Tafsir Shalawat Terebangan dalam Ritual Mulud di Cinunuk Garut
Ahad, 31 Agustus 2025 | 08:36 WIB

Shalawat Terebangan dalam Ritual Mulud di Cinunuk Garut. (Foto: NU Online Jabar/Rudi Sirojudin Abas).
Rudi Sirojudin Abas
Kontributor
Shalawat Terebangan yang menjadi bagian dalam upaya memuliakan bulan Mulud di Cinunuk, Wanaraja, Garut, bukan pertunjukan biasa. Ia merupakan sebuah ritual. Ritual dalam artian bahwa dari setiap bagian pertunjukannya bukan saja memiliki tujuan yang ingin disampaikan, melainkan juga memiliki keberaturan yang tetap, baku, terstruktur dan tak pernah berubah.
Ia juga menjadi bagian dari ritual karena dibangun berdasarkan cara pemahaman masyarakat yang tradisional (baca:primordial).
Karena bersifat ritual, maka dari setiap unsur Shalawat Terebangan Cinunuk memiliki makna yang begitu mendalam. Makna dapat diperoleh dari unsur-unsur yang tampak maupun yang tidak tampak di permukaan. Dampaknya, manusia yang mampu mengungkap atau memahami makna dalam sebuah ritual akan memiliki rasa hormat yang luhur dan suci atas ritual tersebut. Manusia yang berhasil mengungkap makna dari sebuah ritual, maka manusia itu akan memiliki kepekaan yang khusus dalam menghayatinya (Sumandiyo: 2006).
Terebangan
Untuk memahami kata Terebangan, kita dapat menggunakan beberapa definisi. Pertama, Terebangan merupakan konotasi dari Bahasa Sunda, terbang atau ngapung. Kedua, Terebangan merupakan sejenis alat tepuk yang menyerupai Rebana. Ketiga, dalam masa Hindu-Budha Nusantara dikenal alat musik yang disebut dengan Tabang-tabang yang jika dilihat bentuknya akan menyerupai alat musik Terebangan seperti pada masa sekarang (Jakob Sumardjo: 2001). Keempat, menurut Lelono (2010) istilah Terebangan berasal dari kata “Terbang” yang diartikan sebagai istilah yang disematkan atas setiap sesuatu yang dapat melayang di udara.
Dari beberapa definisi di atas, Shalawat Terebangan di Cinunuk menemukan relevansinya. Alat musik Terebangannya memang sama halnya dengan Rebana. Posisi cara memainkannya tidak bersandar pada lantai (bumi), dalam artian melayang (ngapung). Selain itu, bahwa Terebangan Cinunuk merupakan sesuatu yang bersifat melayang juga sama persis dengan kalimat pada Rajah yang sering diucapkan oleh juru pantun dalam setiap mengawali ritual Shalawat Terebangan.
Terebangan mangrupikeun budaya anu nuju kana agama, anu nuju kana kasaean. Mugia urang sadaya tiasa janten ahli-ahli terbang. Mugia tiasa ngapung luhur, tiasa nyikal buana ngagerus ka langit (Terebangan merupakan budaya yang berhubungan dengan nilai keagamaan dan kebaikan. Semoga saja kita semua dapat menjadi ahli-ahli Terbang yang bisa melayang ke atas, bisa menembus jagat bumi dan langit).
Jika diamati, bunyi yang dihasilkan dari tepukan Terebangan berupa frekuensi suara yang bergema yang apabila dibunyikan secara terus menerus akan menghasilkan bunyi yang bergemuruh yang dapat menyatu dengan udara. Adapun shalawat, kita memahaminya sebagai kalimat suci berupa pujian kepada Nabi SAW yang apabila diucapkan dapat mendatangkan keberkahan.
Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa ritual Shalawat Terebangan di Cinunuk merupakan ekspresi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW yang dikemas melalui sebuah ritual seni. Dimana, shalawat yang diucapkan dengan disertai oleh permainan alat musik Terebangan menjadi media agar kalimat suci berupa shalawat itu tidak hanya mampu menembus ruang makrokosmos (alam) saja, melainkan juga menembus ruang terdalam dari ruang mikrokosmos manusia (hati). Harapan ritual Shalawat Terebangan mampu menembus seluruh penjuru ruang juga ditandai dengan harum semerbaknya asap dupa dari Parupuyan yang mengepul ke udara.
Baca Juga
Pedagang yang Dipercaya Langit
Rajah
Rajah merupakan awal dari pelaksanaan pertunjukan Terebangan. Rajah merupakan nama semacam jampe (doa) yang biasa diamalkan oleh tukang pantun sebelum memulai bercerita atau pertunjukan (Sumardjo: 2013). Di dalam jampe atau doa tersebut sering disebutkan nama-nama benda, seseorang, bahkan tempat yang dikeramatkan.
Mengenai rajah, Jakob Sumardjo menyatakan: Dalam rajah disebutkan berbagai alamat nama-nama dewa, nama-nama raja, bahkan nama Allah, Nabi Muhammad Saw, sahabat-sahabat Nabi, para malaikat, para wali, dan lain-lain, juga disebutkan arah tempat mata angin dengan satu pusatnya di tengah. Dengan demikian rajah ditujukan kepada segala jenis penguasa ruang dan waktu. Rajah menghadirkan makrokosmos yang sakral ke dunia mikrokosmos. Rajah menghadirkan yang kudus ke dunia manusia, menghadirkan sesuatu yang keramat di alam manusia, yang akan menyebarkan berkat ke seluruh ruang,….” (Sumardjo, 2013: 37).
Sesaji
Sesaji yang dihadirkan yang ditata di tengah-tengah pertunjukan tidak terlepas dari hasil bumi baik berupa makanan, minuman, tumbuhan, dan buah-buahan. Jenis makanan biasanya berupa olahan yang bersifat tradisional. Jika pada jaman pra-Islam sesaji dalam setiap pertunjukan ritual dimaksudkan sebagai negosiasi spiritual kepada hal-hal yang gaib yang diharapkan dapat membantu manusia (Erviana: 2017).
Adapun menurut Jakob Sumardjo (2014), sesaji merupakan komponen yang harus selalu ada dan tidak boleh dilanggar pada ritual yang dianggap sakral sebagai wujud kepatuhan kepatuhan dan penghormatan kepada para leluhur. Ketidak beranian melanggar untuk tidak menghadirkan sesaji merupakan sisa-sisa kepercayaan lama yang dapat mengakibatkan musibah pada pelakunya jika ditinggalkan.
Sementara, untuk sesaji pada ritual Shalawat Terebangan sebagaimana sering ditegaskan oleh para Kuncen makam, bahwa sesaji yang sering dihadirkan semata-mata sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang melimpah. Kelengkapan sesasji yang bersifat baku itu juga sebagai bagian dalam melestarikan amanat dari leluhur.
Jika diperhatikan, seiring dengan banyaknya olahan modern yang merebak luas di masyarakat, justru eksistensi ritual yang selalu menghadirkan makanan tradisional menemukan jawabannya. Salah satu hilangnya segala sesuatu yang bersifat tradisi imbas dari modernitas karena sempitnya pemahaman masyarakat akan ritual tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun. Sajian dalam ritual Shalawat Terebangan Cinunuk mengajarkan kepada kita bagaimana cara melestarikan tradisi agar tidak terimbas oleh modernitas.
Malam Jumat
Jumat merupakan hari terbaik dalam penanggalan kalender Islam. Ada hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa sebaik-baik ibadah di luar fardhu adalah ibadah di malam hari. Keterangan ini menjadi landasan pelaksanaan ritual Shalawat Terebangan yang dilakukan di Malam Jum’at. Selain itu, keterangan bahwa Jum’at merupakan hari yang sangat dianjurkan untuk umat Islam membacakan shalawat kepada Nabi SAW menjadi landasan pula.
Pelaksanaan ritual Shalawat Terebangan di malam Jumat juga merupakan bentuk akulturasi dari tradisi pembacaan Barzanji yang sering dilakukan umat Islam dalam setiap malam Jumat.
Air Cimora
Terkait dengan air dari tujuh mata air Cimora yang digunakan untuk berziarah dan diambil berkahnya. Bilangan tujuh merupakan bilangan sakral dalam alam mistis primordial bangsa Indonesia. Biasanya bilangan tujuh juga ada dalam bentuk sesajian (baca:sesajen) seperti tujuh macam bunga, tujuh macam penganan, tujuh macam daun, dan tujuh macam bahan pokok bagi masyarakat tani--bukan sembilan bahan pokok--yaitu padi, palawija, buah dan sayur, daging, tuak/gula merah, garam (laut) dan yang paling vital air.
Bilangan tujuh juga dipakai dalam penyebutan tujuh tingkatan keturunan, baik ke atas maupun ke bawah. Penggunaan air dari tujuh mata air Cimora juga mengingatkan kita pada bilangan tujuh dalam Islam. Dalam Islam dikenal juga bilangan mistis tujuh seperti tujuh ayat (surat al-fatihah), akikah pada hari ketujuh, tujuh takbir pertama shalat id, pertanyaan kubur setelah tujuh langkah, tujuh neraka, tujuh air suci lagi mensucikan, tujuh putaran tawaf dan sa’i haji, tujuh kali pembasuhan untuk najis anjing dan babi, tujuh hari-tujuh malam, tujuh orang untuk kurban ternak sapi, kerbau, maupun unta, dan bilangan mistis angka tujuh-angka tujuh yang lainnya.
Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa penggunaan air sebagai media ziarah dan pengambilan berkah bisa dikatakan sebagai bagian untuk mensucikan diri demi hadirnya berkah, keselarasan dan keselamatan dari daya-daya ilahiah. Menjadikan bilangan tujuh sebagai persyaratan dalam berbagai ritual primordial masyarakat Indonesia juga menjadi penegas terkait bilangan tujuh, bahwa bilangan tujuh merupakan bilangan sakral yang merata di segala kepercayaan di dunia.
Islam Kultural
Sebagai bentuk akulturasi budaya, Shalawat Terebangan di Cinunuk tidak terlepas dengan konteks Islam kultural. Islam kultural dipandang sebagai model pendekatan dakwah islam yang memelihara budaya lokal masyarakat setempat, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras, merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya (Aqil Siradj dalam M. Romli, 2016: 17).
Masyarakat Cinunuk sebagai masyarakat Sunda yang egaliter, mampu membuka diri untuk menerima paham kepercayaan baru yang sesuai dengan pemahamannya. Agama Islam begitu mudah diterima oleh orang Sunda karena mempunyai karakter kesederhanaan dalam ajarannya. Dalam segi muamalah, terutama akhlak agama Islam sangat sesuai dengan jiwa orang Sunda yang dinamis dan feminis. Dalam pemahaman keTuhanan, konsep Tuhan (Hiyang) dalam Agama Sunda adalah kepercayaan terhadap sesuatu yang gaib yang terbentuk dengan sendirinya, tetapi diyakini keadaannya, tunggal (bukan jamak), dan menguasai seluruh alam (Ekadjati, 2005: 177).
Konsep keTuhanan orang Sunda yang monoteis itu selaras dengan konsep keTuhanan dalam Agama Islam yang mempercayai bahwa Tuhan itu Esa (Tunggal). Oleh karena itu, ketika orang Sunda membentuk jati dirinya bersamaan dengan proses islamisasi, Agama Islam telah menjadi bagian dari kebudayaan Sunda yang terwujud secara tidak sadar menjadi identitas mereka.
Dalam konteks Islam kultural, Shalawat Terebangan erat kaitannya dengan upacara memperingati hari lahir dan hari wafatnya Nabi Muhammad SAW. Ritual Shalawat Terebangan juga disinyalir sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur yang telah berjasa dalam penyebaran agama Islam di Cinunuk.
Kesimpulan
Ritual Shalawatan Terebangan merupakan kegiatan dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus mengenang tokoh yang mempunyai andil besar dalam penyebaran agama Islam di wilayah Cinunuk khususnya.
Shalawat Terebangan yang kini telah menjadi identitas bagi masyarakat Cinunuk, merupakan hasil bentuk dakwah Islam secara kultural.
Dakwa secara kultural itu tampak dalam setiap unsur yang keseluruhannya mewujud dalam ritual Shalawat Terebangan. Seni tradisi, teks kitab suci, shalawat atas Nabi SAW, dan kepercayaan primordial bersatu padu tanpa kehilangan makna utamanya.
Dari ritual Shalawat Terebangan, kita diajarkan bahwa dakwah Islam kultural melalui seni dan tradisi sengaja dipilih untuk mengakomodasikan ajaran yang berasal dari Tuhan dengan aktivitas kebudayaan manusia tanpa harus menggeser identitas atau menghilangkan jati diri budaya masing-masing. Dengan demikian, Islam kultural bukanlah suatu usaha untuk memunculkan benturan kultural, tetapi sebaliknya malah untuk menjaga agar budaya setempat tidak punah.
Rudi Sirojudin Abas, peneliti makam keramat Pangeran Papak Cinunuk Wanaraja-Garut. Hasil penelitian dapat dilihat pada tesis “Religiusitas Masyarakat Cinunuk Garut dalam Struktur Ritual Mulud: Pascasarjana ISBI Bandung, 2019.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Rabiul Awal, Momentum Hidupkan Sunah Nabi Muhammad Saw
2
Innalillahi, Ulama Pejuang Desa dari Cianjur Selatan Wafat, Sang Anak Ungkap Kiprah Perjuangannya
3
Peringati 120 Tahun, Ponpes Suryalaya Teguhkan Peran untuk Agama dan Negara
4
Bahas Jam Masuk Sekolah dan Rombel 50 Siswa, Ini Hasil Bahtsul Masail LBMNU Jabar
5
Jejak Gembala
6
Pendaftaran Anggota Baznas 2025–2030 Resmi Dibuka, Daftar di Sini
Terkini
Lihat Semua