Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Buzzer dan Ujaran Kebencian di Medsos

Buzzer dan Ujaran Kebencian di Medsos
Ilustrasi: NUO.
Ilustrasi: NUO.

Situasi lebaran masih belum pergi. Yang mudik pun sebagian masih di kampung menikmati lebaran, dan saling maaf-memaafkan. Bahkan yang hari ini masuk kantor pun dan baru berjumpa lagi setelah lebaran saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Halal bi halal pun masih akan mewarnai kehidupan sosial kita hari-hari ini.


Tapi di medsos, hoaks sudah mulai ramai, dan saling bully pun sudah mulai 'normal' kembali. Sesuatu yang seharusnya dihindari. Tetapi saling melecehkan, menghina dan mengata-ngatain orang lain di medsos sepertinya tidak menghargai situasi lebaran.


Sepertinya, suasana pilpres sudah merasuki pikiran banyak orang sekarang ini meski helatan lima tahunan itu masih lebih dari dua tahun lagi.


Kebencian yang tertanam sejak lama masih belum sembuh. Bahkan kekerasan masih terjadi akibat sentimen dan saling bully. Apalagi dengan munculnya buzzer-buzzer medsos yang terus marak belakangan. Mereka menjadi pasukan tokoh politik maupun partai yang saling berbalas hinaan dan cercaan.


Soal bully, tebar kebencian, dan saling merendahkan, Al-Mukkaram KH A Mustofa Bisri pernah mengingatkan kita untuk sering-sering menyimak surat al Hujurat ayat 11.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَاتَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ


Ayat ini artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kaum lelaki dan perempuan mengolok-olok yang lain, boleh jadi yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah kefasikan sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim,".


Sebab turunya ayat ini dalam Tafsir al-Maraghi disebutkan bahwa ayat ini turun terkait dengan adanya ejekan yang dilakukan kelompok dari Bani Tamim terhadap para sahabat Rasul yang miskin seperti Bilal, Shuhaib, Salman al-Faris, Salim maula abi huzaifah, dll.


Di riwayat lain disebutkan bahwa ayat ini terkait dengan ejekan sebagian perempuan kepada Shafiyah binti Huyay bin Akhtab (salah seorang istri Nabi) yang keturunan Yahudi. Nabi kemudian berkata kepada Shafiyah: “mengapa tidak kamu katakan kepada mereka bahwa bapakku Nabi Harun, pamanku Nabi Musa dan suamiku Nabi Muhammad?!”


Sedangkan kitab Tafsir Ibn Asyur punya kisah lain. (Al-Wahidi meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa ayat ini berkenaan dengan Tsabit bin Qais, seorang sahabat Nabi yang terganggu pendengarannya, dan karena itu beliau melangkahi sekian banyak orang di majelis Nabi untuk bisa berdekatan dan mendengar taushiyah Nabi. Tsabit ditegur oleh seseorang, tapi Tsabit balas bertanya: “siapakah ini?” Ketika orang itu menjawab, “saya fulan”, maka Tsabit menyatakan bahwa orang itu anak fulanah yang terkenal memiliki aib pada masa jahiliyah. Maka malulah orang tersebut, dan turunlah ayat ini menegur Tsabit.)


Berdasarkan kutipan dari dua kitab tafsir yang menjelaskan sebab-sebab turunya ayat 11 al-Hujurat itu, bahwa kita tidak boleh menghina atau melecehkan (membully) orang lain karena kemiskinannya, karena keturunan agama tertentu seperti Yahudi, atau karena keluarganya memiliki aib atau cela. Pesan al-Qur’an luar biasa dahsyatnya: boleh jadi yang kalian olok-olok itu lebih baik dari kalian di sisi Allah.


Membully dilarang bukan saja karena menimbulkan perasaan malu bagi korban karena kehormatan dirinya dijatuhkan, tapi juga terselip perasaan bahwa kita yang membully ini lebih baik dari orang lain sehingga kita berhak melecehkan mereka, atau bisa jadi terselip perasaan iri hati bahwa orang lain itu lebih baik dari kita dan untuk menutupi ketidaksukaan kita akan kelebihan mereka, maka kita membully mereka.


Merusak kehormatan orang lain, memiliki perasaan sombong lebih baik dari orang lain atau dengki/iri hati akan kelebihan yang lain, semuanya tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Itu adalah perbuatan dzalim.


Kita perlu menyimak nasihat Imam Syafi’i dari kitab al-Mustathraf fī kulli fannin mustazhraf, yang artinya kani sesuaikan dengan penomena dimedsos.


‎إذا أراد أحدكم الكلام فعليه أن يفكر في كلامه


“jika hendak posting/ngetwit, pikir dulu sebelum diposting …”


‎فان ظهرت المصلحة تكلم


‎”…..jika nyata dari twitmu/postinganmu ada maslahat, ngetwit-lah/postinglah…..”


‎وإن شك لم يتكلم حتى تظهر


“….tapi kalau masih ragu, jangan ngetwit/posting dulu hingga jelas maslahatnya”


Semoga kita semua bisa menahan diri untuk tidak membully, merendahkan, menyakiti orang lain baik di kehidupan nyata maupun di dunia medsos. Semoga kita terus menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat untuk sesama. Amin Ya Allah!


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×