Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Ilmuwan Muslim

Ilmuwan Muslim
Ilustrasi Al-Biruni: disclose.tv
Ilustrasi Al-Biruni: disclose.tv

Menghadapi era globalisasi dan abad ilmu pengetahuan modern, perkembangan dunia akan diramaikan dengan berbagai perubahan dalam aspek-aspek kehidupan. Peradaban dunia dewasa ini akan semakin bebas dan terbuka, sehingga persinggungan peradaban antar budaya dan bangsa akan meluas tanpa mengenal batas wilayah ataupun negara.

Berbagai peradaban yang dibentuk oleh bangsa-bangsa di dunia akan menimbulkan pergumulan, saling mempengaruhi satu dengan lainnya, yang terkadang bisa menimbulkan bentrokan yang merugikan dan persaingan yang tidak sehat. Akibat pergumulan peradaban dunia itu, langsung ataupun tidak langsung akan menimbulkan berbagai perubahan norma dan nilai dalam suatu masyarakat. Perubahan norma dan nilai itu sering berbeda atau bahkan bertentangan dengan ajaran agama.

Mengamati kenyataan itu, maka peran ilmuwan Muslim sangat dominan dalam mengantisipasi berbagai perkembangan dan benturan budaya antar etnis dan bangsa di dunia. Kaum ilmuwan Muslim seharusnya menjadi pelopor dalam membentuk masyarakat yang religius di masa depan. Mereka seharusnya mengarahkan perkembangan sains dan teknologi serta pendayagunaan fungsinya untuk membentuk suatu peradaban yang luhur, sesuai dengan pesan-pesan Islam. Dengan ilmu yang dimiliki, kemampuan menganalisis masa depan dan kemampuan lain yang terus melaju, ilmuwan Muslim akan menjadi peletak dasar bagi pembentukan budaya umat manusia pada masa yang akan datang. 

Al-Qur’an, banyak mengisyaratkan mengenai pentingnya peranan kaum ilmuwan, ulama dan pemuka masyarakat dalam berbagai ayatnya, antara lain : 

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ  

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ilmuwan), yaitu orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka”. (Q.S. Ali Imran 3 : 190 – 191).

Bila kita memperhatikan ayat di atas, dapat dipahami secara mudah bahwa sesungguhnya kaum ilmuwan Muslim tidaklah semata-mata melakukan pengembangan secara maksimal terhadap nalarnya saja, tetapi juga harus melakukan penajaman kalbu dan menumbuh suburkan kehidupan rohaniah.

Dengan keseimbangan yang serasi dan selaras antara pengembangan nalar dan penajaman kalbu, niscaya dapat dilahirkan manusia-manusia Muslim termasuk kaum cendekiawannya yang selalu menyadari akan status dirinya. Manusia, selain sebagai khalifah Allah yang diberi amanat untuk mengelola alam raya bagi kesejahteraan sesama makhluk, juga berfungsi sebagai hamba Allah yang selalu beribadah kepada-Nya. 

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ  

“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. (Q.S. Al-Dzariyat, 51:56).

Kesadaran tentang status diri masing-masing manusia Muslim dan kaum ilmuwannya, sebagaimana disebutkan di atas, akan mengarahkan umat manusia untuk mengembangkan ilmu yang dimilikinya. Mereka akan menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari serta mengajarkannya kepada orang lain. Ilmuwan Muslim yang memiliki kriteria ini pasti akan menjadi panutan yang berwibawa bagi anggota masyarakatnya.

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×