Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Tiga Jenis Manusia: Basyar, Naas, dan Insan 

Tiga Jenis Manusia: Basyar, Naas, dan Insan 
Ilustrasi. (Foto/NUO)
Ilustrasi. (Foto/NUO)

Oleh Kang Ichsan
Allah menyebut makhluk seperti manusia di dalam Al-Qur’an dengan tiga istilah yakni Basyar, Naas, dan Insan. Tiga istilah ini berbeda karakter dan maqomnya.


1.    Basyar 
Dalam ilmu mantiq, basyar disebut juga hayawanun natiq, yaitu hewan yang bisa bicara. Hewan yang bisa bicara adalah manusia seperti kita ini. 


Basyar adalah manusia yang karakternya sangat dasar. Fitrahnya sebagai manusia yang merasakan berbagai sensasional dan emosional seperti: lapar, haus, marah, benci, suka, kawin, rakus, dendam, nafsu, dan sebagainya. Emosionalnya lebih dominan daripada spiritual dan intelektualnya. 


Itulah sebabnya, Nabi Adam adalah Basyar pertama di muka bumi ini. Fakta yang diungkap arkeolog berhasil menemukan fosil tulang yang mirip seperti struktur tulang manusia modern. Diperkirakan mereka hidup sebelum Nabi Adam, jauh di zaman megalitikum misalnya. 


Al Quran menyebutkan, Allah menciptakan Adam sebagai khalifah atau pengganti di muka bumi. Sebelumnya Allah menciptakan makhluk di bumi yang merusak, dan minim pengetahuan. 


Ketika Allah menciptakan Nabi Adam sebagai Basyar, dan menyuruh malaikat dan iblis untuk sujud kepada Adam. Sujud di sini bisa ragawi seperti sujud di atas tanah kepada Adam. Bisa juga sujud maknawi, yaitu tunduk pada Nabi Adam yang dikaruniai akal untuk berpikir dan menjadi khalifah pengelola kehidupan bumi. 


Jadi, kalau makhluk seperti kita masih dominan emosionalnya daripada spiritual dan intelektualnya, dia adalah basyar, hewan yang bisa bicara. Basyar, lebih dominan sifat hewani.


2.    Naas 
Istilah ini digunakan bagi basyar yang mengoptimalkan intelektualnya. Mereka bersosialisasi, berkarya, membangun peradaban, kebudayaan, keilmuan, dan selalu berpikir memperbaiki tatanan dan nilai nilai kehidupan. 


Surat an-Naas, membahas tentang hal ini, sebagian ayat juga membahas tentang Naas ini. Di dalam surat an-Naas juga dibahas adanya was-was di dalam dadanya, yang dihembuskan oleh sisi negatif. Sehingga Naas terbagi 2: naas yang baik dan naas yang jahat.


Intelektualnya yang terbatas, dan masih terpengaruh emosional terkadang menjerumuskan ke sisi negatif mereka. Naas, bisa dominan sifat malaikat jika banyak intelektualnya banyak digunakan kebaikan. Bisa juga dominan sifat syetan, jika intelektualnya banyak digunakan untuk keburukan.


3.    Insan 
Surat al-Insan khusus membahas ini. Selain surat Aal-Insan, pembahasan makhluk sempurna ini juga tersebar dalam banyak ayat dan surat.


Insan adalah istilah untuk makhluk yang sudah melewati fase basyar dan naas. Insan adalah makhluk yang menyelaraskan dan menyeimbangkan dirinya dari sisi emosional dan intelektual, serta dikawal oleh kemampuan spiritualnya.


Insan adalah manusia yang sudah mencapai pencerahan jiwa, spiritual, dan kesadaran. Selain intelektualnya yang maksimal, hatinya juga optimal, sehingga mampu memberikan pencerahan jiwa kepada orang lain. 


Kelompok Insan, kadang disebut juga dalam berbagai istilah: 


1. Ulul ilmi, yaitu para cendekia/ilmuwan/ulama yang membuat karya dan mencerahkan. Ulum ilmi disebut setelah Allah dan malaikat, qoiman bil qisti.

2. Ulul albab, yaitu manusia yang mendapatkan kecerdasan berlipat ganda. Ulul, artinya pemilik. Albab artinya lapisan-lapisan. Ulul albab menguasasi berbagai ilmu dunia sekaligus ilmu langit. Dengan ketinggian bernagai ilmu yang dimilikinya, Ulul Albab, sanggup menembus pemikiran lintas dimensi, memecahkan banyak masalah, dan punya banyak solusi untuk kehidupan Basyar dan Naas.


​​​​​​​Ulul Albab sudah terkoneksi dengan server ilahi, lebih canggih dari server cloud yang dimiliki Google, Amazon, atau Alibaba. Ulul Albab, bukan sekedar berpikir, tapi juga merasakan. 


Maka, Ulul Albab adalah insan kamil, manusia sempurna yang menyelaraskan emosional, intelektual, dan spiritual untuk menjadi khalifah terbaik di muka bumi. Insan, lebih dominan bahkan bisa melebihi derajat malaikat karena ketaatan, dan ketaqwaannya. 


Demikian, penjelasan singkat ini. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bisshowwab.


Penulis adalah Ketua PC LPNU Kab. Sukabumi

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×