Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Puisi untuk Gus Dur

Puisi untuk Gus Dur
Puisi untuk Gus Dur
Puisi untuk Gus Dur

 Haul V Gus Dur, 27 Desember 2014

فِى يَومِ وَفَاةِ Gus Dur قُلْتُ لَهُمْ :
كَيْفَ لَا يَطِيرُ البُلْبُلْ
وَيُمَزِّقُ اَلْفَ حِجَابٍ
عِنْدَمَا نَادَاهُ الْحَبِيْبُ : إِرْجِعِى


Pada hari Gus Dur wafat, aku katakan kepada mereka :
“Mana mungkin Bulbul tak terbang pulang,
Merobek seribu tirai penghalang
Ketika diseru sang Kekasih: “Irji’i”.
Pulanglah ke dalam pelukan-Ku


يَا مَنْ أَنْتَ فِى سَاعَةِ الْاَلَمِ رَاحَةٌ فِى نَفْسِى
يَا مَنْ أَنْتَ فِى مَرَارَةِ الْفَقْرِ كَنْزٌ لِرُوحِى
يَا مَنْ أَنْتَ فِى ظُلْمَةِ الْجَهْلِ نُورٌ فِى عَقْلِى


Duhai dikau, yang ketika aku dirundung duka-nestapa
Adalah Pelipur jiwaku
Duhai, dikau, yang ketika aku dihimpit pahitnya kepapaan
Adalah perbendaharaan ruhku
​​​​​​​Duhai dikau, yang ketika aku ditelikung kegelapan
Adalah Cahaya akalku


مَا مَضَى فَاتَ وَالْمُؤَمَّلُ غَيْبٌ
وَلَكَ السَّاعَةُ الَّتِى أَنْتَ فِيهَا
وَلَنْ نَسْمَع الْبُلْبُل تُغَرِّدُ حُلْواً
يَحْكِىى سِيرَتَهُ وَغَرَابَتَهُ


Kemarin telah lewat
Dan harapan adalah kegaiban
Engkau kini sudah di sana
Dan aku tak kan lagi mendengar
Kicau merdu Bulbul
Bercerita pengembaraan dan keasingannya​​​​​​​


هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ
لَا يَأْتِى الزَّمَانُ بِمِثْلِهِ
إِنَّ الزَّمَانَ بِمِثْلِهِ لَبَخِيلُ


Alangkah jauhnya, O, alangkah jauhnya
Hari ini tak lagi seperti kemarin
Betapa pelitnya zaman
Memberi hari ini seperti hari kemarin


مَضَى الزَّمَانُ فَكُلُّ فَانٍ ذَاهِبٌ
إِلَّا جَمِيلَ الذِّكْرِ فَهُو الْبَاقِى


Zaman telah pergi
Segala yang tak abadi hilang lenyap
Hanya sebutan yang indahlah​​​​​​​
yang terus mengalir abadi


طُوبَى لِلْمُخْلِصِيْنَ الَّذِيْنَ إِذَا حَضَرُوا لَمْ يُعْرَفُوا وَإذَا غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا
أُولَئِكَ مَصَابِيْحُ الْهُدَى تَنْجَلِى بِهِمْ كُلُّ فِتْنَةٍ ظَلْمَآء
وانت يا حبيبى غوس دور منهم


Aduhai, betapa damai jiwa-jiwa yang tulus.
ketika hadir tak dikenal,
ketika pergi dicari-cari
mereka adalah kandil-kandil
yang bersinar cemerlang
berkat mereka
wajah-wajah buram-kusam-masam
tampak benderang
Dan engkau, O. Rinduku, Gus Dur,
Adalah satu dari mereka


يَا حَبِيبَ الرُّوح
قُلُوبُ وِدَادِكُمْ تَشْتَاُق
وَاِلَى لَذِيذِ لِقَآءِكُمْ تَرْتَاحُ
يُبَلَّغُونَ السَّلَامَ عَلَيكُمُ
وَيَرْجُونَ رَحْمَةَ رَبِّكُمُ


Duhai kekasih ruhku
Para pencintamu merinduimu
Kelezatan berjumpamu
Menitipkan rasa damai
Mereka menyampaikan salam untukmu
Dan mengharap rengkuhan Kasih Tuhan bagimu


Gus Dur menjawab :


يَا مَنْ تَبْحَثُ عَنْ مَرْقَدِنَا
قَبْرُنَا هَذَا فِى صُدُورِ العَارِفِينَ
وَ فى قُلُوبِ الْمَجْرُوحِين


Duhai kalian yang mencari tempat tidurku
O, lihatlah, aku di dalam palung jiwa para bijakbestari
Dan mereka yang hatinya terluka


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×