• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 27 Mei 2024

Taushiyah

RAMADHAN

Kultum Ramadhan: Memelihara Keimanan dan Ketakwaan dalam Keadaan Apapun

Kultum Ramadhan: Memelihara Keimanan dan Ketakwaan dalam Keadaan Apapun
Ilustrasi. (Foto: NU Online/freepik)
Ilustrasi. (Foto: NU Online/freepik)

Dalam sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Rasulullah Saw bersabda:


“Kelak pada hari kiamat akan datang seorang laki-laki yang membawa pahala yang sangat besar sebesar gunung-gunung tihamah. Lalu kemudian kata Nabi, “Allah Swt menghancurleburkan pahala-pahala mereka,” mendengar hal itu lalu para sahabat bertanya, “Siapa mereka wahai Rasulullah?” lalu Rasulullah Saw menjawab, “Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka mengambil malam sebagaimana kalian ambil (melaksanakan salat malam) sebagaimana kalian melaksanakan shalat malam. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersendirian atau ketika mereka dalam keadaan sendiri mereka berani untuk melanggar hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt.” 


Hadits ini mengingatkan kepada kita agar kita senantiasa memelihara keimanan senantiasa dan memelihara ketakwaan dalam keadaan kita sendiri. Kita tahu seringkali saat kita sendiri kita merasa terbebas dari pandangan orang lain, saat kita sendiri Kita terbebas dari pendengaran orang lain sehingga seringkali saat kita sendiri kita berani melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt, padahal saat kita bersama orang lain saat kita di tengah-tengah orang lain kita tidak berani melakukannya. Maka pantas Allah Swt memuji orang-orang yang takut kepada Allah di saat ia dalam keadaan sendiri. 


Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an Surat al-Mulk ayat 12:


اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ ۝١٢


innalladzîna yakhsyauna rabbahum bil-ghaibi lahum maghfiratuw wa ajrung kabîr


Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya dengan tanpa melihat-Nya akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.: (QS. Al-Mulk: 12).


Ibadah puasa yang tengah kita jalani saat ini mengajarkan kepada kita agar kita senantiasa beriman dalam keadaan bagaimanapun, kita beriman dalam keadaan kita bersama orang lain, kita beriman saat kita di tengah-tengah orang lain, tapi kita juga beriman saat kita sendiri saat kita berpuasa kita tidak makan kita tidak minum bukan hanya saat di depan orang lain kita tidak makan dan tidak minum bukan hanya di saat di tengah-tengah keluarga atau di tengah-tengah sahabat kita tapi kita juga tidak berani makan minum bahkan saat kita dalam keadaan sendiri saat kita dalam keadaan sembunyi.


Mengapa demikian? karena kita menyadari bahwa Allah Swt senantiasa mengawasi, melihat dan mengetahui apapun yang kita lakukan. Maka ibadah puasa yang kita jalankan saat ini harus mampu membentuk diri kita agar kita mampu beriman dalam setiap keadaan.


Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang munafik yaitu orang yang hanya baik dihadapan banyak orang tetapi kita melakukan hal-hal yang haram melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt saat kita sendiri karena kita menganggap yang kita takutkan adalah penglihatan orang, sedangkan kita lupa bahwa ada Dzat yang Maha mengetahui, Maha mendengar, Maha Melihat yaitu Allah Swt.


Semoga Allah Swt memberi kita kekuatan iman sehingga kita mampu menjalani keimanan bukan hanya saja saat kita di hadapan banyak orang tapi juga kita mampu beriman saat kita sendiri. Wallahu a’am..


Sumber: Youtube NU Online Jabar


Taushiyah Terbaru