Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Filosofi Santri Kayu Jati dan Revolusi Kaum Sarungan di Era Kekinian

Filosofi Santri Kayu Jati dan Revolusi Kaum Sarungan di Era Kekinian
Ilustrasi Hari Santri. (Foto: NU Online)
Ilustrasi Hari Santri. (Foto: NU Online)

Santri senantiasa dikaitkan dengan seseorang yang mendalami ilmu agama Islam dalam kurun waktu penempaan yang sangat lama atau dengan kata lain mondok. Tak hanya itu saja, santri juga harus memiliki kecintaan terhadap tanah air, karena mencintai tanah air sebagian dari iman. 


Kata santri juga memiliki makna filosofis yang diambil dari segi bahasa. Santri bermuasal dari bahasa sanskerta, yang memiliki akar kata yang sama dengan sastra yang berarti kitab suci. 


Ada cukup banyak yang memaparkan pendapat kemungkinan asal-muasal kata Santri itu dari bahasa sansekerta. Tetapi ada pula yang mengaitkan istilah santri dengan penggalan kata-kata dalam bahasa Inggris; Sun (Matahari) dan Three (Tiga) menjadi tiga matahari. 


"Tiga Matahari" yang dimaksudkan itu barangkali berafiliasi pada makna; Islam, Iman dan Ihsan. Santri mesti menjaga ketaatan kepada Allah, ketaatan kepada Rasulnya, dan menjaga hubungan dengan para pemimpin. Begitu ragam pemaknaan kata Santri. Sehingga interpretasi makna santri pun kian majemuk. 


Filosofi santri ada yang mengaitkannya dengan kayu jati. Karena dalam proses penempaan santri selama menempuh pendidikan di pesantren, santri dituntut untuk mandiri dan menerapkan pola hidup sederhana. "Santri itu ibarat kayu jati, memiliki karakter yang kuat serta berkualitas terbaik meski harus hidup ditanah yang gersang." 


Karena salah satu kekhasan Islam di Indonesia dan tidak akan ada di belahan dunia lain adalah kaum santri, kaum sarungan. Tidak penting popularitas dan menjadi pusat perhatian baik di dunia apalagi di sosial media. Yang terpenting adalah orientasi hidupnya, menjadi penerus para guru dengan menjaga sanad ilmunya, senantiasa menghasrati kebaikan karena identitas sebagai santri akan senantiasa berkaitan dengan tiga hal; yakni memiliki muru'ah (menjaga akhlak), uswah dan qudwah hasanah (contoh dan keteladanan yang baik). 


Santri atau kaum sarungan sudah sepatutnya cepat tanggap dengan segala kondisi dan situasi jaman now. Santri selain berbakti dan manut kepada para kiai, santri juga harus berani melawan segala bentuk propaganda kemalasan dan kebodohan. Santri harus mencipta sesuatu dari pemikirannya yang dinamis, serta gerakan strategis yang berkelanjutan untuk generasi selanjutnya sesuai tantangan zaman. 


Karena santri pada prinsipnya adalah para sarjana yang menempuh pendidikan di 'universitas kehidupan' yang berbasis pesantren sebagai sentra institusi pendidikan yang ideal dan mencipta generasi penerus ulama. Santri berperan menjadi figur sentral yang bisa memberikan faedah bagi masyarakat dan perubahan sosial keagamaan. 


Abdul Majid Ramdhani, Alumni Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok.

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×