Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Generasi Penerus yang Bertakwa

Generasi Penerus yang Bertakwa
Ilustrasi: NUO.
Ilustrasi: NUO.

Pada setiap pertemuan ilmiah dan diskusi sering dibicarakan mengenai pembentukan generasi penerus yang berkualitas, memiliki dedikasi yang tinggi, disertai dengan iman dan takwa. Berbagai pendapat telah dikemukakan dalam pertemuan-pertemuan itu, ada yang bernada optimis dan ada pula yang pesimis. Yang bernada optimis untuk keberhasilan membentuk generasi penerus itu, biasanya didasarkan pada cara berfikir positif (positif thinking). Sebaliknya mereka yang bernada pesimis biasanya didasari berfikir yang negatif. Hal ini wajar terjadi, karena masalah pembentukan generasi penerus merupakan problematika yang sangat komplek, dan sangat sulit untuk dipecahkan. Masalah itu berkaitan langsung dengan peristiwa masa depan yang belum terjadi pada masa sekarang. 


Manusia muslim diarahkan oleh ajaran agamanya agar memihakkan dirinya pada cara berfikir positif, dengan demikian mereka tidak akan ditimpa oleh kekecewaan dan keputusasaan. Hanya orang yang tidak berimanlah yang berputus asa terhadap kesulitan yang dihadapinya, mereka ingin lari dari permasalahan dan tidak mampu menghadapi kenyataan yang dijumpai dengan ketabahan dan kesabaran. Dengan berpikir positif, seorang manusia akan memiliki harapan masa depan yang baik dan dapat mengatasi segala permasalahan yang dijumpainya dengan sikap ksatria dan menghilangkan secara sungguh-sungguh sikap pengecut.


Dalam al-Qur’an banyak kita jumpai petunjuk yang membimbing umat manusia agar berfikir, berprasangka baik atau khusnudzan, baik dalam menjalin hubungan vertikal, hubungan horizontal atau yang berkaitan dengan hubungan masa depan. Kita diperintahkan selalu berkhusnudzan terhadap sesama manusia dan terhadap alam dengan segala peristiwanya.


۞قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ  


“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al-Zumar, 39: 53)


Pada ayat lain disebutkan, bahwa mereka yang berputus asa terhadap rahmat Allah adalah orang-orang yang keimanannya diragukan, bahkan sebagian dari mereka adalah orang-orang kafir.


وَلَا تَاْيَۡٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ لَا يَاْيَۡٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ  


“...Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".(Q.S. Yusuf, 12: 87).


Terhadap sesama umat manusia kita juga diperintahkan agar senantiasa berprasangka yang baik, karena sesungguhnya berprasangka buruk adalah bagian dari dosa.


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ  


“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantaramu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al-Hujurat, 49: 12).


Keharusan membentuk generasi penerus yang beriman dan bertakwa bagi umat manusia banyak diperintahkan dalam al-Qur’an.


Nabi Ya’qub yang bergelar Israil misalnya, ia sangat mengkhawatirkan lenyapnya generasi penerus yang bertakwa. Karena itu ia berusaha sungguh-sungguh dalam mendidik anaknya dan muridnya agar menjadi generasi yang berkualitas, memiliki kemampuan yang tinggi disertai iman dan takwa. Bahkan pada akhir hayatnya, ketika mencapai usia tua, tulang-tulangnya telah rapuh, rambutnya telah memutih berubah dan tenaganya telah lunglai. Beliau memanggil generasi penerus dan murid-muridnya untuk mewasiatkan kepada mereka agar menjadi penerus yang bertakwa. Perhatikan ayat berikut:


أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِيۖ قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبۡرَٰهِۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗا وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ  


“Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?". Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami Hanya tunduk patuh kepada-Nya".(Q.S. Al-Baqarah, 2:133).


Dr. KH. Zakky Mubarak MA, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×