• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Jumat, 19 April 2024

Hikmah

KOLOM BUYA HUSEIN

Saat Gus Dur Tinggalkan Istana

Saat Gus Dur Tinggalkan Istana
Saat Gus Dur Tinggalkan Istana
Saat Gus Dur Tinggalkan Istana

“Bila kalian menginginkan kebahagiaan, carilah kedamaian”.


Bila musim Haul Gus Dur tiba, ingatanku tentang Gus Dur meninggalkan istana menyembul lagi bersama dengan sejuta kenangan yang lain bersama beliau.


Minggu 25 Juli 2001 pagi-pagi sekali aku berangkat dari rumah menuju Jakarta, setelah mendengar kabar bahwa Presiden Gus Dur akan meninggalkan istana untuk selanjutnya terbang ke luar negeri (Amerika) untuk berobat. Manakala tiba di stasiun Gambir aku langsung menuju istana Negara, tempat tinggal Gus Dur dan keluarganya selama menjadi Presiden. Aku acap datang ke sana sebelumnya jika diperlukan. Beberapa kali aku menginap di kamar di Istana Merdeka dan mengaji kitab kuning di sana.


Nah. Di pintu masuk aku melihat sudah banyak orang, teman-teman dan para pecinta Gus Dur, yang antri masuk ke istana. Akupun ikut antri. Begitu tiba di teras aku langsung memasuki kamar tidur Gus Dur. Di situ aku menemui Ibu Sinta sedang duduk di atas tempat tidur, dengan dandanan yang sudah rapi dan siap berangkat. Aku menyalami dan mendoakan kesehatannya, lalu keluar lagi. Di kamar itu aku sempat melihat kardus-kardus besar yang sudah dikemas rapih. Aku tak bertanya apa isinya.


Gus Dur di ruang lain sedang bincang dengan adiknya, Dr. Umar dan yang lain, aku tak tahu siapa saja. Di luar kamar, telah berkumpul para sahabat dan para pegawai istana. Mereka berdiri dan berbaris melingkar. Wajah-wajah mereka tampak lesu. Mataku dan mata mereka mengembang air dan tanpa terasa menetes satu-satu.


Istana bagai banjir air mata. Gus Dur dan ibu keluar, lalu menyalami mereka satu-satu. Setiap orang mencium tangannya dengan dada yang berdegup. Aku menyalaminya. Sambil tangan masih saling menggenggam, Gus Dur seakan-akan mengatakan kepadaku :


“Aku akan turun dari tahta ini dan meninggalkan istana ini karena keberadaanku di sini menimbulkan perpecahan bangsa. Aku bersedia tidak memiliki dunia ini, bila kalian menginginkannya, karena hatiku luas, seluas samudera, dan aku yakin bahwa Tuhan akan menunjukkan kebaikan dan memberikan kebahagiaan kepadaku. Aku katakan kepadamu : “bila kalian menginginkan kebahagiaan, carilah kedamaian”.


Lalu Gus Dur meninggalkan kami menuju mobil sedan. Aku melihat dari belakang, mobil itu tak lagi berplat merah nomor RI 1.


Selamat Jalan Gus Dur. Kami akan selalu mencintaimu dan merindukanmu. Tanganku secara spontan terangkat dan melambai-lambai lalu jatuh, lunglai, tak berdaya.


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU


Hikmah Terbaru