersemayam "di dalam hati" setiap manusia. 


كل إنسان فيه شوب من هذه الأصول الأربعة أعني الربانية والشيطانية والسبعية والبهيمية وكل ذلك مجموع في القلب  فكأن المجموع في إهاب الإنسان خنزير وكلب وشيطان وحكيم


Babi adalah simbol "syahwat". Babi dicela bukan karena warnanya, bukan karena bentuk dan fisiknya. Karena ia diciptakan Allah seperti ciptaan lainnya. Babi di cela karena sifat dan karakternya yang sangat tamak, gemar menyingkirkan dan sangat rakus.


Anjing adalah simbol "amarah". Kebuasan, hipersek dan kegalakan anjing bukan juga karena bentuk, warna dan fisiknya, tetapi karena sifat itu melekat dalam jiwanya. Sifat-sifat itu juga ada dalam bathin  setiap manusia.


Babi mengajak kepada kekejian, kemungkaran, kebuasaan, kedhaliman, dan menyakiti orang lain. Syaithan, terus menggerakkan syahwat babi dan anjing untuk melakukan semua itu.   Sangat beruntung  Allah meletakkan unsur "hakim" dalam jiwa manusia. Hakim adalah "akal". Akal bagi Imam al-Ghazali  sama pentingnya degan Wahyu. Akal-lah yang mengontrol tipu daya syetan yang menggerakkan syahwat babi dan kebuasan ajing.


Akal akan memberikan pertimbangan pada , babi dan anjing apa dampak mafsadah dan mamfaat yang akan terjadi jika sifat babi dan anjing itu digunakan secara tidak seimbang. Sementara syetan selelu mendorong sifat babi dan anjing itu di umbar. Jadi dalam setiap tubuh manusia selalu teradapat pertarungan antara akal dan syetan. Jika syaitan yang menang maka manusia itu lebih dekat apada babi dan anjing., bahkan lebih jahat dari babi dan anjing itu.


Janganlah membenci babi dan anjing karena fisik, warna dan bentuknya, karena bisa jadi sifat babi dan anjing itu ada pada jiwa kita.


KH Imam Nakha'i, salah seorang Wakil Ketua LBM PBNU


Opini Terbaru