Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Khalifah, Raja, dan Kekayaan Duniawi 

Khalifah, Raja, dan Kekayaan Duniawi 
(ilustrasi:: NUO).
(ilustrasi:: NUO).

Adalah Khalifah Harun al-Rasyid, seorang raja yang kekuasaannya sangat luas, meliputi berbagai negara. Ia dijuluki sebagai Amirul Mukminin atau pemimpin bagi setiap orang mukmin. Ia seorang khalifah yang dihormati oleh seluruh dunia Islam pada masa itu. Ia senantiasa berusaha menjadi pemimpin yang baik, berwibawa dan mengayomi rakyatnya.


Kemajuan demi kemajuan terus diraih oleh negara yang dipimpinya, sehingga masa keemasan dari daulat Abasiyah yang dipimpinnya segera terujud. Kemajuan dari berbagi bidang ilmu, pembangunan fisik dan mental, sarana jalan dan gedung-gedung bertingkat tumbuh dengan subur di tepi jalan-jalan protokol. Kemajuan kota Baghdad yang menjadi Ibukota dari Daulat Abasiyah itu termasyhur ke berbagai negara, sehingga menimbulkan kekaguman yang luar biasa.


Pada suatu malam khalifah memanggil pejabat kesayangannya Fadhil al-Barmasid, ia berkata kepadanya: “Bawalah aku pada seorang yang dapat menjelaskan siapa diriku yang sebenarnya. Hatiku mulai jenuh dan lelah karena kemewahan, tahta, penghormatan dan sanjungan orang lain”.


Al-Barmasid membawa khalifah ke rumah seorang ulama sufi bernama Sufyan al-Uyainah. Waktu rombongan tamu penting itu sampai ke rumah yang dituju, Sufyan merasa terkejut. Ia berkata: “Mengapa Amirul Mukminin bersusah-payah datang kemari, padahal bila perlu tinggal memanggil saya ke istana, saya akan segera datang ke sana. “Bukan tipe ulama seperti itu yang kami cari”, jawab Amirul Mukminin. “Ulama tipe penjilat seperti itu datang silih berganti ke istanaku setiap saat”. Selanjutnya Sufyan al-Uyainah mengatakan: “Kalau begitu maksudmu, pergilah ke tempat Fudhail bin Iyadh”.


Al-Uyainah membacakan salah satu ayat al-Qur’an yang dialamatkan kepada khalifahnya:


أَمۡ حَسِبَ ٱلَّذِينَ ٱجۡتَرَحُواْ ٱلسَّئَِّاتِ أَن نَّجۡعَلَهُمۡ كَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَوَآءٗ مَّحۡيَاهُمۡ وَمَمَاتُهُمۡۚ سَآءَ مَا يَحۡكُمُونَ  


“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu”.(Q.S. Al-Jatsiyah, 45: 21).


Khalifah menanggapi ayat yang dibacakan Sufyan: “Sekiranya aku memerlukan nasihat yang baik, ayat itu cukup bagiku”. Rombongan khalifah kemudian pergi menuju rumah Fudhail bin Iyadh. (W. 187 H).


Fudhail bin Iyadh adalah seorang sufi ‘allamah, perjalanan hidupnya sangat tragis dan mengharukan. Pada mulanya ia adalah seorang pemimpin perampok yang terus mengganggu ketentraman hidup di padang pasir. Ia terus mengusik para kafilah yang berlalu di daerah operasinya. Meskipun menjadi pemimpin perampok, Fudhail sebenarnya adalah seorang pria yang berhati lembut, cerdas, kasih pada sesama. Ia tidak mau merampas harta milik kaum wanita atau anak-anak, juga tidak merampas harta milik seorang sampai ludes, tetapi selalu disisakan untuk orang yang dirampasnya. Ia sewaktu-waktu berkhalwat, menyendiri untuk merenungi arti kehidupan yang dijalaninya.


