Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kiai Abbas Buntet, Pembaharu Pendidikan Islam dari Pantura (1)

Kiai Abbas Buntet, Pembaharu Pendidikan Islam dari Pantura (1)
KH Abbas Abdul Jamil, Bunten, Cirebon. (NU Online)
KH Abbas Abdul Jamil, Bunten, Cirebon. (NU Online)

Oleh Ahmad Faiz Rofii
Tokoh satu ini mungkin tidak asing di telinga khalayak. Khususnya di wilayah Cirebon. Peran dan pengaruhnya diakui, khususunya di dunia pesantren.
KH Muhammad Abbas bin Abdul Jamil adalah salah satu kiai terkemuka dari daratan pantura. Lahir di Pekalangan Cirebon, 24 Dzulhijjah 1330 H/25 Oktober 1879. Ia adalah generasi keempat keturunan Mbah Muqoyyim, pendiri Pondok Buntet Pesantren dan Mufti Keraton Cirebon.
Sejak kecil, ia dibesarkan dalam lingkungan pesantren di bawah asuhan ayahnya yakni KH Abdul Jamil. Semasa muda, Kiai Abbas menghabiskan waktunya sebagai santri Kelana. Dari mulai pesantren Jatisari, Sukunsari (Cirebon), kemudian dilanjutkan di pesantren Giren (Tegal) hingga di pesantren Tebuireng di bawah asuhan KH M. Hasyim Asy'ari.

Dikisahkan sebelum Kiai Abbas mengaji di Tebuireng, bahwa saat itu ayahnya hendak pergi haji ke Tanah Suci menggunakan perahu. Kemudian ia bertemu dengan salah satu pemuda alim bernama Hasyim Asy’ari. 

"Gus sampean ini sangat alim. Jangan lama-lama yah mondok di Mekkahnya. Kalau nanti pulang, cepat mendirikan pondok dan mengajar ngaji." Kira-kira begitu nasehat Kiai Abdul Jamil.

"Memang ada yang mau ngaji sama saya kiai?" tanya Gus Hasyim.

"Tentu ada, nanti anak saya yang akan jadi santri pertamamu, Gus,” jawab Kiai Abdul Jamil.

Peristiwa yang diceritakan dari mulut ke mulut di Buntet Pesantren itu memang benar adanya. Ketika Kiai Hasyim mendirikan Pesantren Tebuireng, santri angkatan pertamanya adalah Abbas dan adiknya Anas. Tentu Abbas tidak sendirian. Di Tebuireng juga terdapat sejumlah santri yang kelak menjadi tokoh seperti Abdul Wahab Hasbullah dan Abdul Manaf.

Baca juga: Mbah Muqoyyim Buntet Pesantren, Kiai Kelana Sakti Mandraguna

Selama di Tebuireng, Kiai Abbas tidak hanya mempelajari khazanah ilmu keislaman. Ia kerap membantu Kiai Hasyim mengusir gerombolan preman. Saat itu, Kiai Abbas dikenal sebagai pemuda cerdas, terampil, energik, dan pemberani. Ia mahir dalam ilmu bela diri (kanuragan) dan menjadikannya sebagai kepercayaan Kiai Hasyim untuk menjaga keamanan pesantren.

Setelah merasa cukup, Kiai Abbas kemudian melanjutkan perjalanannya ke Makkah untuk menunaikan haji. Di tanah suci, ia berguru kepada Syaikh Mahfudz Tremas dan tinggal di kediaman Syekh Ahmad Zubaidi. Semasa di Makkah, ia juga mengajar para santri yang berasal dari Indonesia, di antaranya Kiai Kholil Balerante (Palimanan) dan Kiai Sulaiman (Babakan Ciwaringin).

Setelah mendalami berbagai ilmu agama Islam, Kiai Abbas kemudian pulang ke tanah air. Dengan kepulangannya, Pondok Buntet Pesantren mengalami perkembang pesat. Kiai Abbas mengkawinkan antara tradisi lama yang baik dan tradisi baru yang jauh lebih baik. Ia mengembangkan dan mempraktikkan metode pendidikan halaqah dan tidak lupa juga terus mengembangkan metode klasikal/tradisional kitab kuning seperti sorogan, bandongan dan lainnya.

Pada tahun 1928, ia mendirikan Madrasah Abna’ul Wathan. Di Madrasah tersebut, Kiai Abbas mengajarkan sistem pengajian tradisional dan mengajarkan berbagai kitab kontemporer seperi karya Imam Thanthowi yang membahas berbagai ilmu pengetahuan, al-Jauhara yang berkaitan dengan biologi, dan karya Fahrurrozi tentang tafsir filsafat. Ditambah pengajaran ilmu hisab (aritmatika), al-jugrafiyah (geografi), al-lughah al-wathaniyah (bahasa Indonesia), al-thabi’iyyah (ilmu alam), dan tarikh al-wathan (sejarah kebangsaan).

Pengajaran ushul fiqh juga semakin maju hingga saat itu Buntet Pesantren dikenal melahirkan para santri yang ahli dalam ilmu ushul fiqh. Kiai Abbas juga memberi pandangan yang sangat luas tentang perbandingan madzhab yang saat itu di anggap tabu. Peran serta pengaruhnya dalam membangun pendidikan Islam, menjadikan pondok Buntet sebagai rujukan bagi para pengembara ilmu keislaman.

Diceritakan oleh KH Ibrahim Hosen, seorang santri Kiai Abbas dan ayahanda dari Gus Nadirsyah Hosen, 

"Kiai Abbas saat itu dikenal ulama modern yang berpandangan luas. Beliau termasuk ulama yang ahli dalam perbandingan madzhab. Berkat pelajaran yang disampaikan Kiai Abbas, saya tidak merasa canggung ketika harus belajar dan berdialog dengan mahasiswa-mahasiswa di Mesir.”

Hal menarik lagi dari Kiai Abbas adalah ketika ia berpandangan bahwa pesantren digambarkan seperti pasar. Menurutnya, baik pesantren maupun pasar, keduanya harus melayani siapa saja yang datang, tanpa memandang jenis kelamin, asal, usia, status sosial, latar belakang dan lain sebagainya. Di samping itu, jenis kebutuhannya pun tidak sama. Orang datang ke pasar karena butuh beras, daging, terigu, sayuran, cabai, garam dan lainnya. Begitu juga ketika orang datang di pesantren. Ada yang butuh ilmu qiraat, fiqh, tauhid, tafsir dan lainnya. Oleh karenanya, para kiai yang ahli ilmu qira'at, fiqh, tauhid, tafsir bahkan ustadz yang hanya menguasai cara baca alif, ba, ta, semua dibutuhkan pesantren untuk melayani santri yang datang untuk belajar.

Pesan inilah yang kemudian selalu disampaikan pada keluarganya agar ikut serta berperan aktif dalam memajukan pondok Buntet. Para sanak keluarganya melaksanakan apa yang telah disampaikan Kiai Abbas itu melalui pembagian tugas sesuai dengan bidangnya masing-masing hingga saat ini.

Penulis adalah Alumni Pondok Buntet Pesantren Cirebon. Kini aktif sebagai tim media PAC Ansor Gebang.

Terkait

Tokoh Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×