Hikmah

Ramadhan dan Hikmah dari Peristiwa Perang Badar di Bulan Suci

Rabu, 19 Maret 2025 | 19:00 WIB

Ramadhan dan Hikmah dari Peristiwa Perang Badar di Bulan Suci

Perang Badar (Ilustrasi: AM)

Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat bagi umat Islam untuk membersihkan diri dari sifat-sifat buruk serta meningkatkan keimanan kepada Allah Swt. Selain sebagai bulan penuh ibadah, Ramadhan juga menyimpan banyak peristiwa bersejarah yang penuh hikmah, salah satunya adalah Perang Badar Kubra, yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriah.


Perang Badar merupakan pertempuran antara kaum Muslimin dan kaum Musyrikin Quraisy. Awalnya, Rasulullah Saw. mengutus beberapa sahabat untuk menghadang rombongan kafilah dagang Quraisy yang kembali dari Syam menuju Makkah dengan membawa harta benda berlimpah. Tujuan utamanya bukan untuk berperang, melainkan untuk melindungi kepentingan kaum Muslimin yang sebelumnya mengalami tekanan dan perampasan harta oleh Quraisy.


Namun, kafilah yang dipimpin Abu Sufyan berhasil lolos setelah mengirim utusan ke Quraisy untuk meminta bantuan. Menanggapi permintaan tersebut, kaum Quraisy mengerahkan pasukan besar berjumlah sekitar 1.000 prajurit, dengan 600 di antaranya mengenakan baju besi, 100 pasukan berkuda, dan 700 ekor unta. Mereka bahkan membawa penyanyi yang bertugas menabuh rebana serta menyanyikan lagu-lagu hinaan terhadap pasukan Muslim.


Di sisi lain, kaum Muslimin hanya berjumlah 313 atau 314 orang, sebagian besar dari kalangan Anshar. Mereka hanya memiliki sekitar 70 ekor unta dan dua hingga tiga ekor kuda. Karena keterbatasan jumlah tunggangan, Rasulullah Saw. menggilir para sahabat untuk menaiki unta secara bergantian.


Sebelum memasuki medan perang, Nabi Muhammad Saw. terlebih dahulu meminta pendapat para sahabat, terutama dari kaum Anshar, mengenai kesiapan mereka untuk bertempur. Kaum Muhajirin pun menyampaikan dukungan penuh kepada Rasulullah dengan semangat dan keyakinan yang kuat


Rasulullah Saw. bersama pasukannya lalu berjalan sampai sumber air terdekat dari Badar dan berhenti di sana. Al-Habbab bin Al-Mundzir berkata, "Wahai Rasulullah, apakah ini wahyu yang Allah turunkan kepadamu agar engkau jangan maju dan mundur darinya (berdiam di tempat), atau sekadar pendapat, siasat perang, dan strategi?" Rasulullah Saw. menjawab, "Tidak, ini adalah sekadar pendapat, siasat perang, dan strategi." 


Al-Habbab bin Al-Mundzir memberi masukan agar Nabi saw (beserta pasukan) berjalan ke tempat lain yang lebih strategis dan lebih memungkinkan bagi kaum Muslim untuk memutus sumber mata air Badar dari kaum kafir. Setelah itu, Rasulullah bersama sahabat bangkit menuju tempat yang ditunjukkan Al-Habbab. Mereka bermukim di sana.
Sa'd bin Mu'adz kemudian menyarankan agar didirikan arisy (sejenis tenda) bagi Rasulullah Saw. di belakang barisan pasukan Muslim. Apabila Allah meluhurkan mereka maka hal inilah yang beliau inginkan. Bila tidak, beliau duduk di atas kendaraan dan bertemu dengan orang-orang di Madinah. 


Ketika dua pasukan tempur itu akan bertempur, Rasulullah segera menyiapkan barisan Muslimin sambil mendorong mereka untuk bertempur dan menanamkan kecintaan mati syahid. Beliau bersabda, "Demi Dzat yang diriku ada pada genggaman-Nya, pada hari ini, tidak seorang pun berjuang melawan mereka (kafir Quraisy), lalu ia gugur dalam kondisi sabar dan mengharap rida Allah serta pantang mundur, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga." 


