Nasional

Rais Syuriah PBNU Tegaskan Pesantren Pusat Pembentukan Akhlak dan Karakter Rahmatan Lil ‘Alamin

Ahad, 31 Agustus 2025 | 10:18 WIB

Rais Syuriah PBNU Tegaskan Pesantren Pusat Pembentukan Akhlak dan Karakter Rahmatan Lil ‘Alamin

Rais Syuriah PBNU KH Muh Musthofa Aqiel Siroj saat memberikan Mauidzoh Hasanah di Haul Akbar ke-10 KH Zezen Zainal Abidin BAzul Asyhab di Pondok Pesantren Azzainiyyah Kabupaten Sukabumi. (Foto: NU Online Jabar/Dani Rukmana).

Kabupaten Sukabumi, NU Online Jabar
Pesantren merupakan lembaga yang meniru sekaligus meneruskan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut disampaikan oleh Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muh Musthofa Aqiel Siroj pada puncak rangkaian Haul Akbar ke-10 KH Zezen ZA Bazul Asyhab yang digelar di Pondok Pesantren Azzainiyyah, Nagrog Sinar Barokah, Kabupaten Sukabumi pada Rabu (27/8/2025) malam.


Dalam taushiyahnya, KH Musthofa Aqiel Siroj mengungkapkan bahwa perjalanan Nabi Muhammad dalam menerima wahyu nubuwah di Gua Hira menjadi landasan bagi model pendidikan pesantren. Nabi mula-mula dididik untuk fokus menimba ilmu sebelum kemudian menerima wahyu risalah yang mengamanahkan tabligh atau menyebarkan ajaran Islam.


“Pesantren mengambil pola itu. Santri dimasukkan ke pesantren untuk menuntut ilmu dengan penuh kesungguhan. Setelah matang dan alim, barulah mereka keluar untuk menablighkan ilmunya kepada masyarakat,” terangnya.


Kiai Musthofa Aqiel menegaskan, kunci keberhasilan pendidikan Nabi Muhammad adalah konsep ma'iyah atau kebersamaan dengan para sahabat. Menurutnya, hal ini diterapkan dalam kehidupan pesantren, di mana seorang kiai selalu membersamai santri 24 jam penuh. “Dengan kebersamaan itu, kiai mengetahui kondisi santri secara menyeluruh, baik yang rajin maupun yang malas, sehingga pendidikan berlangsung secara utuh,” ujarnya.


Lebih lanjut, Kiai yang juga merupakan pengasuh Pesantren KHAS Kempek Cirebon itu juga menekankan bahwa Al-Qur’an memang membutuhkan penjelasan agar dapat diamalkan dengan tepat. Hanya Nabi Muhammad Saw yang mampu memahami kehendak Allah secara sempurna, sehingga Nabi Muhammad Saw disebut manusia paling cerdas. Namun demikian, Allah tidak memuji kepintaran Nabi, melainkan akhlaknya.


“Yang dipuji Allah adalah akhlaknya, wa innaka la’ala khuluqin ‘adziim. Inilah yang diwariskan kepada pesantren, mendidik santri agar berakhlak mulia. Karena itu, kita tidak pernah mendengar pesantren tawuran. Akhlak, termasuk kejujuran, adalah fondasi pendidikan pesantren,” tandasnya.


Sebelum mengisi taushiyah, Kiai Musthofa Aqiel Siroj juga ikut serta meresmikan Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Azzainiyyah bersama LBM dan juga PWNU Jawa Barat. LBM tersebut berada di bawah naungan Pondok Pesantren Azzainiyyah, Nagrog Sinar Barokah, Sukabumi, sebagai wadah penguatan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.


Kiai Musthofa Aqiel menilai, kehadiran LBM Azzainiyyah merupakan langkah strategis untuk menjawab berbagai problem keagamaan kontemporer dengan pendekatan fiqih dan manhaj pesantren. “Saya percaya NU di Sukabumi akan semakin maju di bawah bimbingan KH Aang Abdullah Zein yang konsisten mengembangkan tradisi ilmiah melalui madrasah dan bahtsul masail,” ungkapnya.


Ia yakin bahwa pesantren bukan hanya lembaga pengajaran ilmu, melainkan juga pusat pembentukan akhlak dan karakter rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW.