Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

KH M Nuh Addawami: Karakteristik Ahlussunnah wal Jamaah (4)

KH M Nuh Addawami: Karakteristik Ahlussunnah wal Jamaah (4)
Mustasyar PBNU, KH M Nuh Addawami. (Foto: NUJO).
Mustasyar PBNU, KH M Nuh Addawami. (Foto: NUJO).

Al-‘Allamah Asy-syaikh Ahmad Ash-shawi Al-maliki terhadap firman Allah Wajahidu fillah dalam ayat tersebut telah memberikan komentar sebagai berikut: 

 

(قوله وجاهدوا فى الله) اي أعدا ءكم الظا هرية والباطنية. فالظاهرية فرق الضلال والكفر, ومجاهد تها معلومة ويسمى الجهاد الاصغر, والباطنية النفس والهوى والشيطان ومجاهد تها الامتناع من شهواتها شيئا فشيئا ويسمى الجهاد الاكبر كما فى الجديث. ووجه تسميته اكبر أن الاعداء الظاهرية تحضر تارة وتغيب أخرى وتصالح, واذا قتلها الشخص اوقتلته فهو فى الجنة, بخلاف الاعداء البا طنية فلا تغيب اصلا ولا يمكن الصلح معها. واذ قتلت صا حبها وغلبته فهو فى النار. اه حا شية الصاوى على تفسير
 الجلا لين, جزء ٢ صحيفة١١١.

 

“(Firman Allah wajahidu fillah) ialah terhadap musuh-musuh kamu yang yang bersifat dzahir dan yang bersifat batin. Maka yang sifatnya dzahir adalah aliran-aliran sesat dan kufur, menjihadinya telah dimaklumi dan disebut jihad ashghar atau jihad kecil. Dan yang bersifat batin ialah nafsu dan selera dan syaitan. Menjihadinya dengan cara tercegah dari ajakan-ajakanya satu-persatu, dan disebut jihad akbar (jihad paling besar) seperti diterangkan dalam hadits. Adapun wajah menyebutnya jihad akbar karena sesungguhnya musuh-musuh yang sifatnya dzahir suka hadir pada sewaktu-waktu dan ghaib / tidak tampak pada waktu yang lain, dan mau berdamai. Apabila membunuh kepadanya seseorang atau mereka membunuh orang tersebut, maka orang itu ada di jalan surga. Lain halnya dengan musuh-musuh yang sifatnya batin (batiniyah) maka mereka sama sekali tidak pernah ghaib dan tidak mungkin berdamai dengan mereka. Dan apabila mereka membunuh shohibnya dan mengalahkanya maka si shohibnya itu ada di jalan neraka.”
(sekian keterangan dari حاشيه الصاوى جزء ٣, صحيفة١١١). 

 

Sedangkan terhadap firman Allah, حق بجهاد, beliau Ash-shawi mengomentari sebagai berikut: 

 

(قوله حق بجهاده) من إضافة الصفة للموصوف اي جهادا حقا. 

 

“(Firman Allah حق جهاده) termasuk dari mengidhafatkan sifat kepada maushufnya berarti jihad yang hak.” 

 

Dari komentar Asy-Syaikh Ash-Shawi tersebut dipahami: 

 

1.   Bahwa jihad itu terbagi menjadi dua:
-    Jihad hak / jihad yang benar
-    Jihad ghairu hak, jihad batil, jihad yang tidak benar. 

 

2.   Jihad fillah jihad haqqan terbagi dua juga 
-    Jihad ashghar 
-    Jihad akbar 

 

Adapun yang dimaksud dengan perkataan ومجاهدتها معلومة , menjihadinya telah diketahui (معلوم) ialah diketahui seperti yang dikatakan oleh Syaikh Al-‘Allamah Jalaludin As-Suyuti dalam tafsir Aljajalain surat Al-bara ah ayat 73 dan surat At-tahrim ayat 9, yaitu:

 

(يا ايها النبي جا هد الكفار) با السيف (والمنا فقين) با للسان والحجة. 

 

“(Wahai nabi, berjihadlah terhadap orang-orang kafir) dengan pedang / senjata (dan terhadap orang-orang munafiq) dengan lisan dan hujjah.” 

 

Dari keterangan Syaikh Ash-Shawi dan Syaikh Assuyuti tersebut dipahami bahwa berjihad dengan kekuatan senjata / dengan kekerasan adalah jihad terhadap فرق الكفر. Adapun berjihad terhadap فرق الضلالة termasuk terhadap almunafiqiin adalah dengan kelihayan bahasa dan kepandaian ilmu berhujjah sebagaimana firman Allah surat An-Nahl ayat 125, yaitu: 

 

ادعوا الى سبيل ربك بلحكمة والموعظة الحسنة وجاد لهم بالتى هي أحسن, ان ربك هواعلم بمن ضل عن سبيله وهواعلم بالمهتدين 

 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” 

 

Adapun yang dimaksud dengan فقرالكفر disini (yang dijihadi dengan kekerasan senjata) adalah الكفر الحربيون الذين قتلوكم فى الدين واخرجكم من دياركم وظهروا على اخواجكم / orang-orang kafir yang memerangi muslimin karena agama dan mengusir mereka dari negri-negri mereka dan menghasut (orang lain) untuk mengusir mereka dari negri-negri mereka. 

 

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan para penerima risalah Rasulullah saw:

 
  1. صبر
  2. مصا برة
  3. مرابطة
 

Hal ini berhubungan dengan jihad Haqqan Fillah, firman Allah surat Ali ‘imran ayat 200, 

 

يا ايهاالذين امنوا صبروا وصابروا ورابطوا واتقوالله لعلكم تفلحون

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negrimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” 
Al’allamah Muhammad ibnu ‘Alan Ashshidiq Asy-Syafi’i memberikan komentar terhadap ayat ini sebagaimana berikut: 

 

(ياايها الذين امنوااصبروا) على الطاعة والمصائب وعن المعاص (وصابروا) الكفر اي
غا لبهم باالصبرفلايكونوا أشد صبرا منكم (ورابطوا) اي اقيمواعلى الجهاد

 

“(Wahai orang-orang yang beriman sabarlah kamu) atas taat-taat dan musibah-musibah dan dari menjauhi maksiat-maksiat (dan kuatkanlah kesabaranmu) terhadap orang-orang kafir yaitu kamu harus mengalahkan mereka dengan kesabaran, janganlah keadaan mereka lebih bersabar dari pada kamu (dan tetaplah bersiaga) yaitu kamu harus menegakkan diri atas jihad.” 

 

Dari komentar tersebut dipahami bahwa orang-orang beriman diperintah Allah agar bersabar melaksanakan macam-macam taat, bersabar menerima musibah-musibah, dan agar bersambung kesabaran terhadap musuh-musuh, jangan kalah kesabaran oleh mereka dan agar siap siaga dalam rangka berjihad terhadap mereka. 

 

Semoga benar adanya, orang yang mengatakan bahwa isi sabar itu ada empat:

 
  1. اداءالفرائض / menunaikan segera yang difardhukan 
  2. ترك المناهى  / meninggalkan segala yang dilarang 
  3. احتمال الآذى / tabah menanggung berita sambil menunggu pertolongan Allah 
  4. الرضاء باالقضاء / rela dengan keputusan kehendak Allah yang berlaku di makhluk-Nya, tanpa protes. 
 

Patut bagi para penerima risalah Rasulullah saw bersabar melaksanakan segala yang difardhukan Allah kepadanya, meninggalkan segala yang dilarang Allah dari mereka. Patut bagi mereka tabah menanggung penderitaan sambil menunggu pertolongan Allah sepertinya patut bagi mereka ridha dengan segala yang berlaku padanya qadha Allah.

 

KH M Nuh Addawami, Salah seorang Mustasyar PBNU 

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×