Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Ajengan Kampung Lentera Peradaban Masyarakat Desa (1)

Ajengan Kampung Lentera Peradaban Masyarakat Desa (1)
(Foto/NU Online)
(Foto/NU Online)

Oleh Herdi As’ari
Sebelum akhir dekade 90-an, nuansa keberagamaan di wilayah pedesaan begitu terasa kental. Saat petang tiba –ba’da magrib– masjid jami hingga musola kecil (tajug), riuh oleh aneka wirid, dzikir, dan tawasulan. Madrasah dipenuhi anak-anak yang asik membaca barzanji, sholawatan, nadoman, hingga menghafal kaifiyat salat dan doa-doa. 

Mereka yang lanjut usia pun tak kalah semangatnya. Ada yang menghafal 20 sifat Allah, ada juga yang melantunkan ayat al-Qur’an meski dengan terbata-bata, dan pencahayaan ruangan yang seadanya.

Pada saat itu, nilai spiritualitas agama menjadi core (inti) dalam pergaulan sehari-hari. Tercermin dalam karakter masyarakat yang ramah-tamah, suka bergotongroyong dan bermusyawarah, serta menghargai hak-hak lingkungan. Peran dan pengaruh tokoh agama, masih cukup signifikan dalam membentuk sosial kontrol kehidupan bermasyarakat. Kendati struktur kehidupan masyarakat desa amat sederhana, tetapi dimensi keruhanian pada saat itu sangat kaya. Suatu kondisi yang sulit ditemui hari ini. 

Mempelajari agama, berarti juga belajar arti kehidupan. Ajaran agama tak sekadar dipahami sebagai pengetahuan saja, melainkan sebagai malaka atau kepemilikan. Tak mengherankan apabila banyak di antara orang desa dengan latar belakang keluarga yang sederhana, menjadi orang besar dan tokoh sejarah, seperti kiai, politisi, ilmuan, dan pengusaha sukses. 

Salah satu di antara banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kisah hidup mereka adalah menjaga makanan. Artinya, memastikan bahwa apa yang dikonsumsi itu bersumber dan didapatkan dengan cara yang halal dan baik. Sebuah sikap yang menegaskan kebenaran dari ungkapan bijak bahwa kebersihan itu akan melahirkan “kebesaran”.

Posisi strategis ajengan

Dalam konteks peradaban manusia, suatu fenomena sejarah tertentu, tak bisa diceraikan dari peran seorang tokoh yang memiliki pengaruh. Dalam hal ini adalah tokoh keagamaan, atau di level desa dan perkampungan di Tatar Sunda disebut ajengan. Atau dalam bahasa Indonesia sepadan dengan ustadz.

Dalam teorinya, Thomas Carlyle menyebutkan bahwa suatu fenomena sejarah atau peradaban sangat dipengaruhi oleh orang-orang besar. Maka, teori ini disebut juga sebagai Teori Orang Besar atau The Great Man Theory. Orang besar yang dimaksud memiliki indikator antara lain: Sebagai pahlawan, individu yang berpengaruh, berkarisma, cerdas, hikmat, dan memiliki keterampilan berpolitik.

Apabila mendasarkan pada teori Carlyle tersebut di atas, maka ajengan telah memenuhi indikator-indikator yang dimaksud. Sebagai tokoh agama, jelas bahwa ajengan sering kali memiliki jamaah yang tidak sedikit, sehingga menempatkannya sebagai seseorang yang berpengaruh. Kecerdasan akan ilmu keagamaan yang dibalut dengan hikmah, menjadikan ajengan sebagai sosok yang berkarisma. Termasuk dalam sejarah, tokoh agama senantiasa hadir dalam isu perjuangan dan kenegaraan, tiada lain sebagai penanda bahwa mereka pun memiliki keterampilan berpolitik yang mumpuni.

Meskipun sepadan secara etimologi, tetapi menurut hemat penulis terminologi ajengan –terutama dalam memori kolektif orang Sunda– memiliki kekhasan tersendiri. Ajengan tak sekadar dipandang sebagai orang yang mengerti ilmu agama, melainkan sebagai basis moral yang melekat dengan kehidupan sosio-kultural masyarakat sekitarnya. Sedang istilah ustadz, hari ini lebih dikesankan dengan seseorang yang hanya pandai berceramah tekstual, serta cenderung “konvensional”.

Penulis adalah Mahasiswa Magister Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×