Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Buya Syafii Maarif di Mata Aktivis Perempuan

Buya Syafii Maarif di Mata Aktivis Perempuan
Foto: M Fahmi.
Foto: M Fahmi.

Prof Dr. H Ahmad Syafii Maarif atau akrab kita sebut Buya Syafii Maarif adalah tokoh fenomenal di Indonesia. Pikiran-pikirannya dahsyat dan dikenal berani menerobos kejumudan banyak pakem sosial, politik, agama, hingga budaya yang berorientasi sempti, fanatisme buta, serta memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. 


Itulah megapa banyak kalangan yang menyandingkan pikiran-pikiran kebangsaan Buya seperti Gus Dur toleran, pluralis, hingga anti politik identitas akibat kurang lenturnya memahami akar persoalan.


Karakter Buya demikian tentu karena jiwa raganya semata-mata demi mengutamakan keutuhan bangsa. Buya adalah tokoh kelahiran Sumatera Barat yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah yang memiliki corak khusus dalam memberikan kontribusi keagamaan, kebangsaan, dan kemasyarakatan. Karena itu, Maarif institute yang didirikannya adalah pengejawantahan bagaimana sejatinya Buya berperan serta dalam ikut memajukan dan mencerdaskan.


Dalam konteks politik, Buya secara nyata menghadirkan politik akal sehat, yakni politik yang mesti hadir sesuai falsafah tujuannya dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. 


Dalam bidang sosial, agama, dan kebudayaan, Buya sangat tegas berprinsip memadukan ajaran-ajaran Islam yang penuh cinta kasih, melestarikan khazanah budaya nusantara, serta ikut merawat nilai-nilai sosial yang telah lama berkembang dan menjadi identitas kebangsaan dan keindonesiaan kita.


Bagaimana pandangan Buya untuk urusan kesetaraan gender?


Sebenarnya tidak terlalu sulit melihatnya. Sekurang-kurangnya, ada dua hal yang dapat menjadi tolak ukur. Pertama, pandangan Buya mengenai keberpihakan terhadap isu gender dan pemajuan harkat martabat perempuan. Kedua, pandangan aktivis perempuan dalam melihat jejak rekam Buya, aktualisasi kerja-kerja aktivisme bersama, hingga keterlibatan langsung para aktifis perempuan dengan Buya dalam mewujudkan misi dan pikiran-pikiran keadilan gendernya.


Keberpihakan Buya terhadap kesetaraan dan keadilan gender, menurut saya, tidak perlu diragukan lagi. Buku-buku karya beliau menegaskan hal itu. 


Misalnya, bukunya yang berjudul Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan menegaskan pikiran beliau tentang esensi kesetaraan kedudukan dan hak-hak perempuan dalam islam. Semua orang mengenal Buya sebagai tokoh nasional yang mengedepankan humanisme dan nasionalisme. Dalam konteks humanisme, pemikiran dan kepedulian Buya terhadap keadilan gender tidak terbantahkan. Bahkan, Buya menggarisbawahi bahwa faktor keluarga dan pendidikan adalah dua hal yang sangat esensial dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender.


Pemikiran Buya mengenai perempuan di dunia politik juga tidak ada yang samar-samar. Bagi Buya, perempuan memiliki hak yang sama menjadi pemimpin politik, sepanjang kemampuannya prima, bermoral, dan mendapat izin suami. Ini tentu menggembirakan para aktivis perempuan, sebab keberpihakan beliau konsisten dalam mendorong cita-cita luhur bangsa sesuai rel konstitusi. Pikira-pikiran Buya ini terlihat jika menelusuri buku beliau tersebut, serta sebuah otobiografinya berjudul Titik-Titik Kisar di Perjalananku: Autobiografi Ahmad Syafii Maarif. Pikiran dan tulisan-tulisannya memang tidak mengarah pada isu-isu gender secara spesifik. Namun, secara jelas tersirat bahwa sikapnya yang mendukung perempuan di dunia politik, anti kekerasan terhadap perempuan, juga tidak poligami, menjadi bukti nyata bagaimana memahami sikap Buya secara utuh mengenai gender.


Lalu, bagaimana pandangan aktivis perempuan melihat Buya?


Sejauh pengetahuan saya, hampir mayoritas aktivis perempuan menaruh sikap hormat yang tinggi terhadap peran, pemikiran, serta keterlibatan Buya membangun bangsa selama ini. Penghormatan dan penghargaan aktivis perempuan ini tentu dilatarbelakangi prinsip humanisme dan keindonesiaan Buya yang sangat kuat.


Sebagai pimpinan organisasi perempuan muda di lingkungan NU, Fatayat NU, saya mengenal Buya sebagai tokoh Muhammadiyah yang sangat dekat dengan NU, dengan Muslimat NU, juga Fatayat NU. Kedekatan ini sangatlah istimewa, sebab Buya melihat Muhammadiyah dan NU sama-sama organisasi keagamaan dan kemasyarakatan besar di Indonesia yang harus dapat menjadi prototipe kerukunan umat, kebersamaa, saling hormat, dan saling dukung dalam menghadirkan keberpihakan terhadap banyak isu sosial-kebangsaan.


Fatayat NU sendiri di daerah-daerah banyak bekerja sama denngan Maarif Institute menjalin kegiatan bersama, menyikapi isu secara  bersama, serta saling sharing informasi dan membangun hubungan yang harmonis. Contoh kecil di Banten, Fatayat NU dan Maarif Institute saling sepakat bahwa untuk menekan angka perceraian di Banten yang tergolong tinggi, urgensi kesehatan reproduksi bagi perempuan dan anak, serta penguatan ketahanan keluarga, adalah solusi keumatan yang harus terus didorong bersama.


Tentu, masih banyak hal di antara contoh-contoh sederhana yang meneguhkan kuatnya karakter dan jati diri Buya Syafii Maarif di mata aktivis perempuan. Hemat saya, keberadaan Buya di negeri ini serasa menjadi oase penyejuk di tengah makin menguatnya politik identitas yang berangkat dari tafsir sempit teks ayat suci, meletakkan agama hanya sebagai bungkus (bukan substansi), serta makin menonjolnya kehidupan pragmatis di segala lini.


Menginjak 86 tahun Buya Syafii Maarif, bangsa ini butuh mereplikasi sikap-sikap produktif-progresif beliau yang selalu mengedepankan humanitas, mendudukletakan teks dan konteks secara proporsional, serta senantiasa bijak dan meneduhkan.


Sebagai perempuan, kita bangga dengan keberadaan Buya sebagai Bapak Bangsa.


Anggia Ermarini, dilansir dari buku; "Ibu Kemanusiaan: Catatan-catatan Perempuan untuk 86 tahun Buya Syafii Maarif," 

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×