Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kiai Marzuki Wahid: Pemetaan Sumber Daya Seimbangkan Kebesaran Jama'ah dan Jam'iyah NU

Kiai Marzuki Wahid: Pemetaan Sumber Daya Seimbangkan Kebesaran Jama'ah dan Jam'iyah NU
Sekretaris Lakpesdam PBNU, KH Marzuki Wahid. (Foto: Amus Mustaqim).
Sekretaris Lakpesdam PBNU, KH Marzuki Wahid. (Foto: Amus Mustaqim).

Sukabumi, NU Online Jabar
Sekretaris Lembaga Kajian dan Pegembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) KH. Marzuki Wahid mengungkapkan perlunya pemetaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik di tubuh NU agar seimbang antara kebesaran Jama'ah dengan jam'iyahnya. Hal tersebut disampaikan saat mengisi orasi kebangsaan secara virtual pada acara Temu Kader Penggerak, Harlah NU ke-99 dan Lakpesdam Award pada Kamis, (17/02).

 

Menurutnya NU itu punya dua kekuatan, pertama Jama'ah dan yang kedua Jam'iyah ibarat dua sisi mata uang, Jama'ah dan Jam'iyah itu berbeda tapi tidak bisa dipisahkan.

 

"Ibarat dua sisi mata uang antara jama'ah dan jam'iyah tidak bisa dipisahkan, karena NU tanpa Jama'ah wujuduha kaadamiha (adanya seperti tidak adanya), sebaliknya ada jama'ah tanpa jam'iyah bisa terjadi seperti Alhaqqu Bilanidzom Yaglibulbathila Binnidzom (kebenaran yang tidak diorganisir akan kalah dengan kebathilan yang tidak diorganisir)," tuturnya.

 

Kiai Marzuki juga menerangkan, NU sebagai jama'ah tidak perlu diragukan, karena islam yang dianut oleh NU adalah ajaran atau amalan Islam yang memperoleh banyak simpati dan respon postifi dari seluruh komponen bangsa, bukan hanya Indonesia tapi bahkan dunia.

 

Menurutnya hal tersebut yang menopang bangunan keindonesiaan itu NU baik dari segi pokitik, ekonomi, budaya maupun sosial  karena merasa cocok dengan NU sesuai dengan kultur keindonesiaan dan peradaban dimasa yang akan datang.

 

Selain itu beliau juga menyampaikan amaliah NU saat ini sudah menjadi tradisi Nasional. Sebab, terlihat banyak amalan NU mulai dipakai oleh orang lain diluar NU.

 

"Diluar NU sudah banyak yang tahlilan, bahkan tahlilan sudah menjadi tradisi Nasional apapun organisasinya, begitu juga dengan Marhabaan dan Sholawatan, bahkan Sholawatan sudah menjadi entertaiment, juga Ziaran kubur sudah menjadi tradisi nasional setipa tanggal 10 November orang banyak melakukan. Maka tidak perlu diragukan perkara amaliah, fikroh dan harokah akan menjadi tren yang cukup dominan diseluruh masyarakat Indonesia," tambahnya.

 

Dalam kesempatan yang sama, Kiai Marzuki menilai ada yang perlu jadi perhatian NU dari sisi jam'iyah karena tidak boleh puas dengan kebesaran jama'ah.

 

"Tapi, lah ini ada tapinya, kita tidak boleh puas pada disi yang ini coba liat NU dari sisi jam'iyah sebagai organiasi ini yang perlu menjadi perhatian semuanya. NU secara jam'iyah tidak seimbang, tidak setimpal dengan NU sebagai jama'ah, mari kita takar ulang NU sebagai jam'iyah, ini yang menurut saya kaderisasi itu sangat penting. Kenapa? Karena jam'iyah tidak mungkin akan bergerak, tidak mungkin akan merespon realitas kontemporer kalau tidak mempunyai kader yang menggerakan, kader yang bisa mengelola, kader yang bisa mengolah, kader yang bisa mendistribusikan, kader yang bisa mengoptimalisasikan potensi sumber daya NU yang besar ini," tegasnya.

 

"Konon, bahwa NU itu terbesar di dunia, tetapi coba kita lihat, berapa kekayaan jam'iyah, berpapa perguruan tinggi, berapa rumah sakit. Pertanyaan-pertanyaan ini yang mestinya dikelola oleh temen-temen penggerak. Kita perlu sumber daya dan sumber data untuk pemetaan mana yang kader dan mana yang bukan kader," tambahnya.

 

Selain itu, kata kiai Marzuki sistem kaderisasi di NU masih perlu penguatan, sekalipun Hasil Muktamar 33 di Jombang istilah kader itu ada 5 jenisnya yaitu kader struktural, fugsional, penggerak, profesional dan kader ulama.

 

"Ada 5 jenis kader yang di maksud dalam sistem kaderisasi NU diantara Kader struktural, media kaderisasinya ada Madrasah Kader Nadlatul Ulama (MKNU), Kader fungsional disesuaikan dengan fungsinya seperti kader Jurnalis, pengorganisasian, pendamping, pendidik dan kader-kader yang lain tidak ada nama khusus tetapi dilakukan oleh berbagai lembaga dan komunitas NU pada fungsinya masing-masing," paparnya. 

 

"Selanjutnya kader Penggerak, media kaderisasinya bernama PKPNU (Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama) Kiai Mun'im Dz, Kiai Adnan dan yang lainnya inilah perintis PKPNU. Kemudian kader profesional kaitannya dengan profesi, seharusnya orang-orang NU yang ingin jadi politisi harus dikader dulu biar aswaja dalam konteks politiknya jelas, harus tau juga peta politik dalam konteks aswaja, aqidah-aqidah aswaja dalam politik itu apa begitupan dalam bidang yang lain karena ini penting untuk mempetakan sumber daya profesi yang ada," tambahnya.

 

"Terakhir yaitu kader ulama nama lembaganya PPWK (Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan) ini yang dimotori oleh Lakpesdam dimandati oleh Pengurus Harian PBNU periode kemarin itu konsen pada PPWK yang nantinya akan mengisi jajaran-jajaran Syuri'ah disetiap level kepengurusan NU, hasil mandat dari Almaghfurlah KH. Sahal Mahfudz bahkan ada sudah ada sejak jaman Gus Dur mengembangkan wawasan keulamaan bagaimana ulama mampu berdialog dengan isu-isu kontemporer, ulama yang melek dengan situasi politik ekonomi global sehingga ulama dalam mengambil kebijakan yang tepat dalam jam'iyah NU," pungkasnya.

 

Pewarta: Amus Mustaqim
Editor: Muhammad Rizqy Fauzi

Terkait

Daerah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×