• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 18 Juni 2024

Hikmah

KOLOM BUYA HUSEIN

Dari Segenggam Garam Menjadi Kebangkrutan Sosial

Dari Segenggam Garam Menjadi Kebangkrutan Sosial
(Iustrasi: NU Online).
(Iustrasi: NU Online).

Di atas kereta api seorang sahabat, teman duduk, bercerita tentang penangkapan demi penangkapan oknum pejabat negara, karena diduga terlibat dalam kasus korupsi. Karena sifatnya yang sangat merusak, korupsi, kata seorang pejabat KPK, dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa atau extraordinary crime oleh berbagai negara, termasuk Indonesia. Ini tentu sangat mencemaskan bagi masa depan bangsa ini. Sahabat tadi berkata lagi : "Dan ini justeru terjadi di negara beragama. Bagaimana sih ya?." 


Aku tak menjawab. Tetapi aku ingat Imam al Ghazali yang menulis buku bagus sekali, berjudul "Al Tibr al Masbuk fi Nashihah al Muluk". Kitab ini aku baca dalam pengajian Ramadhan, bulan puasa, beberapa tahun lalu. Di dalamnya ada sejumlah hikayat, kisah-kisah sejarah yang sangat menarik dan menginspirasi.


Sa'di Shirazi, lahir di kota Shiraz, Iran, 571 H/1194 M. Ayahnya meninggal saat usianya 6 tahun. Ia dikenal sebagai pengembara, melanglang buana selama srkitar 30-40 tahun, hingga usia 70 tahun. Sejumlah wilayah di tiga benua: Asia, Afrika dan Eropa. Pernah tinggal menetap di Baghdad, Damaskus, Basrah dan Mekkah. Ia berbicara dan menulis dalam bahasa Persia dan Arab.


Sa’di Syirazi, 571 H/1194 N, penyair dan sastrawan terkemuks dan pengembara kelahiran  Persia bercerita tentang Raja Anusyirwan. Katanya :  Pada suatu hari diiringi para pembantunya, sang Kaisar yang terkenal adil itu pergi berburu rusa di sebuah hutan. Ketika rusa diperoleh, ia meminta para punggawa menyembelihnya untuk kemudian dimasak.


Bumbu-bumbu kemudian disiapkan. Tetapi ada satu yang ketinggalan : garam. Raja meminta salah seorang di antara mereka mencari segenggam garam di rumah penduduk desa terdekat. Sebelum dia berangkat, sang Raja berkata : “Belilah garam rakyat itu sesuai harganya. Kamu jangan membiasakan diri mengambil milik orang lain di kampungmu dengan mengatasnamakan pejabat kerajaan/negara. Jika kamu melakukannya, maka kampung/desa itu niscaya akan bangkrut dan jatuh dalam kemiskinan yang masif”. 


Si punggawa heran : “tuan raja, apakah yang salah bila aku ambil segenggam garam itu, seberapalah harga barang yang remeh temeh itu?”. Dengan tenang Raja menjawab : “Kezaliman, korupsi dan petaka di dunia ini dimulai dari sesuatu yang kecil. Tetapi orang-orang yang datang kemudian akan mengambilnya dalam kadar dan jumlah lebih besar dari pendahulunya. Dan begitu seterusnya.


Jika Raja mengambil hanya segenggam garam, maka para pejabat di bawahnya akan merampas tanah satu hektar. 


Jika Raja mengambil sebiji apel dari kebun milik orang/rakyat, para pejabat di bawah akan mencabut pohon itu seakar-akarnya. 


Jika Raja membolehkan mengambil lima butir telor. Maka seribu ekor ayam akan menyusul dipanggang si pejabat. 


"Orang zalim memang tak ada yang kekal. Tapi kutukan atas kezaliman akan abadi”. 


Hari ini sepertinya kita di sini sedang berada dalam situasi mencemaskan. Aku merenung sendiri : Khutbah dan pengajian keagamaan yang selalu menyampaikan pesan provetik  : "Ittaqullah. La'allakum Tuflihun", seperti tak terdengar. Kata-kata itu bagai angin terbang dan tanpa jejak. Apa yang salah, mengapa dan bagaimana?. 


Tiba-tiba aku teringat lagi peribahasa lama : "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga". 


Dan : "Tajam ke bawah. Tumpul ke atas". 


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU


Hikmah Terbaru