Karena perjalanan hidupnya yang tragis itu tidaklah mengherankan apabila perbuatan-perbuatan yang sangat berlawanan dilakukan olehnya. Perbuatan buruk dan perbuatan baik, tercela dan terpuji bercampur aduk dalam diri Fudhail, pemimpin perampok yang disegani itu. Ia berpakaian layaknya seorang sufi, melakukan shalat dan puasa, dari yang wajib sampai yang sunnah.
Suatu saat kawanan perampok, anak buah Fudhail mencegat dan merampas harta salah satu kafilah yang berlalu di daerahnya. Ketika kawanan perampok itu sedang makan-makan, berpesta menikmati hasil rampokannya, datang kepada mereka anggota kafilah yang dirampok itu dan bertanya: “Siapa pemimpin kalian?”, mereka menjawab, “dia tidak ada di sini”, ia berada dibalik pohon di tepi sungai, sedang melaksanakan shalat”. Tetapi sekarang bukan waktunya shalat”, tanya kafilah itu. “Ia melaksanakan shalat sunnah”. Anggota kafilah itu bertanya lagi: “Mengapa ia tidak ikut makan bersama kalian?”, Ia sedang berpuasa”, “Tapi sekarang bukan bulan Ramadhan”. Dijawab lagi: “Ia sedang berpuasa sunnah”.


Dalam perjalanan hidupnya yang panjang terjadilah kontroversi yang dahsyat pada Fudhail putra Iyadh itu. Kontroversi itu dimulai ketika ia sedang mencegat serombongan kafilah yang akan dirampoknya. Diantara anggota kafilah itu ada yang sedang berjalan sambil melantunkan ayat al-Qur’an dengan suaranya yang sangat merdu. Salah satu ayat yang dibacanya begitu mengena, menembus kalbu Fudhail, bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya:


۞أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ  


 “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”.(Q.S. Al-Hadid, 57:16).


Fudhail kemudian bertaubat dari segala dosa dan kesalahannya serta meninggalkan kehidupannya yang sangat kelabu dan suram itu. Ia berkelana selama bertahun-tahun, berpindah dari satu daerah ke daerah lain, mencari orang yang pernah dirampoknya untuk meminta maaf atas segala kesalahannya dan memohon keridhaannya. Ia menjalani hidup seperti ini dengan pengorbanan yang berat dan kesengsaraan yang tak terperikan, dalam rangka membersihkan dirinya dari pada noda dan dosa. Pimpinan perampok yang bertaubat itu juga meningkatkan segala amal dan ibadahnya, mempertajam kalbunya sehingga menjadi seorang sufi ‘allamah yang sangat terkenal pada masanya.


Ketika Harun al-Rasyid dan rombongannya sampai ke rumah Fudhail ia meminta nasehat kepadanya tentang hakikat kehidupan. Fudhail memberikan nasehat yang sangat mendalam dan mengharukan, membuat mereka yang hadir berlinang air mata. Sebagian dari nasehatnya ia mengutip nasehat dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kata Fudhail: “Wahai Amirul Mukminin, negara yang anda pimpin ini, ibarat keluarga besar. Para orangtua diantara rakyatmu adalah ayahmu. Kaum wanita adalah ibumu dan para remaja adalah anak-anakmu. Perlakukanlah mereka seperti ayahmu, saudaramu dan anakmu sendiri.”


Setelah selesai, khalifah menghadiahkan kepadanya beberapa pundi uang dinar yang terbuat dari emas murni. “Ini adalah uang yang halal, warisan dari ibuku”, ujar khalifah. Dengan tatapan mata yang tajam dan kharisma yang amat berwibawa. Fudhail menolak pemberian itu sambil berkata: “Wahai Amirul Mukminin, nasehat yang telah kuberikan tidak ada gunanya sama sekali, karena engkau mulai lagi dengan perbuatan dosa, melanjutkan ketidak-adilan. Aku mengajakmu menuju keselamatan, tapi engkau menyeretku pada godaan duniawi”. Selanjutnya Fudhail menandaskan: “Kembalikan uang milikmu ini kepada mereka yang berhak, mengapa anda memberikan kepada orang yang tidak membutuhkan”.


“Luar biasa orang ini,” kata khalifah sambil beranjak meninggalkan rumah Fudhail dalam perjalan kembali ke istananya  di Baghdad, khalifah berkata: “Sebenarnya bukanlah aku yang menjadi raja, tetapi Fudhail itulah raja yang sesungguhnya. Keangkuhannya begitu besar, kemewahan dunia amat rendah dalam pandangannya.”


Tepat apa yang dikatakan khalifah ,”Raja yang sesungguhnya adalah mereka yang tidak terpukau oleh kemewah duniawi. Mereka yang selalu tergiur oleh kemewahan dunia dan kelezatan sesaat yang menipu, bukanlah para raja. Mereka adalah budak-budak dunia”.


KH. Zakky Mubarak, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×