Setelah itu, Rasulullah Saw. kembali ke tenda bersama Abu Bakar, sedang Sa'd bin Mu'adz mengawal beliau dengan pedang terhunus. Rasulullah Saw. mulai berdoa. Di antara doanya, “Ya Allah, aku mengingatkan kekuasaan dan janji-Mu; Ya Allah, jika Engkau binasakan golongan ini (kaum mukmin yang bertempur), Engkau tidak akan disembah di bumi. 


Nabi bersujud begitu lama, sampai Abu Bakar berkata, "Cukup Rasulullah, sungguh Allah akan memenuhi janji-Nya." Tak lama kemudian, pertempuran berjalan dengan panasnya dan berakhir dengan kemenangan di pihak kaum Muslimin. 


Dari pihak musyrikin terbunuh sekitar 70 orang. Di antara korban itu terdapat para pembesar Quraisy, seperti Abu Jahal dan 70 orang lainnya menjadi tawanan perang. Rasulullah memerintahkan untuk menguburkan seluruh prajurit yang gugur, lalu beliau kembali ke Madinah. 


Beberapa sahabat memberi saran perihal tawanan perang Umar menyarankan agar seluruh tawanan perang dibunuh. Sedang Abu Bakar berpendapat supaya mereka dibebaskan dengan membayar tebusan. Rasulullah menerima saran Abu Bakar. Akhirnya, kaum musyrik harus menebus tawanan mereka dengan sejumlah uang.


Hikmah dan Pelajaran 

1) Bulan Puasa Bukan Alasan untuk Bermalas-Malasan 
Sebagaimana dijelaskan di atas, perang Badar Kubra terjadi pada bulan Ramadhan. Artinya, sat itu kondisi umat Muslim sedang dalam keadaan berpuasa. Tetapi hal itu tidak menyurutkan spirit mereka untuk berperang menegakkan agama Allah. Bahkan saat jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding kubu kaum Musyrik. 
 

2) Pentingnya Bermusyawarah 
Saat pasukan Muslim sampai di sumber air terdekat dari Badar dan berhenti di sana, Al-Habbab bin Al-Mundzir mengusulkan strategi kepada Rasulullah. Rasulullah dengan terbuka menerima usulannya. Dari sikap Rasulullah tersebut, kita bisa mengambil pelajaran penting, bahwa musyawarah itu perlu. Kendati beliau seorang nabi sekaligus kepala negara, tetapi tidak membuatnya merasa paling benar. Beliau mau menerima masukan sahabatnya dengan bijak. 
 

3) Selalu Berdoa kepada Allah 
Meskipun Nabi Muhammad saw seorang rasul dan pasti dikabulkan semua doanya, tidak kemudian menjadikan beliau bersikap santai. Beliau tetap berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar diberi kemenangan atas kaum Musyrik. Saking khusyuknya doa Nabi saat perang Badar Kubra, Abu Bakar merasa iba melihat beliau terlalu lama bersujud dalam doanya. 
 

4) Pentingnya Sikap Tawakal 
Nabi Muhammad saw tidak hanya dikenal sebagai tokoh spiritual di tengah umatnya, tetapi juga sebagai komandan yang menguasai betul strategi perang. Dalam perang Badar Kubra, kita melihat bagaimana Nabi mengatur barisan tentara Muslim dan mengobarkan semangat jihad mereka. Tidak hanya itu, selain usaha zahir, beliau juga tetap berdoa dengan sungguh-sungguh agar diberi kemenangan. 
 

Hasilnya, pasukan Muslim memenangkan perang besar itu. Inilah balasan bagi hamba-hamba-Nya yang bertawakal. Mengimbangi amal dengan doa. Beramal tanpa doa adalah sombong, berdoa saja tanpa bertindak sama saja bohong. 
 

5) Tidak Menuntut Balas 
Ketika pasukan Muslim berhasil memenangkan perang, tidak hanya memperoleh harta rampasan perang (ghanimah) saja. Tetapi juga beberapa tawanan perang. Terhadap tawanan itu, Nabi tidak membunuh mereka sebagaimana usul Umar bin al-Khattab. Nabi memilih usulan Abu Bakar agar tawanan jangan dibunuh, melainkan dibebaskan dengan syarat membayar tebusan. 
 

Apa yang Nabi pilih itu adalah bentuk kasih sayang beliau terhadap sesama manusia. Meskipun tawanan itu adalah orang-orang Kafir yang baru saja memerangi kaum Muslim, tapi Nabi tidak menyimpan dendam sedikitpun.