Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Pentingnya Kuasai Bahasa Asing bagi Santri

Pentingnya Kuasai Bahasa Asing bagi Santri
Pentingnya Kuasai Bahasa Asing bagi Santri
Pentingnya Kuasai Bahasa Asing bagi Santri

Sejak disahkan menjadi bahasa internasional oleh Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) tahun 60-an bahasa Inggris mulai merasupi seluruh aspek kehidupan umat manusia di berbagai sektor dan keseharian hidup. Hal ini juga berdampak pada perubahan tatanan kompetisi di dunia pendidikan, profesional maupun bisnis. 


Dalam konteks terkini semua aspek tersebut bahkan menjadikan bahasa Inggris sebagai salah satu syarat mutlak atau kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi untuk menghadapi persaingan, lokal maupun global. Lemahnya kemampuan berbahasa Inggris akan berdampak pada hilangnya kesempatan dan peluang yang bisa ditangkap dalam sebuah kontestasi. 


Pesantren merupakan wadah pembibitan generasi penerus Islam yang akan menjadi motor dalam mewujudkan kemajuan Islam dan berkontribusi untuk kemaslahatan umat manusia. Bukan hanya membekali para santri dan santriawati ilmu keagamaan, pesantren juga harus mampu mencetak para alumni yang siap menghadapi kemutakhiran zaman yang terus dinamis agar mereka tidak tereliminasi dalam persaingan di lapangan. 


Melihat dinamisasi di berbagai bidang yang terus maju dunia pesantren harus memiliki strategi adaptif yang dipersiapkan agar tidak tertinggal. Ini semua harus dimulai dengan membangun kesadaran dan cara pandang baru yang adaptif dan konstruktif tanpa harus meninggalkan prinsip dasar yang telah dibangun. Mari kita contoh penyebaran Islam di era Wali Songo.


Agus Sunyoto dalam bukunya yang cukup popular “Atlas Wali Songo,” memaparkan bahwa keefektifan dakwah Islam di Indonesia pada era Pangeran Santi Kusumo atau Raden Mas Said atau biasa dikenal Sunan Kalijaga (1450 – 1513 M) saat menyebarkan Islam di Cirebon karena pendekatannya yang sangat adaptif, seni dan budaya, sehingga penyebaran dan perkembangan Islam saat itu sangat masif (Agus Sunyoto, 2016). 


Selain skill, bahasa merupakan alat utama yang dibutuhkan dan digunakan untuk penggalian ilmu pengetahuan dan bersaing di berbagai bidang. Membaca, menulis dan berhitung adalah kemampuan dasar yang harus diajarkan sebagai alat eksplorasi dan pengembangan ilmu Allah yang sangat luas. Selaras dengan Al-Quran hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Adam a.s saat diciptakan oleh Allah adalah mempelajari dan memahami bahasa sebagaimana tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 31 yang artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam semua nama-nama (benda).” Karena peran pentingnya, pepatah Arab mengatakan “Barang siapa yang mempelajari bahasa suatu kaum, maka ia akan terbebas dari tipu daya kaum tersebut.”


Pentingnya bahasa asing juga tergambar di masa Abbasiyah pada 750 M di bawah pimpinan khilafah al-Mahdi dan ar-Rasyid. Menguatnya Islam saat itu disebabkan oleh penguasaan banyak bidang ilmu pengetahuan lewat tradisi penerjemahan ilmu pengetahuan yang berlangsung selama satu abad. Sejarawan asal Lebanon, Philip K Hitty, menjelaskan dalam bukunya “History of the Arabs” bahwa tradisi ini terjadi karena banyaknya pengaruh luar yang masuk. Untuk mengantisipasinya, maka mereka juga harus menguasai bahasa dan ilmu pengetahuan yang berkembang saat itu.  


Dikotomi Bahasa Asing di Pesantren
Bahasa Arab adalah bahasa yang harus dipelajari secara mendalam oleh para santri di pesantren jika ingin menggali ilmu pengetahuan agama. Hal ini diperkuat oleh perkataan Kholifah kedua, Umar bin Khattab r.a: “Hendaklah kamu sekalian tamak (keranjingan) mempelajari bahasa Arab karena bahasa Arab itu merupakan bagian dari agamamu.” Pernyataan ini memang tak terbantahkan, namun bukan berarti mempelajari bahasa lainnya tidak penting. Mengingat semua ilmu hakikatnya adalah dari Allah Swt.


Sangat ironis dan naif jika ada sebagian kelompok yang menganggap bahwa mempelajari bahasa asing yang berasosiasi dengan dunia barat -- seperti bahasa Inggris misalnya -- sangat tidak dianjurkan sebab banyaknya stigma agama yang dilekatkan kepada negara sipemilik bahasa. Bukan hanya itu, sebagian besar satri di pondok pesantren pun banyak yang jadikan bahasa asing ini aprioritas dengan alasan nyeleneh. Hal ini akan menjadi bumerang jika dijadikan pedoman bagi Santri Nusantara. 


Berbanding terbalik dengan realitasnya, dalam persaingan di lapangan bahasa Inggris kini menjadi salah satu syarat penentu dalam persaingan. Di dunia pendidikan misalnya. Jika kita ingin menjadi awardee atau penerima beasiswa LPDP untuk Santri, calon penerima beasiswa lokal S2 dan S3 harus memiliki sertifikasi TOEFL (Test of English as Foreign Language) dengan minimal skor kurang lebih 500-550. Berbeda dengan beasiswa luar negeri, mereka harus memiliki sertifikat IELTS (International English Language Testing System) band 6.5.  


Fakta lainnya pun sudah sangat jelas terlihat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan  teknologi saat ini dikuasai oleh dunia barat. Jika kita tidak mampu beradaptasi dan memahami bahasa mereka, maka mustahil kita bisa bersaing di tengah realita hidup dan membangun peluang kerja sama yang mutualis demi kemaslahatan bersama di era globalisasi yang sedang kita hadapi saat ini. 


Sisi positif lainnya yang juga bisa menjadi poin penting mempelajari bahasa Inggris lainnya adalah aktivitas dakwah akan semakin masif dan penyebaran nilai-nilai Islam juga akan semakin meluas mengingat bahasa bahasa Inggris selalu menjadi bahasa alternatif saat tejadi hubungan kerja sama antar negara dan forum dunia. Hal ini telah dicontohkan oleh ketua PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, yang diundang berdialog oleh America Jewish Committee (AJC) di Islael tentang nilai kemanusiaan dan perdamaian dalam Islam pada tahun 2018.  Karena kecakapan beliau berbahasa Inggris, maka beliau bisa menyampaikan siarnya dengan baik.


Peluang, Tantangan dan Penerapan 
Keberagaman bahasa di dunia merupakan sunatullah yang harus diyakini. Memahami dan menguasainya merupakan hal yang sangat dianjurkan dalam Islam tanpa ada dikotomi. Sudah sepatutnya bagi pesantren di Indonesia yang menjadi basis pembibitan generasi muda Islam beradaptasi dan menerapkan pembelajaran bahasa Inggris secara total tanpa ada dikotomi karena pertimbangan teks dan konteks yang ada saat ini.


Banyak sekali hal positif dan peluang bagus yang akan didapatkan oleh para santri jika mereka memiliki kecakapan bahasa Inggris. Untuk mendapatkan faedah tersebut tentu harus ada rancangan yang solit agar proses pembelajaran bahasa Inggris di lingkungan pesantren berjalan efektif, teoritis dan pragmatis. Hal yang harus dipersiapkan:

 
  • Pengajar yang kompeten
  • Sistematika materi yang runut
  • Lingkungan yang mendukung penerapan
  • Metode pembelajaran yang efektif
  • Media pembelajaran yang memadai
  • Kedisiplinan dan kontrol


Jika semua sudah dipersiapkan dengan baik, maka bisa dipastikan hasil yang akan didapatkan akan maksimal dan tertarget. Sebagian institusi mungkin menganggap hal ini sudah diterapkan sejak lama di pesantren mereka. Namun singkronisasi dan hasil yang dicapai apakah sudah sesuai dengan perencanaan yang dibuat adalah pertanyaan yang harus dideda kembali.


Tanpa bermaksud menjustifikasi dan menggurui, menurut penulis konsep yang terbangun saat ini kurang solit. Hal ini bisa dibuktikan dari persentase alumni pesantren di Indonesia. Mereka yang lahir dari lingkungan pesantren modern memiliki kecakapan dalam oral, namun lemah secara gramatika. Sebaliknya, mereka yang lahir dari pesantren salaf pandai menganalisa bahasa, namun pasif dalam berbahasa.


Dalam penerapannya, dibutuhkan tindakan seorang pemimpin institusi agar pelaksanaannya bisa berjalan secara komprehensif. Sami’na wa atha’na terhadap seorang guru merupakan satu di antara kultur yang sangat dipegang kuat oleh para santri di lingkungan pesantren mengingat berkah seorang guru merupakan penentu kemanfaatan ilmu yang akan mereka dapatkan. Alumni yang dihasilkan oleh pesantren tergantung bagaimana penerapan sistem dan konsep yang akan mereka berikan kepada santri. Seorang santri tentunya akan tumbuh dengan baik di tangan seorang guru yang membekali santri mereka dengan nilai-nilai keagamaan, adab dan pengetahuan yang memadai.


Oleh karena itu, pesantren harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman yang terus bergulir. 


Intruksi dan ketetapan seorang pimpinan di pesantren memiliki peran penting dalam membangun sistem dan proses belajar. Mengingat santri memiliki potensi dan cita-cita yang heterogen., maka dikotomi dalam bahasa asing di lingkungan pesantren akan jadi boomerang saat mereka menghadapi persaingan lapangan.


Sebab itu, seorang guru harus mampu meluruskan dan membekali kecakapan kepada santrinya agar para santri bisa mencapai kesuksesan yang mereka inginkan serta mengangkat nama baik almamater pondok pesantren tempat mereka menuntut ilmu. Seorang pimpinan harus benar-benar sadar dan bijak membaca dinamisasi zaman guna santri didikannya bisa bersaing di berbagai bidang dan member manfaat bagi umat. 


Jarwo Adi, Direktur Mother Language English School Pare, Kediri

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×