Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Anak Terlantar dan Keteladanan Pemimpin 

Anak Terlantar dan Keteladanan Pemimpin 
Anak Terlantar dan Keteladanan Pemimpin . (Foto: NUO).
Anak Terlantar dan Keteladanan Pemimpin . (Foto: NUO).

Senin (13/6) kemarin, saya memenuhi undangan Walikota Bandar Lampung, Ibu Eva Dwiana, di kantornya untuk berdiskusi. Saya sempat menunggu kedatangannya di ruang tunggu agak lama, karena setelah rampung mengikuti apel pagi di Polda beliau langsung mengisi acara di salah satu SD di Kota Bandar Lampung. Saya langsung diberitahu oleh ajudan, bahwa Ibu Walikota--biasa dipanggil Bunda Eva--sudah menunggu di ruang kantornya. 


Di lorong lebar saya melihat beberapa perempuan muda mendorong kereta bayi yang kosong juga menuju ruang kerja Ibu Walikota. Memasuki ruang kerjanya yang luas, rapi, bersih dan nyaman itu saya agak terkejut karena melihat Bunda Eva sedang duduk memangku bayi mungil. Suatu pemandangan yang tidak biasa. Segera ia menjelaskan, bahwa bayi perempuan yang dipangkuannya itu sudah sehat pasca operasi bibirnya yang sumbing, pada saatnya nanti juga akan dilakukan operasi berikutnya untuk memperbaiki langit-langit mulutnya. Biaya operasinya dan bahkan biaya hidupnya ditanggung oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung.


Oleh Bunda Eva bayi tersebut diberi nama Novita Cahaya Putri. Saya yang penasaran bertanya, ”Ini anak siapa?” Bertambah kagetnya saya mendengar jawaban Bunda Eva bahwa Novita ini salah satu bayi yang ditemukan di Kota Bandar Lampung dari dua bayi yang dibuang oleh orang tuanya yang tidak berbelaskasihan dan tidak bertanggungjawab. Bayi yang di pangkuan Bunda Eva tersebut semula adalah bayi baru berusia tiga yang ditemukan di dekat mimbar Masjid Nurul Iman, Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung. Bayi Novita tersebut ditemukan pada November 2021. Sebelumnya pada Agustus 2021 juga ditemukan bayi berbungkus jaket yang telah dikerumuni semut di pinggir jembatan Way Awi Gedong Air, Kota Bandar Lampung. 


Saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, selain mendapatkan informasi yang valid, bahwa kedua bayi yang dicampakkan oleh orang tuanya itu kini ditanggung segala kebutuhannya dan diperhatikan perkembangannya oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung. Tentu kita harus ikut bersyukur dan mengapresiasi amal baik dari Bunda Eva Dwiana, selaku Walikota Bandar Lampung. Sebab, ”fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” yang tertera dalam Pasal 34 ayat (1) itu kini bukan sekedar teks tanpa makna dalam konstitusi kita, tetapi menyata telah diteladankan oleh Bunda Eva. 


Kita yakin, sikap bijak yang dilakukan oleh Walikota Bandar Lampung tersebut bukan sekedar untuk menjalankan bunyi pasal tersebut, melainkan lebih dari itu, yakni melaksanakan amanat agama dan kemanusiaan. Kita sebagai rakyat patut berbangga jika para pemimpin pemerintahan memprioritaskan rasa kasih sayang dalam melaksanakan amanah yang hanya untuk sementara diembannya. Pemimpin terbaik ialah setiap mereka yang memiliki rasa kasih sayang, sebagaimana seorang ibu yang dianugerahi anak lalu ia merawatnya dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab.


Pemimpin yang sesungguhnya bukan seperti orang tua yang membuang atau mencampakkan anak bayinya, anugerah  dan amanah Tuhan, yang kelak pasti akan dimintai pertangunganjawabnya.


KH Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriah PBNU 2010-2021

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×